Restorasi Pendidikan


Restorasi Pendidikan

anak-sekolah-sd-Restorasi-PendidikanJIKA tidak ada perubahan, mulai Januari tahun depan pemerintah akan menyederhanakan kurikulum pendidikan dasar. Perubahan kurikulum merupakan hal yang biasa dilakukan oleh semua negara. China (Sanghai) telah merestorasi pendidikan sejak tahun 1985, sehingga oleh Organisation for Economic Cooperation for Development (OECD) melalui Program for International Student Assessement (PISA) saat ini dinilai menduduki peringkat pertama dalam hal kemampuan baca, hitung dan sains. Sementara itu, Korea Selatan telah mengintegrasikan etos kerja keras (kerja banter) dan pola hidup efisien (mujhid-muzhid) budaya konfusionisme dalam dunia pendidikan telah menghasilkan generasi yang kreatif dan SDM unggul. Demikian juga Finlandia, Canada, Jepang, Singapura, Australia dll secara progresif telah melakukan perubahan kurikulum pendidikannya. Demikian juga, Indonesia telah beberapa kali melakukan perubahan kurikulum. Saat ini pemerintah sedang berupaya menyelesaikan Draft Kurikulum 2013 yang berupaya memberikan bobot pada pendidikan karakter. Bulan Desember diperkirakan selesai dan disosialisasikan kepada publik. Pemerintah dan DPR masih menunggu masukan dan saran dari masyarakat. Secara umum, masyarakat mendukung perubahan kurikulum, dengan harapan memberikan perbaikan masa depan pendidikan kita.
Setidaknyajumlah mata pelajaran dari 10 mata pelajaran menjadi 6 mata pelajaran (Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila, Bahasa Indonesia, Matematika, Olahraga, Seni dan Prakarya). Pendidikan Pramuka akan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak didik, baik melalui intra maupun ekstra kurikuler. Pendidikan pramuka dinilai mampu mengembangkan sikap kepemimpinan, kerjasama, keberanian, solidaritas yang merupakan faktor dominan dalam pembentukan karakter. Beberapa mata pelajaran; ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial akan diintegrasikan dalam pelajaran pokok. Pembelajaran berlangsung secara terintegrasi (integrated learning) dengan Pendekatan Tematis. Misalnya, pada minggu pertama tema tentang pasar; maka dalam belajar pasar dielaborasi Bahasa Indonesia yang berhubungan dengan kegiatan di pasar, sementara itu pelajaran ilmu sosialnya dapat dilakukan melalui pembahasan pengertian pasar, kegunaan dan fungsi pasar, uang sebagai alat pembayaran dll, pada mata pelajaran matemematika siswa dapat diminta untuk melakukan kegiatan langsung kunjungan ke lokasi (field trip) dengan melakukan pembelian dengan sejumlah uang dst. Selanjutnya, siswa dapat menghitung berapa uang yang dibutuhkan untuk membeli barang tertentu dan berapa uang sisa pengembaliannya dst. Melalui pembelajaran tematik, kegiatan belajar tidak terpacu pada kelas yang kaku. Sementara itu, Bahasa Inggris menjadi mata pelejaran pilihan sesuai dengan kemampuan sumberdaya masing-masing sekolah.
Dengan demikian kegiatan belajar-mengajar menjadi menarik dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip belajar, bahwa proses belajar dapat berlangsung jika kondisinya menyenangkan (learning is fun). Makna senang, dapat karena pembawaan gurunya dalam menyampaikan, ataupun materi yang dibawakan menarik bag! anak. Melalui pembelajaran Tematik, diharapkan siswa belajar pengetahuan yang aktual, relevan dan kontekstual. Apa yang dipelajari merupakan hal-hal yang ada disekitarnya, sehingga tidak asing dan abstrak. Sedangkan pendekatan pembelajaran terintegrasi diharapkan siswa mendapatkan ilmu pengetahuan secara menyeluruh (holistik-komprehensif) dan tidak terpisah-pisah (fragmentaris) antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya.
