Pengaruh SexBebas bagi Kesehatan


Pengaruh Seks Bebas Terhadap Kesehatan

Pekerja-Sex-Komersial-Sobat GenerusIndonesia, masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang disertai dengan berbagai perubahan baik secara fisik, psikis maupun secara sosial. Remaja pada masa peralihan tersebut kemungkinan besar dapat mengalami masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat.
Adanya kemudahan dalam menemukan berbagai macam informasi termasuk informasi yang berkaitan dengan masalah seks, merupakan salah satu faktor yang bisa menjadikan sebagian besar remaja terjebak dalam perilaku seks yang tidak sehat. Berbagai informasi bisa diakses oleh para remaja melalui internet atau majalah yang disajikan baik secara jelas dan secara mentah yaitu hanya mengajarkan cara-cara seks tanpa ada penjelasan mengenai perilaku seks yang sehat dan dampak seks yang berisiko, misalnya penyakit yang diakibatkan oleh perilaku seks yang tidak sehat.
Penelitian menunjukkan bahwa kegiatan seks bebas menempatkan remaja pada tantangan risiko yang berat terhadap berbagai masalah kesehatan reproduksi. Setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan anak, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual (PMS) yang masih dapat disembuhkan. Secara global, 40% dari semua kasus HIV/AIDS terjadi pada kaum muda 15-24 tahun. Perkiraan terakhir adalah setiap hari ada 7000 remaja yang terinfeksi HIV (UNAIDS, 1998). Jumlah kasus HIV di Indonesia yang dilaporkan hingga Maret 2007 mencapai 14.628 orang. Sedangkan kasus AIDS sudah mencapai 8.914 orang, separuh atau 57,4 % dari kasus ini adalah kaum muda yang umurnya 15-29 tahun (Depkes, 2007).
Di Indonesia ada sekitar 16-20% dari remaja yang berkonsultasi telah melakukan hubungan seks pranikah, jumlah kasus ini cenderung naik. Itu bisa dilihat dengan meningkatnya jumlah kasus aborsi di Indonesia yang mencapai 2,3 juta per tahun. Di Jawa tengah ada sekitar 60 ibu yang melakukan aborsi perbulan atau sekitar 720 per tahun. Tragisnya 15-30% dari perilaku aborsi itu adalah remaja yang berstatus siswi SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas), hal ini menunjukkan rentannya remaja terhadap masalah seks bebas (Usi, 2007).
Yang lebih memprihatinkan lagi, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat hasil survei pada 2010 menunjukkan, 51 % remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pranikah. Hasil survei untuk beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja, misalnya saja di Surabaya tercatat 54 %, di Bandung 47 %, dan 52 % di Medan. Hasil penelitian di Yogya dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37 % mengalami kehamilan sebelum menikah.
Dalam melakukan hubungan seksual, sebagian remaja banyak yang tidak memikirkan dampak dari dua kemungkinan yang dapat terjadi yaitu kehamilan yang tidak dikehendaki dan penyakit hubungan seksual. Kehamilan yang tidak dikehendaki dapat terjadi setiap saat sebab mereka biasanya hanya memikirkan kesenangan dan kenikmatan sesaat saja tanpa memikirkan akibatnya yang sangat merugikan remaja putri. Jika dibandingkan dengan remaja putra, remaja putri paling rentan dalam menghadapi masalah kesehatan sistem reproduksinya. Secara anatomis remaja putri lebih mudah terkena infeksi dari luar karena bentuk dan letak organ reproduksinya yang dekat dengan anus. Dari segi fisiologis, remaja putri akan mengalami menstruasi, kehamilan di luar nikah, aborsi, dan perilaku seks di luar nikah yang berisiko terhadap kesehatan reproduksinya. Selain itu dari segi sosial, remaja putri sering mendapatkan perlakuan kekerasan seksual dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Namun perilaku seks bebas remaja dan resiko kesehatan reproduksi remaja ini dapat diminimalisir dengan adanya pendidikan agama dan akhlak, bimbingan orang tua, dan pendidikan seks serta pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi remaja. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja ini dapat ditingkatkan dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang dimulai dari usia remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi di usia remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diharapkan atau kehamilan beresiko tinggi.

