Pendidikan Berkarakter oleh Guru Berkarakter


Pendidikan-karakter-Guru-SiswaKEMEROSOTAN moral yang terus terjadi di tengah masyarakat semakin mengkhawatirkan akan perkembangan generasi muda. Setiap hari ada saja perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku dari kebiasaan dalam masyaralakat. Balapan liar, tawuran, pencurian, komsumsi obat terlarang pergaulan bebas, merupakan sekelumit kisah yang sering terdengar dan sangat meresahkan kehidupan masyarakat.
Sebagai orang tua, siapa yang tidak khawatir melihat kondisi seperti ini. Akankah kita mempercayakan pendidikan anak-anak kita kepada lingkungan yang sudah sedemikian parah ini. Pertanyaannya kemudian, lalu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kemerosotan moral ini? Semua pihak seakan saling menunjuk untuk mempertanggung-jawabkan masalah yang sedang terjadi. Semua pihak-keluarga, sekolah, masyarakat mestinya ikut bertanggung jawab terhadap permasalahan moral generasi muda. Karena keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan elemen yang saling berhubungan satu sama lain dalam hal ini.
Keluarga terutama kedua orang tua adalah pihak yang pertama dan utama yang harus bertanggung jawab terhadap perkembangan moral anak. Pembentukan moral dimulai dari rumah dengan menanamkan nilai-nilai akhlak sejak anak masih dalam kandungan. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah sangat berpengaruh kepada perkembangan selanjutnya ketika bergaul dalam lingkungan pendidikan ataupun lingkungan masyarakat.
Anak lahir bagai kertas putih kosong, kedua orang tuanyalah yang menulis di kertas tersebut. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari Muslim Rasulullah saw bersabda bahwa setiap anak lahir ke dunia dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanya yang menjadikan anak tersebut majusi, nasraniatau yahudi. Orang tua bertanggung jawab terhadap pembentukan perilaku seorang anak. Baik buruknya yang terjadi di kemudian hari merupakan hasil pembinaan dari orang tua.
Kemudian, ketika anak sudah mencapai usia masuk sekolah, di sinilah tanggung jawab guru dalam membentuk karaktek anak. Guru, sebagai orang tua kedua setelah ayah dan ibu di rumah, tentunya mempunyai peran penting terhadap pembentukan karakter moral generasi muda bangsa ini. Karenanya sosok guru untuk melakukan peran penting dalam mengemban tanggung jawab ini sudah sepatutnya mempunyai moralitas balk untuk diteladani. Guru sebagai sosok pendidik yang ditiru dan digugu harus mempunyai karakter terpuji untuk menginspirasi anak didik menjadi lebih baik.
Ironisnya, belakangan ini kerap terdengar ada perilaku oknum guru seringkali menorehkan noda hitam dunia pendidikan dengan melakukan perbuatan asusila. Pelecehan kepada peserta didik, tindak kekerasan berlebihan dalam proses pengajaran hingga menyebabkan trauma anak, berurusan dengan pihak hukum karena terlibat barang haram maupun perilaku amoral lainnya yang mencoreng nama baik seorang pendidik.
Melihat rumitnya persoalan dunia pendidikan, pemerintah berusaha membenahi kurikulum untuk memperbaiki kemerosotan moral bangsa. Berbagai macam kurikulum dan metode pembelajaran dilakukan sebagai upaya mencari solusi dari permasalahan moral yang semakin komplek. Setiap pergantian pejabat bidang pendidikan muncul gagasan dan ide-ide baru untuk diimplementasikan pada anak didik. Untuk saat ini pemerintah menerapkan kurikulum berkarakter pada pendidikan nasional yang akan segera diberlakukan pada tahun ajaran baru 2013/2014
Tentunya tidaklah berlebihan dalam mencapai tujuan kurikulum berkarakter harus dimulai dari pribadi pendidik itu sendiri, sebagai orang yang berinteraksi lansung dengan anak didik.’Pendidikan berkarakter tidak hanya cukup ditulis dalam kurikulum terstruktur dengan rapi. Karena pada dasarnya kurikulum hanyalah sebuah konsep. Pencapaian konsep tersebut berada d pihak sekolah, khususnyaguru. Dengan kata lain, sebelum mengajar anak didik .dengan menggunakan perangkat pembelajaran (kurikulum, silabus, dan RPP) dengan embel-embel karakter, makaterlebih dahulu yang harus berkarakter adalah gurunya.
Guru berkarakter merupakan guru yang memiliki kompetensi di bidang kepribadian dan bidang profesional. Sebagai sosok teladan bagi peserta didik, guru harus mempunyai kepribadian yangberhubungan dengan
karakterterpuji. Seorang guru bisa dikatakan memiliki karakter baik, jika setidakanya memiliki sifat religious, jujur, bertanggung jawab, disiplin, penuh kasih sayang, sopan, menghargai.tenggang rasa, optimis, percaya diri dan berjiwa besar. Nilai-nilai positif ini akan menjadi teladan bagi pesertadidik. Seorang anak akan melihat karakter gurunyadan mengimplementasikan dalam pergaulan kesehariannya. Ketela.danan. Itu hal yang paling penting. Ketika memberikan suatu aturan kepada anak didik, tentunyaguru harus memberi contoh terlebih dahulu. Aturan yang diterapkan haruslah bersifat adil. Memberi hukuman apabila ada anak yang datang terlambat,
maka seyogianya guru juga harus malu datang terlambat jika ada jam mengajar. Ketika anak didik dilarang merokokdi lingkungan sekolah, maka sepantasnya guru tidak melakukan hal yang sama di depan anak-anak. Guru melarang siswi berpakaian ketat, guru juga harus menghindari hal yang sama. Melarang anak didik menggunakan handphone saat sedang belajar, jangan pula gurunya malah asyik ber-hp ria ketika sedang berlansung proses belajar me/igajar. Ketika hal seperti ini bisa diaplikasikan dengan baik, maka akan lahirlah peserta didik dengan karakter yang baik,
Jika guru sudah mampu mendidik dengan hati, bukan hanya
mengajar mengandalkan otak, insya Allah penerapan kurikulum berkarakter bukan hanya akan menjadi sebatas rumusan di atas kertas saja. Marilah para guru mendidik putra putri bangsa dengan penuh kasih sayang, menegur dengan senyuman ketika mareka salah, memeluk dengan lembut ketika mareka bersedih dan memuji dengan tulus ketika mareka berprestasi.
Semoga pembinaan pribadi anak yang dimulai dari keluarga dan berkelanjutan di lembaga pendidikan akan melahirkan generasi berkarakter mulia. Sehingga dimasa mendatang tidak terdengar lagi tindak kriminal ditengah masyarakat. //** (NuansaPersada)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s