Kekerasan dari Ruang Keluarga (Pengaruh TV)


Pengaruh TV

TelevisiTelevisi memang bukan kotak Pandora penyebar wabah dan teror di muka bumi ala mitologi Yunani. Tapi, efek televisi, mungkin hanya bisa dikalahkan oleh kotak pandora. Para ilmuwan komunikasi tak melihat televisi sebatasalat menghiburdiri bagi keluarga. Persoalannya menjadi lebih kompleks, dari sekadar tertawa melihat film kartun atau turut mengharu biru seperti kisah sinetron.
Tahukah Anda, televisi pelan tapi pasti mengambil peran guru di sekolah dan orangtua di rumah dalam hal menanamkan nilai dan pembentukan karakter. Percaya atau tidak. Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam penelitiannya menyebut, anak-anak menyaksikan televisi sekitar 5,8 jam sehari. Bila hari Sabtu dan Minggu, kuantitasnya bertambah menjadi 8 jam.
Padahal, tak semua yang ditayangkan televisi bisa memberikan hal yang bermanfaat. Alih-alih pendidikan, yang didapat justru anak-anak kita menjadi agresif, konsumeris, bahkan dewasa sebelum waktunya. Sebab, pada dasarnya industri penyiaran adalah sama halnya industri lainnya, mereka mengejar laba. Bedanya, mereka mengejar laba di frekuensi yang dimiliki publik, yang bisa saja gratisan. Namun untuk membiayai ongkos produksi mereka mengikuti selera pasar.
Selera pasar ini bisa diraba dari lembaga survei yang memberi peringkat suatu acara, semisal AC Nielsen. Bila film – misalnya Panji Tengkorak, yang dipenuhi adegan kekerasan dan pemain berkostum seksi, laris manis. Selalu nangkring di papan atas AC Nielsen, maka stasiun televisi terus memproduksi film atau sinetron sejenis, dengan berbagai varian. Sialnya lagi, selera masyarakat mirip-mirip, sehingga anak-anak kita tercinta tak diberi alternatif yang memadai, untuk nonton film atau tayangan yang sehat.
Imbasnya mudah ditebak. Dalam teori komunikasi, dikenal adanya media exposure atau teori terpaan media. Semakin sering manusia terpapar televisi mereka akan menyerap nilai lalu bertingkah laku seperti yang diajarkan televisi. Sadar atau tidak televisi menjadi semacam trendsetter. Televisi adalah tempat hiperealitas, di mana fakta, khayalan, imajinasi, rayuan, direkonstruksi seolah-olah adalah realitas yang harus dianut dan ditiru dalam kegiatan sehari-hari.
Film-film kekerasan dan sinetron membuat nilai dalam keluarga tergerus sedikit demi sedikit. Kekerasan-kekerasan fisik dalam televisi yang dipadukan dengan kekerasan simbolik dalam bentuk kata, membuat seseorang meyakini televisi adalah kebenaran. Parahnya lagi, di sekolah anak-anak yang terkontaminasi ini, ingin menunjukkan diri mereka sebagai pusat perhatian, karena tidak mau ketinggalan zaman – sebagaimana televisi mendidik mereka.
Akibatnya, anak-anak yang mereka anggap ketinggalan zaman menjadi sasaran empuk perploncoan. Mereka yang ingin unjuk kekuatan pada akhirnya mencari pelampiasan dengan tawuran. Toh, sejatinya, manusia bukanlah khalayak pasif-dalam teori jarum suntik ilmu komunikasi. Manusia sebenarnya bukanlah makhluk yang pasrah menerima pengajaran dari televisi. Sebab pada dasarnya manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah, apa yang menjadi keyakinan mereka benar.
Namun, proses pemilihan dan pemilahan ini, di kognitif atau alam pikiran manusia harus dibekali terlebih dahulu dengan filter atau penyaring. Penyaring inilah yang disebut nilai atau norma, atau juga adab. Norma atau nilai biasanya telah ditanamkan dalam keluarga secara turun temurun, dalam bentuk pelajaran mengenai kejujuran, keadilan, tenggang rasa, saling menyayangi, damai, hinggatoleransi. Sementara, agama memberi landasan yang kuat, dalam bentuk segala kebaikan atau amal saleh berbuah surga di hari kemudian.
Maka itu, anak-anak kita tercinta bisa dijauhkan dari kekerasan sepanjang orangtua terus menanamkan nilai. Anak-anak diberi hikmah untuk memilih dan memilah mana yang balk dari televisi. Walhasil, menjadi sangat penting, bahwa anak-anak harus didampingi saat menonton. Agar mereka tahu mana yang pantas ditiru atau diabaikan, dan mana acara yang pas untuk usia mereka.
Sesibuk apapun orangtua harus mengawasi apa yang disaksikan anak-anak, juga membatasi jam menonton, dengan menggantinya dengan berkomunikasi yang hangat dengan keluarga. Menciptakan berbagai kegiatan positif dalam keluarga, berdiskusi atau memberi problem yang harus dipecahkan oleh mereka.
Di hari libur, anak-anak didorong untuk melakukan kegiatan luar ruangan dengan kawan-kawan mereka. Agar saraf motorik mereka bekerja, hingga mereka menjadi lebih kreatif dan memiliki hubungan manusia yang baik antara satu sama lain. Tidak menjadi anak yang egois, karena tidak pernah melakukan kehidupan sosial dengan kawan-kawan mereka. Setidaknya itulah cara menghilangkan kekerasan dari rumah kita, yang turut berkontribusi mengurangi kekerasan di sekolah atau di area publik. Dengan begitupula, televisi tak lagi jadi kotak pandora./**
(Nuansa Persada)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s