Menanamkan Anti Kekerasan dari Rumah


Menanamkan Anti Kekerasan

Keluarga seharusnya berperan penting untuk membentengi anak agar tidak terjerumus ke dalam tindakan kriminalitas termasuk tawuran. Sayangnya, belum semua keluarga menyadari peran penting ini.

Menanamkan-anti-kekerasan-dari-rumah-dari-pengaruh-TVMenteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Sari Gumelar mengatakan hal ini menanggapi kekerasan antarpelajar di Jabodetabek yang kian marak dan menakutkan. Sebelumnya, Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat lonjakan angka tawuran dari 128 kasus pada 2010 menjadi 339 kasus di 2011. Sejumlah 82 orang meninggal akibat tawuran. “Karena kesibukan yang padat dan kemajuan teknologi, orang sering kali lupa dengan orang lain, termasuk anak-anak mereka. Anak selalu menjadi korban,” ujar Linda, Rabu (21/12).
Kemajuan teknologi yang dimaksud Linda adalah ketika orang menjadi sibuk dengan gadget mereka. Keasyikan berinteraksi di dunia mayajustru mengurangi kualitas komunikasi orang-orang yang hadir secara fisik. Selain itu, tayangan kekerasan di televisi juga memengaruhi anak. Belum lagi bila anak juga terbiasa melihat orangtua mereka bertengkar dan terjadi kekerasan fisik.
Kalau anak terus-menerus menyaksikan kekerasan, mereka beranggapan bahwa kekerasan ini merupakan hal biasa. Akhirnya, anak meniru juga melakukan kekerasan, termasuk tawuran,” papar Linda.
Di lingkungan sekolah, Linda berpendapat, kepala sekolah dan guru juga harus ikut memantau peserta didik mereka agar tidak terlibat tawuran. Pengawasan bersama ini, menurut Linda, dibutuhkan karena anak dan remaja rawan terhasut provokasi dari pihak luar. “Sedikit saja diprovokasi, mereka bisa saling serbu. Ini yang patut dicegah bersama,” kata Linda.
Psikolog anak, Seto Mulyadi, menyatakan, adalah tugas pemerintah, masyarakat, sekolah, aparat, atau semua pihak untuk bersatu dan bersinergi rnenekan kekerasan. Sinergi diperlukan karena kekerasan sudah membudaya dan terjadi di keluarga, sekolah, lembaga pemerintah, bahkan di lingkungan aparat penegak hukum.
Menjauhkan Anak dari Televisi Psikolog Nana Maznah Prasetyo, yang juga anggota Departemen Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga DPP LDII berpendapat, hampir semua stasiun-stasiun televisi, banyak menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornograti, mistik, dan kemewahan (hedonisme).

Anak-anak yang terlalu sering menyaksikan televisi menjadi sulit bergaul dengan lingkungannya dan mempengaruhi kecerdasannya

“Tayangan-tayangan tersebut terus berlomba demi rating tanpa memperhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak,” ujar Nana Prasetyo. Menurutnya sangat berbahaya kalau anak-anak sering menonton tayangan TV yang mengandung unsurkekerasan.
Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah. Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang “aneh-aneh” tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik. Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang berlimpah kemewahan itu.
Nana Prasetyo meyakini televisi hanya memberikan porsi sebesar O,07 persen untuk bidang pendidikan sehingga orang tua harus mampu bersikap proaktif mengambil alih peran sebagai pendidik di rumah. Media elektronik berperan membuat anak didik tidak konsentrasi belajardi kelas, “Anak-anak yang terlalu sering menyaksikan televisi menjadi sulit bergaul dengan lingkungannya dan mempengaruhi kecerdasannya,” papar Nana Prasetyo.
Mematikan Televisi” , Mematikan Kekerasan Lantas, siapa yang berperan penting untuk menjadi filter penyaring acara TV dirumah? “Tentunya orang tua dan komitmen seluruh penghuni rumah,” ujar Nana Prasetyo. Namun, menurutnya, sebagian orang tua masih membiarkan anaknya nonton TV selama berjam-jam, karena dengan demikian anak tidak mengganggu kegiatan mereka. Walaupun banyak orang tua mengetahui bahaya dari kebanyakan nonton TV ini, mereka lama-kelamaan menjadi terbiasa dan mulailah kebiasaan buruk’itu tercipta di dalam rumah.
Lebih mengkhawatirkan, kebanyakan orang tua menjadi tidak sadar akan dampak dari kebebasan penggunaan media TV. Anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi. Dan perlahan TV berubah fungsi sebagai “babysitter” untuk anak.
Sudah sepatutnyalah orang tua dapat mengatur jam menonton TV bagi anak. Cara lain adalah dengan menyeleksi tayangan mana saja yang layak dikonsumsi anak,” ujarnya. Jika orang tua memutuskan untuk mengurangi menonton TV, persiapkan kegiatan lain yang menyenangkan untuk dilakukan bersama anak-anak.
Nana Prasetyo menyarankan orang tua perlu mendampingi anak-anaknya saat menonton televisi. Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan. Selain sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak.
Bila sejak di keluarga dibiasakan tanpa kekerasan dan mengurangi menonton adegan kekerasan. Tentunya kekerasan di luar rumah atau di sekolah, bisa dihilangkan./**(NUANSA Persada)

Tips Cara Mematikan TV

  • Pindahkan TV ke tempat yang tidak begitu ‘mencolok’
  • Matikan TV pada waktu makan.
  • Tentukan hari-hari apa saja dalam seminggu yang akan dilalui tanpa TV.
  • Jangan gunakan kesempatan menonton TV sebagai hadiah.
  • Berhenti berlangganan channel tambahan (cable, dll) dan gunakan uangnya untuk membeli hal-hal yang berguna lainnya, seperti buku.
  • Pindahkan TV dari kamar anak.
  • Sembunyikan remote control
  • Tidak ada TV di hari sekolah dan jelas mana yang boleh dan mana yang tidak, mana yang baik dan mana yang buruk.

Sumber: Buku Pedoman Keorangtuaan/Nana Prasetyo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s