Perubahan Kurikulum Pendidikan


Beban Tas Ransel Siswa SD

Beban-tas-ransel-Siswa-Sekolah-Dasar-(SD)Suatu hari saat sedang mengajar, seorang guru menugaskan setiap anak untuk mencatat tulisan yang sudah ditulis di papan white board. Guru itu memperhatikan ada satu anak laki-laki yang tidak ikut mencatat seperti teman-temannya yang lain.”Kenapa tidak mencatat Kevin?” Anak itu menjawab, “Saya sakit punggung Pak? Kemarin habis ke dokter, katanya jangan banyak digerakin dulu. Tapi nanti saya nyatet kok pak, lihat punya temen.”
Anak itu lalu menjelaskan, bahwa sejak SD dia selalu membawa tas berat, dan dampaknya baru terasa sekarang. “Pas dicek dokter, katanya ada pengapuran. Setelah di-rontgen kata dokter tulangnya sedikit bergeser,”
Bertambahnya beban mata pelajaran ini, selain menambah pusing orangtua saat mendampingi belajar, juga membawa dampak tersiksanya punggung bocah-bocah imuttersebut. Menambah pusing, karena kadang-kadang istilah untuk siswa SMP bahkan dewasa muncul di kelas II SD, seperti: intonasi, kompetensi, dan istilah-istilah berat yang belum bisa dipahami anak.
Begitupun anak kelas IV SD sudah harus belajar amnesti, abolisi, rehabilitasi, syarat jadi presiden, pasal-pasal UUD. Heran saja, kenapa bocah sekecil itu harus tahu sesuatu yang belum saatnya. Bukankah lebih baik mereka mengenal lingkunganterdekatnya lebih dahulu, nanti saat SMP baru masuk ranah tersebut, karena baru pada usia SMA mereka akan mulai menggunakan haknya sebagai warga negara, bisa ikut Pilkada, Pilbup, Pilpres juga PEMILU.
Menyiksa punggung, karena makin banyak buku yang harus dibawa, makin berat beban punggungnya. Bayangkan, satu mata pelajaran, siswa harus membawa 3 buku, 1 buku catatan, 1 LKS, dan 1 buku teks. Kalau sehari 3 atau malah 4 mapel, tinggal hitung berapa biji buku yang harus dibawa. Itu belum tambah buku PR, buku tugas, dan buku ulangan…. kasihan!
Punggung pun akan semakin tersiksa, saat harus membawa pakaian olahraga, seragam PRAMUKA, juga perlengkapan ibadah. Apalagi ketika harus membawa krayon saat pelajaran menggambar. Beberapa anak bertanya setengah prates pada gurunya, kenapa bukunya tebal-tebal, dan dijawab biar mereka (murid-muridnya) pintar. “Memangnya buku-bnku itu bakal dibaca….”
Sekarang ini buku teks untuk SD pun tebal-tebal, contoh: Matematika kelas IV 224 halaman, IPA 200 halaman, LKS 68 halaman, buku tulis antara 38-56 halaman. Entah pertimbangan apa, penerbit maupun pusat perbukuan saat menjaring penulis buku teks-pun mensyaratkan minimal sekian halaman. Nampaknyatak pernah terpikirkan, buku setebal itu apa mungkin dibaca semua. Orang dewasa pun melihat buku-buku tebal sudah merasa enggan untuk membaca, bagaimana dengan bocah kelas I SD, yang mungkin ada yang belum bisa membaca.
Melihat kenyataan tersebut, banyak masyarakat yang mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kembali kurikulum pendidikandi Indonesia. Berdasarkan desakan masyarakat tersebut, disamping untuk menyelaraskan arah dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang mengamanatkan kurikulum pendidikan harus ditinjau ulang untuk penataan sekaligus penyempurnaannya, pemerintah dalam hal ini Kemendikbud berencana melakukan perubahan kurikulum pendidikan yang akan diberlakukan tahun 2013.
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Chairil Anwar Notodiputro mengatakan, pihaknyaterus meninjau kurikulum yang dipakai sejak 2006 ini dan menyimpulkan kurikulum tersebut belum sempurna. Oleh karena itu, kementerian menilai sudah waktunya kurikulum dievaluasi untuk menyesuaikan dengan kondisi saat ini.

