Mendidik Anak Berkarakter dan Bermoral


Mendidik Anak Berkarakter dan Bermoral

Siswa-pandai-berkarakter-Jika tidak ada aral, implementasi Kurikulum Pendidikan 2013 di tingkat satuan pendidikan secara bertahap akan dilakukan mulai awal tahun pelajaran pada Juli 2013. Kini berbagai persiapan sudah dilakukan, baik yang terkait dengan buku pegangan dan buku murid, pelatihan guru, maupun tata kelola di tingkat satuan pendidikan. Secara substansial, baik guru, orang tua, maupun siswa tidak ada yang keberatan terhadap*kurikulum 2013.
ADANYA perbedaan yang selama ini mengemuka diyakini Kemendikbud, cepat atau lam bat, akan selesai. Apalagi secara politis panitia kerja kurikulum di DPR, yang terdiri atas unsur-unsur fraksi, sebagian besar telah menyatakan menerima kurikulum 2013. Dua organisasi besar penyelenggara pendidikan di tingkat swasta pun, Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, tegas menyatakan siap mengimplementasikan kurikulum 2013.
Sementara, Wakil Presiden Boediono, dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini meminta agar pelaksanaan kurikulum jangan ditunda. Jika pelaksanaannya telat, yang rugi adalah peserta didik, anak bangsa yang kelak akan memimpin negeri ini, saat Kemerdekaan Indonesia memasuki usia 100 tahun pada 2045.Inti dari kurikulum 2013 terletak pada upaya penyederhanaan dan tematik integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap dalam menghadapi masa depan. Karena itu, kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan sebagai modal anak bangsa untuk bersaing.
Masyarakat berharap kurikulum 2013 dapat benar-benar mendorong peserta didik untuk mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang diperoleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelajaran, sebagaimana tujuan awal perubahan kurikulum ini. Inilah yang disebut kurikulum dengan pendekatan scientific (ilmiah).
Kurikulum 2013 diyakini sedikit-banyak juga akan menjawab “kegelisahan” orang tua selama ini yang sering menyatakan bahwa para pelajar sekarang lebih berat bukunya ketimbang timbangan berat badannya. Itulah sebabnya, penyederhanaan menjadi salah satu kata kuncinya. Di jenjang sekolah dasar (SD), dari 10 mata pelajaran kini menjadi 6, di sekolah menengah pertama (SMP) dari sebelumnya 12 menjadi 10, sedang di sekolah menengah atas (SMA) tidak lagi mengenal penjurusan.
Tentu pertimbangan penyederhanaan itu bukan semata soal beban, melainkan jugatelah melalui proses pengkajian baik terhadap hasil Programme for International Student Assessment (PISA), Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), maupun hasil Progress in International Reading Literacy Study(PIRLS).
Terhadap hasil PISA misalnya, hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3, sementara negara lain banyak yang sampai level 4,5, ‘ bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari fakta ini hanya satu bahwa yang diajarkan siswa di Indonesia berbeda dengan tuntutan zaman.
Kajian terhadap isi mata pelajaran pun dilakukan, dan ditemukan fakta bahwa pada kurikulum sebelumnya ada beberapa materi pada mata pelajaran tertentu yang terlalu berat untuk diberikan dan dicerna peserta didik. Penyederhanaan jumlah mata pelajaran juga diikuti dengan penambahan jam pelajaran. Ini untuk peningkatan efektivitas pembelajaran.
Penambahan jam pelajaran ini rasionalitasnya adalah perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberitahu menjadi siswa mencari tahu) dan proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output), memerlukan penambahan jam pelajaran. Di banyak negara, seperti AS dan Korea Selatan, akhir-akhir ini juga ada kecenderungan menambah jam pelajaran. Diketahui juga bahwa perbandingan dengan Negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat.
Mendikbud, Muhammad Nuh, dalam berbagai kesempatan sering menyampaikan, bahwa kurikulum 2013 ini memiliki fokus utama pada penciptaan pendidikan berkarakter, yang diharapkan dapat menjadikan anak didik lebih memiliki kepribadian dan menjadi manusia yang berkualitas. Sehingga tidak ada lagi tawuran antarpelajar, pergaulan bebas, serta narkoba, karena telah tercipta anak didik yang berkarakter dan memiliki moral yang baik.