Tujuan:

  1. Untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan remaja terhadap sikap perilaku seks bebas.
  2. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi.
  3. Untuk memberikan pandangan tentang dampak negatif dari sikap perilaku seks bebas terhadap kesehatan reproduksi remaja.

Pengertian Seks Bebas

Seks bebas adalah bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan di luar ikatan pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.
Seks bebas bukan hanya dilakukan oleh kaum remaja bahkan yang telah berumah tangga pun sering melakukannya dengan orang yang bukan pasangannya. Biasanya dilakukan dengan alasan mencari variasi seks ataupun sensasi seks untuk mengatasi kejenuhan.

Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja

Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata produksi yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya.Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk reproduksi manusia.
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.
Dari pengertian di atas kesehatan reproduksi remaja dapat diartikan sebagai suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.

Kondisi Remaja Pada Masa Puber

Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat, biasanya disebut dengan pubertas. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan fisik atau biologis, perubahan psikologis, dan perubahan sosial.

Perubahan Fisik

Perubahan fisik dapat diamati secara langsung, seperti pertambahan tinggi dan berat badan yang disebut pertumbuhan dan kematangan seksual sebagai hasil dari perubahan hormonal. Antara remaja putra dan remaja putri kematangan seksualnya terjadi dalam usia yang agak berbeda. Coleman and Hendry (1990) dan Walton (1994) mengatakan bahwa kematangan seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10-13 tahun, sedangkan pada remaja putri terjadi pada usia 9-15 tahun.
Pada remaja putra perubahan itu ditandai oleh perkembangan pada organ seksual mulai dari tumbuhnya rambut kemaluan, perubahan suara, dan juga ejakulasi pertama melalui wet dream atau mimpi basah. Sedangkan pada remaja putrid pubertas ditandai dengan menarche atau menstruasi (haid pertama), perubahan pada dada (mammae), tumbuhnya rambut kemaluan, dan perbesaran panggul. Usia menarche rata-rata bervariasi dengan rentang umur 10 hingga 16 tahun. Semakin cepat seseorang mengalami menarce tentu semakin cepat pula ia memasuki masa reproduksi.

Perubahan Psikologis

Masa remaja sering disebut juga dengan masa pancaroba, masa kritis, dan masa pencarian identitas. Pada masa remaja labilnya emosi erat kaitannya dengan perubahan hormon dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif, bahkan perbuatan nekad. Ketidakstabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin tahu dan dorongan untuk mencari tahu yang sifatnya eksperimen dan eksploratif. Pada masa ini banyak terjadi kenakalan remaja akibat tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka seperti kebutuhan akan prestasi, komformitas, kebutuhan yang berhubungan dengan kehidupan keluarga, kebutuhan akan identitas diri, dan kebutuhan seksual.

Pengaruh Industri Hiburan di Era Globalisasi

Ada berbagai macam hiburan yang tersedia yang mempengaruhi perilaku seks bebas di kalangan remaja, antara lain:

1). Diskotik, Bar dan Pub

Diskotik, bar dan pub merupakan tempat mangkalnya para pecandu minuman keras, tempat berkencannya kupu-kupu malam para lelaki hidung belang, tempat terjadinya peredaran segala macam narkoba seperti ganja, heroin, ekstasi, dan sebagainya. Di tempat inilah terjadi berbagai macam transaksi baik transaksi kencan maupun transaksi narkoba dan minuman keras. Banyak remaja yang mengalami krisis moral mengunjungi tempat-tempat semacam ini untuk mencari hiburan semu dan pelarian dari masalah yang dihadapinya.

2). Televisi

Banyaknya sinetron baik impor maupun lokal yang ditayangkan di televisi sering menggambarkan tentang kebebasan bergaul antara pria dan wanita, keberanian istri pada suami, serta tidak adanya adab seorang anak terhadap orang tua. Adanya film-film impor yang bermotif kekerasan seperti sinema unggulan, sinema prima, layar unggulan yangmenitikberatkan pada tawuran antar geng, persaingan antar mafia, perampokan, pembunuhan sadis, sedikit banyak dapat mempengaruhi jalan pikiran remaja untuk melakukan tindak kriminal.