Desakan dari masyarakat cukup kencang bahkan cenderung menyalahkan kurikulum sebelumnya. Ada tawuran dan korupsi yang disalahkan kurikulumnya,” kata Chairil di Gedung Kemendikbud, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Evaluasi itu, lanjutnya, dilakukan secara menyeluruh yang sedikitnya mempertimbangkan empat standar pendidikan di dalamnya, yaitu standar kompetensi kelulusan, standar isi, standar proses, dan standar evaluasi. “Kita petakan lulusannya ingin seperti apa, materinya, proses, dan evaluasinya. Semua kita pertimbangkan,” tuturnya.
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, dalam kurikulum pendidikan nasional yang baru, jumlah mata pelajaran akan lebih sedikit sehingga beban peserta didik lebih ringan. Kurikulum pendidikan nasional yang baru akan menekankan pada model pembelajaran tematik dan lebih mengarah pada pendidikan karakter.
Jumlah mata pelajaran yang banyak membebani siswa dan membuat siswa menjadi bosan. Kurikulum baru sedang disusun oleh tim terdiri atas para pakar dan tokoh pendidikan seperti Franz Magnis Suseno dan Juwono Sudarsono,” kata Musliar.
Musliar menjelaskan pendidikan karakter akan dipelajari sejak dini dan lebih banyak dipelajari di Sekolah Dasar. Semakin tinggi jenjangnya pelajaran terkait pendidikan karakter berkurang dan diganti dengan pelajaran keilmuan.
Untuk tingkat SD, hampir dipastikan hanya akan adatujuh mata pelajaran dari 11 mata pelajaran sebelumnya. Apa saja? “Mata pelajaran SD nanti adalah Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika, Kesenian, Pendidikan Jasmani dan Olahraga Kesehatan, serta Pengetahuan Umum,” kata Musliar.
Menurutnya, Kemendikbud memilih mata pelajaran yang lebih mengedepankan pembentukan sikap dan mengandung dasar-dasar mata pelajaran yang memiliki substansi pengembangan wawasan umum.
Khusus untuk mata pelajaran IPAdan IPS, Kemendikbud menilai kedua mata pelajaran itu belum perlu dipisahkan untuk jenjang SD. Diwacanakan, keduanya akan dilebur menjadi satu mata pelajaran bernama Pengetahuan Umum yang memiliki muatan yang terintegrasi dengan jenjang SMP dan SMA.
Sedangkan untuk Bahasa Inggris tidak akan lagi dimuat dalam kurikulum wajib untuk siswa sekolah dasar (SD) yang akan diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun ajaran 2013-2014. Musliar Kasim mengatakan, mata pelajaran ini ditiadakan untuk siswa SD karena untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing.
SD tidak ada pendidikan Bahasa Inggris karena Bahasa Indonesia saja belum ngerti. Sekarang ada anak TK saja les Bahasa Inggris. Kalau bahasa kasarnya, itu “haram” hukumnya. Kasihan anak-anak,” kata Musliar, di Park Hotel, Jakarta, Oktober 2012 lalu. Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.
Dalam kurikulum baru nanti diharapkan paratenaga pendidik sebagai penyampai pesan harus mampu menginspirasi para peserta didiknya. Dalam proses pembangunan pendidikan, peran guru yang kompeten sebagai ujung tombak dan eksekutor penyampai materi tak kalah pentingnya dari kurikulum pendidikan.
Intinya kurikulum itu penting tetapi guru lebih penting sehingga guru jangan hanya mengajar, tetapi harus mampu menjadi inspirator,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti.
Dengan mengusung konsep tematik, kurikulum baru nanti diharapkan mampu memberi ruang gerak yang lebih luas untuk menjadi ladang ekspresi masyarakat sekolah sehingga potensi seluruh peserta didik dapat semakin mencuat.
“Dengan bahan ajar dan cara yang benar, peran inspirator dari guru akan muncul sehingga akan ada lompatan dalam pendidikan kita. Sebaik dan sesempurna apa pun kurikulum pendidikan tak akan memberi dampak signifikan tanpa diimbangi dengan guru yang kompeten,” ujarnya. //** (NUANSA Persada)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s