Terlebih lagi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang semakin menurun karena banyaknya ketidakjujuran dan ketidakadilan yang terjadi, maka pendidikan karakter ini diharapkan dapat menghasilkan calon-calon pemimpin bangsa yang memiliki moral dan karakter untuk memajukan Indonesia nantinya. Harapan jangka panjang itu disebut Generasi Emas.
Tidak dipungkiri memang, kurikulum memiliki peran yang vital dalam menentukan laju perkembangan pendidikan, karena fungsinya sebagai pedoman dan acuan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan. Tetapi, hanya mengacu kepada kurikulum saja sebagai tolok ukur dalam penentuan kualitas pendidikan juga kurang tepat. Karena guru sebagai pelaksana dan yang berperan langsung dalam pembelajaran juga merupakan komponen yang tidak kalah pentingnya.
Sebagus apapun program kurikulum yang dicanangkan, jika guru sebagai pelaku utama dalam proses pembelajaran tidak dapat memahami dan mengaplikasikannya hasilnya pun akan sia-sia. Jadi, selain perbaikan berkala terhadap kurikulum sebagai acuan pelaksanaan pendidikan, juga perlu diperhatikan pula pengembangan kualitas dan kemampuan guru sebagai pelaksana dari kurikulum itu sendiri. Supaya cita-cita memiliki pendidikan berkarakter yang digadang-gadang sebagai pembentuk Generasi Emas 2045 dapat terwujud sebagai perwujudan program pendidikan yang berkelanjutan.
Ada pertanyaan bernada khawatirterkait dengan implementasi kurikulum 2013. Apakah sedemikian mendesak sehinggatahun pelajaran 2013 kurikulum itu sudah harus diterapkan? Menjawab kekhawatiran itu, Kemendikbud menjelaskan sedikitnya ada tiga persiapan yang sudah masuk agenda kementerian untuk implementasi kurikulum 2013.
Pertama, terkait dengan buku pegangan dan buku murid. Pemerintah kini sedang menyiapkan buku induk untuk pegangan guru dan murid yang tentu saja dua buku itu berbeda konten satu dan lainnya.
Penggandaan dan distribusi buku itu akan dilaksanakan pada bulan April dan diperkirakan memakan waktu 80 hari. Pada bulan Juli 2013 buku harus siap dipakai. Data dari Kemendikbud jumlah buku siswa yang akan dicetak sebanyak 57.285.371 eksemplar dengan rincian untuk SD berjumlah 20.930.308 buku, untuk SMP berjumlah 3.332.480 buku, untuk SMA berjumlah 2,141.811 buku dan untuk SMK 1.706.082 buku.
Pada Kurikulum 2103 pemerintah akan menyediakan buku untuk guru secara terpisah yang berjumlah hingga 5.161.978 eksemplar. Dengan rincian, untuk guru SD sebanyak 1.668.358. SMP sebanyak 3.429.390 buku, untuk guru SMA sebanyak 34.605 buku dan untuk SMK sebanyak 29.625 buku.
Kita berharap, mudah-mudahan target yang telah ditentukan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Para penulis buku itu juga semoga mampu menyelesaikan buku yang baik dalam waktu yang relative singkat, sehingga Kemendikbud mampu memberikan jaminan kualitas dari buku-bukut tersebut.
Persiapan kedua Kemendikbud adalah pelatihan guru. Karena implementasi kurikulum dilakukan secara bertahap, pelatihan kepada guru pun dilakukan bertahap pula. Jika implementasi dimulai untuk kelas satu dan empat di jenjang SD dengan 30% dari populasi SD, dan kelas tujuh di SMR serta kelas sepuluh di SMA/ SMK, tentu guru yang akan diikutkan pelatihan pun tidak seluruhnya.
Ketiga adalah tata kelola. Kementerian menyatakan sudah pula memikirkan terhadap tata kelola di tingkat satuan pendidikan. Dengan kurikulum 2013, tata kelola pun akan berubah. Sebagai misal administrasi buku rapor. Karena empat standar dalam kurikulum 2013 mengalami perubahan, buku rapor pun harus berubah. //**(NuansaPersada)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s