Membangun Bangsa Berkarakter melalui Pendidikan


Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

dr-Ratna-Megawangi

Dr. Ratna Megawangi

Impian Ratna Megawangi untuk memiliki sekolah akhirnya terwujud. Dialah pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter. Melalui yayasan yang didirikannya, ribuan anak-anak dari keluarga tak mampu kini bisa mengenyam pendidikan secara layak. Seperti apa pendidikan holistic berbasis karakter?.

YAYASAN Warisan Nilai Luhur Indonesia (Indonesia Heritage Foundation, atau IHF) didirikan pada tahun 2000 dan kini terus berkembang. Yayasan itu dibangun Ratna Megawangi bersama suaminya, mantan Menteri BUMN Dr. Sofyan Djalil. ”Ketika bangunan baru sudah bertingkat, saya sempat naik ke lantai paling atas. Tak terasa, saya menangis haru. Bangunan itu akhirnya jadi juga,” cerita wanita kelahiran Jakarta pada Agustus 1958 itu.

Untuk tempat belajar, Ratna memanfaatkan bangunan rumah peninggalan orang tuanya di Jalan Raya Jakarta-Bogor Km 31 No 46, Cimanggis, Depok. Bangunan tua dua lantai itu menjadi pusat aktivitas pendidikan. Semua berawal dengan fasilitas seadanya. IHF memulai Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK). Penerapannya dimulai pada TK Karakter, SD Karakter, dan Semai Benih Bangsa (SBB).

SBB merupakan model TK nonformal berbasis masyarakat yang tersebar di berbagai daerah. ”Dulu muridnya cuma lima orang dengan dua guru. Kami memulai dengan biaya operasional sangat minim. Hanya tujuh juta rupiah dan fasilitas terbatas,” ucap peraih PhD (doktor) jurusan pendidikan dari Tufts University, AS itu. Kini IHF bisa memfasilitasi pembangunan lebih dari 1.650 TK. Bukan itu saja. Saat ini lebih dari 150 TK mengadopsi model PHBK dari IHF. Efektivitas model pendidikan ini dalam membangun aspek perkembangan anak secara keseluruhan telah terbukti secara ilmiah.

Dalam filosofi pendidikannya, IHF bertekad mengembangkan aspek potensi manusia. Cakupannya adalah sisi akademik, emosi, sosial budaya, fisik, kreativitas, dan potensi spiritual. Filosofi ini berfokus pada pembentukan karakter dengan cara melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Selama proses belajar tersebut, para siswa diberi banyak tantangan dan diupayakan supaya senang. Jadi, siswa menjadi pribadi yang utuh. Tujuannya, siswa mampu menghadapi dunia yang cepat berubah. Selain itu, muncul kesadaran spiritual bahwa mereka adalah anggota keluarga, sekolah, masyarakat, dan komunitas global.

Lewat Indonesia Heritage Foundation, Ratna Megawangi dan suaminya Dr. Sofyan A. Djalil, bersama teman-temannya menuangkan sebuah idealisme, mimpi dan harapan besar bahwa suatu saat Bangsa Indonesia akan berjaya sebagai bangsa yang berkarakter kuat. Akan tiba saatnya bangsa ini menuai buah dari benih-benih bangsa, yang sejak tahun 2000 sudah mulai disemai di mana-mana, melalui pendidikan holistik berbasis karakter yang digerakkan Yayasan Warisan Luhur Indonesia. Yakni benih-benih bangsa yang berkarakter kuat, benih-benih bangsa yang mempunyai akhlak mulia yang universal sesuai warisan nilai-nilai luhur Indonesia.

Jauh sebelum suaminya, Sofyan A. Djalil, menjadi Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu, nama Ratna Megawangi, Ph.D, kelahiran Jakarta 24 Agustus 1958, sudah menjadi wacana perdebatan dan polemik hangat di media massa nasional. Ratna, penulis buku berjudul “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” tahun 1999, ini sudah produktif menulis buku dan artikel di sejumlah media massa sejak tahun 1994. Ia aktif membuka wacana tentang anak, keluarga, dan perempuan. Kehadiran Ratna dianggap banyak pihak selalu bernada antagonistis terutama oleh pengusung gerakan feminisme bahkan against the stream bagi mainstream yang sedang berkembang.

Buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” selain bernada antitesa, juga against the stream bagi mainstream gerakan feminisme yang sedang gencar memperjuangkan kesetaraan gender. Ratna disitu menyadarkan para pihak bahwa sesungguhnya antara laki-laki dengan perempuan tidaklah bisa dipersama-ratakan. Secara kodrati, genetika, psikis, dan fisik keduanya berbeda. Karenanya perbedaan itu haruslah dipelihara menjadi sebuah perbedaan yang harmoni. Perbedaan yang bisa diperlihatkan dalam pembawaan peran masing-masing yang saling melengkapi. Ratna dalam bukunya menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.

Buku yang mulai ditulis tahun 1997 dan selesai persis seminggu setelah Tragedi Nasional 14 Mei 1998, kemudian diterbitkan tahun 1999 oleh Penerbit Mizan, Bandung, itu memuat berbagai postulat dasar, idiologi, paradigma, dan contoh-contoh tentang kegagalan ide kesamarataan lelaki-perempuan di berbagai negara terutama di negara komunis, berikut beragam pemikiran lain yang memberikan Ratna kesimpulan akhir bahwa lelaki dan perempuan adalah berbeda. Berbeda sehingga tidak bisa disetarakan secara kuantitatif fifty-fifty. Di Singapura, Korea, atau Jepang, demikian pula di negara-negara maju keterwakilan perempuan di lembaga parlemen sekitar 10% saja. Di Indonesia diperjuangkan jauh lebih liberal harus 30% perempuan di DPR, walau yang bisa dicapai masih belasan persen. Ratna menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.

Sudut pandang baru tentang relasi gender yang ditawarkan Ratna melawan arus besar justru pada saat kesetaraan sedang digaungkan oleh para penggagas gerakan feminisme. Seketika hadir buku itu segera menjadi bahan polemik berkepanjangan di media massa. Bahkan tak kurang 14 kali Ratna harus hadir langsung di acara bedah buku di beragam komunitas. Tak heran jika buku itu menjadi buku laris atau best seller yang mengalami beberapa kali cetak ulang. Buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” adalah satu-satunya buku yang memberikan solusi terhadap relasi gender yang lebih harmonis. “Karena memang, di buku itu bab terakhir saya tawarkan solusinya, tak sekadar antagonisme. Tapi, solusinya bagaimana keharmonisan dalam keluarga bisa dibentuk melalui keharmonisan relasi jender,” kata Ratna Megawangi.

Ratna Megawangi adalah ibu dari tiga orang anak yakni Muhammad Rumi lahir tahun 1985, Safitri Mutia lahir di Amerika Serikat tahun 1990, dan Muhammad Lutfi lahir tahun 1998. Ratna sesungguhnya adalah pakar dan dosen ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Ratna Megawangi terlahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Ia lahir di Jakarta, 24 Agustus 1958. Mereka enam bersaudara hidup dan dibesarkan di lingkungan keluarga mapan dan cukup berada. Ayahnya, Drs Harmonie Djaffar berasal dari Banjarmasin, adalah profesional yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi milik swasta asing. Sedangkan ibunya bernama Srie Mulyati, seorang wanita berdarah campuran Jawa dan Sunda.

Tamat sebagai lulusan terbaik IPB Bogor Mei 1982, Ratna tidak tahu kemana akan bekerja selanjutnya. Dia masih belum menemukan talenta atau kesenangan hati yang sesungguhnya. Tawaran atau kesempatan bekerja apa pun jika ada pasti akan diterima tanpa perlu proses seleksi dan pemikiran panjang. Sama persis seperti ketika menjadi mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), Fakultas Pertanian, IPB Bogor di tahun 1978, Ratna dengan mudah masuk menjadi tenaga pengajar di jurusan dan fakultas yang sama di almamaternya itu tahun 1982. Ratna memang amat sangat pragmatis. Tidak terlalu bercita-cita mau menjadi apa. Hidup dijalani begitu saja.//**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s