3). Video

Dewasa ini banyak sekali kaset-kaset video porno yang diproduksi pihak produser luar negeri dan local yang seringkali dikonsumsi oleh kawula muda, sehingga dapat merusak akhlak dan moral mereka.

4). Taman-taman hiburan

Selain memiliki efek positif sebagi tempat rekreasi, taman hiburan bisa juga menimbulkan efek negatif yang membahayakan bila disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Sekarang banyak sekali seks bebas yang dilakukan di taman-taman hiburan, baik oleh pasangan remaja yang dimabuk cinta, PSK (Pekerja Sex Komersial) dan para lelaki hidung belang, waria, maupun oknum-oknum lain yang menyalahgunakan taman-taman hiburan.

5). Bioskop

Akhir-akhir ini industri hiburan bioskop tidak seramai dahulu dikunjungi penonton. Hal ini merupakan akibat dari membanjirnya film-film impor di stasiun-stasiun televisi swasta, yang dahulu film-film tersebut hanya bisa dinikmati di layar bioskop saja. Pengelola media hiburan ini tidak segan-segan memutar film-film porno yang disediakan untuk segala umur, untuk menarik para pengunjung. Mereka hanya melihat segi keuntungannya saja tanpa menghiraukan pengaruh-pengaruh negatif dalam perkembangan jiwa remaja setelah menonton film tersebut.

Dampak Seks Bebas

Ada beberapa dampak perilaku seks bebas remaja pranikah terhadap kesehatan reproduksi, antara lain:

1). Hamil yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy)

Unwanted pregnancy membawa remaja pada dua pilihan, melanjutkan kehamilan atau menggugurkannya. Hamil dan melahirkan dalam usia remaja merupakan salah satu faktor risiko kehamilan yang tidak jarang membawa kematian ibu. Menurut Wibowo (1994) terjadinya perdarahan pada trisemester pertama dan ketiga, anemi dan persalinan kasip merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kehamilan remaja. Selain itu kehamilan di usia muda juga berdampak pada anak yang dikandung, kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR) dan kematian perinatal sering dialami oleh bayi-bayi yang lahir dari ibu usia muda. Menurut Affandi (1995) tingkat kematian anak pada ibu usia muda mencapai 2-3 kali dari kematian anak yang ibunya berusia 20-30 tahun.
Selain melanjutkan kehamilan tidak sedikit pula mereka yang mengalami unwanted pregnancy melakukan aborsi. Lebih kurang 60 % dari 1.000.000 kebutuhan aborsi dilakukan oleh wanita yang tidak menikah termasuk para remaja. Sekira 70-80 % dari angka itu termasuk dalam kategori aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) yang juga merupakan salah satu factor yang menyebabkan kematian ibu.

2). Penyakit Menular Seksual (PMS) – HIV/AIDS

Dampak lain dari perilaku seks bebas remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah tertular PMS termasuk HIV/AIDS. Para remaja seringkali melakukan hubungan seks yang tidak aman dengan kebiasaan dengan berganti-ganti pasangan dan melakukan anal seks menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular PMS/HIV seperti sifilis, gonore, herpes, klamidia, dan AIDS. Dari data yang ada menunjukkan bahwa diantara penderita atau kasus HIV/AIDS 53% berusia antara 15-29 tahun.

3). Psikologis

Dampak lain dari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan dengan kesehatan reproduksi adalah konsekuensi psikologis. Kodrat untuk hamil dan melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat dilematis. Dalam pandangan masyarakat, remaja putri yang hamil merupakan aib keluarga yang melanggar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman social ini tidak jarang meresap dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putri tersebut. Perasaan bingung, cemas, malu, dan bersalah yang dialami relaja setelah mengetahui kehamilannya bercampur dengan perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan yang kadang disertai dengan rasa benci dan marah baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib yang membuat kondisi sehat secara fisik, sosial, dan mental yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi remaja tidak terpenuhi.

Penanggulangan Dampak Seks Bebas

Ada beberapa upaya prefentif yang bisa dilakukan untuk penanggulangan dampak seks bebas, antara lain:

1). Pendidikan agama dan akhlak.

Pendidikan agama wajib ditanamkan sedini mungkin pada anak. Dengan adanya dasar agama yang kuat dan telah tertanam pada diri anak, maka setidaknya dapat menjadi penyaring (filter) dalam kehidupannya. Anak dapat membedakan antara perbuatan yang harus dijalankan dan perbuatan yang harus dihindari.