Hal ini merubah dari kebiasaan belajar konvensional yang cenderung monoton dan berlangsung terbatas di ruang kelas atau secara klasikal. Guru seakan menjadi Satu-satunya sumber belajar. Mata pelajaran satu dengan lainnya seakan berdiri sendiri dan tidak ada hubungan antara satu dengan lainnya. Dalam proses kegiatan belajar -mengajar sering berlangsung secara abstrak, anak belajar dengan simbol-simbol, namun tidak memahami arti yang sebenamya. Seakan ilmu pengetahuan hanya ada di buku dan kepala. Anak didik dipaksa untuk menghafalkan konsep-konsep, dan kemudian diujikan. Setiap pertanyaan ujian seakan hanya ada satu jawaban. Pembelajaran model ini tak ubahnya menganggap anak didik seperti mesin fotokopi yang mekanistik. Hal ini mendegradasikan nilai kemanusaannya. Al-hasil, pendidikan kita hanya pengetahuan hanya ada di buku dan kepala. Anak didik dipaksa untuk menghafalkan konsep-konsep, dan kemudian diujikan. Setiap pertanyaan ujian seakan hanya ada satu jawaban. Pembelajaran model ini tak ubahnya menganggap anak didik seperti mesin fotokopi yang mekanistik. Hal ini mendegradasikan nilai kemanusaannya. Al-hasil, pendidikan kita hanya mencetak para sarjana yang kurang kreatif, pintar konsep, namun tidak cerdas dalam memahami problema kehidupan. Padahal hakekat pendidikan semestinya menjadikan . peserta didik menjadi dewasa, mandiri dan mampu menghadapi berbagai permasalahan hidup (problem solver) yang mereka hadapi.
Secara filosofis dan pendapat para pakar pendidikan, proses pendidikan setidaknya harus meliputi tiga ranah atau Tri Sukses ; Pandai ilmu dunia dan agama (kognitif- head), memiliki budi pekerti yang baik (afektif -heart) dan memiliki kemandirian (psikomotorik -hand). Sedangkan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui, UNESCO, merekomendasikan tujuan pendidikan harus mencakup; belajar mengetahui-mengaji (learning to know), belajar melakukan-beramal (learning to do), belajar menjadi dirinya (learning to be), dan belajar hidup bermasa-bersatu-berjamaah (learning to live together).
Akhir-akhir ini timbul kesadaran, bahwa selama ini proses pendidikan kita jauh dari ideal. Pada pendidikan anak usia dini dan dasar pembelajaran terlalu mengedepankan aspek kognitif (heavy kognitif). Anak-anak usia bermain dipaksa belajar hal-hal yang belum waktunya. Sehingga ketika usia perkembangan belajar remaja (SMA-Mahasiswa) mengalami gangguan psikologi; malas belajar, bosan, senang bermain, tawuran dst. Fenomena kenakalan remaja dan mahasiswa yang marak selama ini bisa jadi merupakan salah satu kesalahan dari proses pembelajaran kita selama ini. Sebagai perbandingan, di Inggris, Finlandia, Jerman, dll, yang dianggap pendidikan relatif maju, pendidikan dasar (PAUD, SO, SMP) lebih banyak mengembangkan aspek afektif dan sedikit kognitif, sebaliknya SMA dan Mahasiswa lebih menekankan aspek kognitif-logika. Sehingga banyak menghasilkan ilmuwan yang inovatif.
Langkah inovatif dan berani pemerintah yang akan menyederhanakan kurikulum layak kita apresiasi dan dukung sepenuhnya, sehingga anak-anak kita akan belajar dengan senang dan memiliki pengetahuan (knowladge), keahlian-kemandirian (skill) dan sikap (attitude) yang positif; komunikatif, sensitifitas, empati dan soft skill lainnya yang dikembangkan melalui dimensi afektif mereka. Tentu, untuk mewujudkan cita-cita perubahan tersebut memerlukan konskuensi, baik persiapan para guru yang profesional, berkompetens, terampil dan berkarakter. Sehingga pada akhimya dapat diwujudkan generasi penerus yang pandai, bermoral dan mandiri. Amiin. (Drs.Sarji, SH. MPd.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s