Memberi Contoh Membentuk Karakter


Memberi Contoh Membentuk Karakter

Memberi-Contoh-membentuk-karakterPSIKOLOG Universitas Indonesia Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono berpandangan, guru yang memberi contoh baik kepada murid-muridnya justru sudah membentuk karakter kepada anak didiknya itu, Pandangan itu mengemuka dalam diskusi yang dihelat Maarif Institute for Culture and Humanity di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sarlito memberi contoh soal merokok. Dalam pengalaman Ketua Program Studi llmu Kepolisian Ul ini ternyata ada banyak guru yang merokok. “Sudah tahu kalau merokok itu dilarang, tapi masih saja dilakukan,” katanya dalam kesempatan tersebut.
Sarlito menambahkan lantaran merokok itu, pemeo “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” bisa lama-kelamaan pupus. “Sebagai gantinya ‘guru merokok sendiri, murid merokok sambil minum kopi’,” guraunya mengkritik.
Sementara, mengenai aksi tawuran pelajar dalam beberapa tahun terakhir yang mengalami peningkatan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, Sarlito menganggap kurang tepat apabila hal itu hanya diatasi dengan menambah jam pelajaran agama, pendidikan pancasila, dan budi pekerti. Sejauh ini tidak pernah ada bukti empirisyang menyebutkan kemampuan baca-tulis Alquran menjamin moral seseorang.
Faktanya, meski Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, untuk urusan korupsi, negara ini masih berada di urutan atas,” kata Sarlito.
Dia menilai, orang terlalu menggampangkan dan menyederhanakan sebuah masalah, meskipun sudut pandang kurang tepat. Salah satu contohnya adalah keputusan orang tua memasukkan anaknya ke pesantren. Keputusan seperti itu jamak dilakukan karena untuk mengubah perilaku sang anak yang nakal menjadi baik.
Padahal dengan memasukkan ke pesantren, anak itu justru akan rnerasa dibuang. Itu karena pada prinsipnya, kenakalan yang dilakukan anak-anak adalah sebuah usaha untuk mencari perhatian dari orang-orang yang lebih tua dari mereka.
Sarlito menambahkan, sistem pendidikan saat ini telah menciptakan sekolah model pabrik. Ujian Nasional (UN) telah menyamaratakan anak-anak dengan kemampuan yang berbeda-beda. Sistem ini telah membebani anak yang tak jarang berujung pada stres.
Para tenaga pengajar sebaiknya tidak hanya bisa bicara kepada para muridnya, tetapi juga bisa memberi contoh dan nilai-nilai yang konkret. Selain itu, para pelajar sebaiknya diberikan tugas untuk melakukan observasi lapangan.
Setelah itu, hasil observasi langsung didiskusikan dan dikaitkan dengan nilai-nilai agama dan kebangsaan. “Para murid jangan hanya disuruh menghapal, tapi juga ada kegiatan yang bertujuan mengimplementasikan apayang sudah mereka pelajari. Contoh yang paling mudah adalah para guru tidak boleh merokok, bila murid-muridnya juga dilarang merokok,” ucapnya.
Di negara-negara maju, pelajaran wajib di sekolah hanya empat. Situasi itu setidaknya diterapkan di Amerika, di mana pelajaran wajib yang didapat hanyalah | Bahasa Inggris, Matematika, dan Science. Sisanya para siswa dibebaskan memilih sesuai bakat dan minatnya masing-masing.
Tapi, di Indonesia kan tidak seperti itu. Selain mata pelajarannya banyak, sudah cukup lama ada labeling bahwa anak berprestasi adalah bila berhasil masuk jurusan IPA; selain itu adalah kelompok ‘kelas dua’. Apalagi untuk anak-anak yang tidak sekolah. Padahal faktanya, banyak orang yang tidak sekolah, tapi mereka bisa sukses,” kata Sarlito menjelaskan.//**(NuansaPersada)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s