2). Pendidikan seks dan reproduksi.

Pada umumnya orang menganggap bahwa pendidikan seks hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan kelamin. Hal ini tentunya akan membuat para orangtua merasa khawatir. Untuk itu perlu diluruskan kembali pengertian tentang pendidikan seks. pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya.Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi.
Pendidikan seks merupakan bagian dari pendidikan kesehatan reproduksi sehingga lingkup pendidikan kesehatan reproduksi lebih luasPendidikan kesehatan reproduksi mencakup seluruh proses yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan aspek-aspek yang mempengaruhinya, mulai dari aspek tumbuh kembang hingga hak-hak reproduksi. Sedangkan pendidikan seks lebih difokuskan kepada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan seks.

3). Bimbingan orang tua.

Peranan orang tua merupakan salah satu hal terpenting dalam menyelesaikan permasalahan ini. Seluruh orang tua harus memperhatikan perkembangan anak dan memberikan informasi yang benar tentang masalah seks dan kesehatan reproduksi kepada anak. Orang tua berkewajiban memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak sedini mungkin saat anak sudah mulai beranjak dewasa. Hal ini merupakan salah satu tindakan preventif agar anak tidak terlibat pergaulan bebas dan dampak-dampak negatifnya. Selain itu orang tua juga harus selalu mengawasi pergaulan anaknya. Dengan siapa mereka bergaul dan apa saja yang mereka lakukan di luar rumah. Setidaknya harus ada komunikasi antara anak dengan orang tua setiap saat. Apabila anak menemukan masalah, maka orang tua berkewajiban untuk membantu mencarikan solusinya.

4). Meningkatkan aktivitas remaja ke dalam program yang produktif.

Melatih dan mendidik para remaja yang telah dipilih untuk menjadi anggota suatu organisasi, misalnya Karang Taruna, Karya Ilmiah Remaja, Pusat Informasi dan Konseling Pendidikan Reproduksi Remaja (karena remaja biasanya dapat lebih mudah melakukan komunikasi dan membicarakan masalah tersebut antara sesamanya), dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat.

KESIMPULAN

Dari materi di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • Permasalahan perilaku seks bebas remaja di Indonesia semakin lama semakin memprihatinkan, maka diperlukan penanganan yang serius. Beberapa penelitian yang telah dilakukan beberapa pihak didapatkan data-data pergaulan seks bebas yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini membuktikan bahwa permasalahan tersebut harus segera diminimalisir agar tidak merusak generasi muda di masa yang akan datang.
  • Ada banyak faktor yang memicu terjadinya sex bebas dikalangan remaja, antara lain faktor kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan timur dan perkembangan teknologi yang semakin canggih. Dari faktor-faktor tersebut, semuanya mempunyai dampak negatif dan positif bagi remaja. Jika kita bisa mengendalikannya maka akan memberikan dampak positif, tetapi sebaliknya jika tidak bisa mengendalikan maka akan berdampak negatif.
  • Semua permasalahan yang timbul akibat pengaruh sex bebas di kalangan remaja perlu mendapat perhatian khusus. Generasi muda di Indonesia harus diselamatkan agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang merusak moral mereka. Semuanya akan dapat berjalan dengan baik apabila adanya kerjasama antara pihak orang tua, anak dan lembaga yang terkait.

Saran

Ada beberapa upaya preventif dalam penanggulangan dampak sex bebas di kalangan remaja, antara lain:

  • Orang tua hendaknya menanamkan pendidikan agama dan akhlak sejak anak berusia dini.
  • Guru dan orang tua hendaknya memberikan pendidikan seks yang benar dan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.
  • Adanya komunikasi antara anak dan orang tua serta proteksi orang tua terhadap pergaulan anak sehari-hari dan media yang dikonsumsi anak baik media cetak maupun elektronik.
  • Adanya keterlibatan orang tua yang berkewajiban memberikan bimbingan terhadap perkembangan psikologis anak.
  • Melibatkan remaja ke dalam aktivitas yang positif dan bermanfaat agar mereka tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. (aldinoarwinantosaputro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s