Jangan Menjejalkan Semua Informasi ke Otak Anak


Jangan Menjejali Otak Anak

guru-mengajar-siswa-SDRencana pemerintah pusat meniadakan atau menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris dari kurikulum pendidikan sekolah dasar (SD), memicu reaksi pro dan kontra. Pihak yang pro menilai hal itu sebuah kebijakan yang tepat agar fokus pada pembudayaan bahasa Indonesia sejak SD. Sementara pihak yang kontra menilai, kebijakan tersebut merupakan langkah mundur lantaran berpotensi melemahkan daya saing Indonesia di percaturan globalisasi yang makin kompetitif.
Pengamat pendidikan dari Ball, Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Pd. dan Drs. I Putu Sarjana, M.Si. secara tegas meminta pemerintah pusat untuk mengkaji ulang rencana tersebut. Menurut kedua pengamat pendidikan ini, penghapusan Bahasa Inggris dari kurikulum SD merupakan langkah mundur karena justru akan mengerdilkan prestasi siswa-siswa Indonesia pada event-event bergengsi internasional yang saat ini prestasinya mulai bangkit. “Apabila kebijakan itu benar-benar diterapkan, menurut saya ini sebuah langkah mundur,” kata Rumawan Salain dan Sarjana. Kendati begitu, Rumawan Salain dan Sarjana mengaku sangat mendukung jika pemerintah pusat benar-benar serius ingin memberikan penguatan terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang menjadi media perekat antar komponen anak bangsa. Namun, komitmen itu tidak harus ditempuh dengan menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris dari kurikulum pendidikan SD.
Saya sangat sepakat jika fokus pembudayaan Bahasa Indonesia wajib digiatkan karena bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas penting bangsa Indonesia. Tetapi, bukan berarti mata pelajaran Bahasa Inggris lantas dihilangkan karena • penguasaan bahasa internasional juga merupakan hal yang wajib dalam pergaulan di era kesejagatan ini. Khusus untuk Bali, penguasaan bahasa Inggris itu juga sangat penting karena Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata terkemuka di dunia. Tanpa menguasai bahasa Inggris, masyarakat Bali akan menjadi penonton di tengah gemerlap pariwisata yang berlangsung di depan mata,” tegas Sarjana.
Masalah bahasa adalah masalah komunikasi. Ketidakmampuan berbahasa dengan baik maka akan mendatangkan komunikasi yang tidak sempurna. Padahal komunikasi merupakan jembatan untuk mengungkapkan emosi dan perasaan.
Sementara, Mayke S. Tedjasaputra, Psikolog dan Playtherapist di Jakarta, berpendapat bahwa bahasa internatioanal memang penting. Akan tetapi orang tua harus tetap ingat bahwa bahasa asing bisa dipelajari kapan pun. Jangan pernah meragukan kemampuan anak, dan Jangan terobsesi terlalu tinggi kepada masa depan anak. Anak menjejaki masa depannya dengan kakinya sendiri, bukan kaki orang tuanya.
Menurut Mayke, saat ini di benak orang tua sudah tertanam pendapat bahwa usia 0-5 tahun adalah Golden Age. Dan pendapat tersebut dikuatkan dengan analogi ‘di usia Golden Age, otak anak seperti spons yang menyerap air’.
Begitu dalamnya informasi tersebut, sampai-sampai orang tua memasukkan apa saja ke dalam otak anaknya. Segala macam informasi dijejalkan, semua hal yang menurut orang tua baik diselip-selipkan, segala jurus mencerdaskan anak dipraktekkan, dan dari ketidak-teraturan itu, otak anak bagaikan gudang obsesi orang tuanya.
Jadi, apakah tidak boleh belajar bahasa asing sejak dini?Tentu saja boleh tapi sebaiknya tidak perlu dievaluasi atau dinilai. Dan sebelum mengajarkan bahasa asing sebaiknya lihat dulu kesiapan anak. Jika anak sudah mulai bertanya tentang arti kata dalam bahasa asing mungkin itulah saat yang tepat untuk mengajarinya.(NUANSA Persada)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s