Apapun Kurikulumnya Gurunya Harus yang Terbaik


Kurikulum, Guru harus yang terbaik

Apapun-Kurikulumnya-Gurunya-Harus-yang-TerbaikAda adagium dalam dunia pendidikan: perubahan kurikulum merupakan keniscayaan. Sebab, kurikulum harus mampu menjawab dan menyesuaikan tantangan zaman. Ketika zaman berubah, tantangan semakin kompleks, maka kurikulum harus menyesuaikan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2000 telah melakukan tiga kali pergantian kurikulum. Pada 2004 lahir kurikulum berbasis kompetensi, kemudian kurikulum 2006 yang dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang memberikan keleluasaan bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan. Yang ketiga adalah rencana lahirnya kurikulum 2013.
Namun kurikulum terbaru masih menjadi perdebatan di kalangan pendidik. Bagi yang kontra, berpendapat, sebelum perubahan kurikulum, perlu riset, dan evaluasi dari kurikulum sebelumnya, uji publikyang lebih luas, persiapan guru terlebih dahulu, dll. Bagi yang pro perubahan, berpendapat bahwa bahwa kurikulum SD saat ini terlalu heavy kognitif, kurang mengakomodasi pembentukan karakter, sehingga diperlukan kurikulum yang holistik-komprehensif. Kurikulum yang memberikan kesempatan berkembangnya subyek belajar pada ranah kognitif-afektif dan psikomotorik secara proporsional, sesuai dengan usia perkembangannya. Tentu saja, baik yang pro-kontra semua menghendaki adanya perbaikan.
Pada dasarnya, hakekat kurikulum adalah keseluruhan rangkaian kegiatan yang dipersiapkan untuk siswa belajar, agar mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam hidupnya. Menihilkan kurikulum sama saja dengan membiarkan pendidikan berjalan tanpa arah. Kurikulum merupakan panduan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, yang terpenting bagaimana perubahan itu memenuhi kaedah dan prinsip-prinsip kurukulum, misalnya kebertangsungan (continuity) antara pendidikan sebelumnya dengan pendidikan lanjutnnya, kontekstual (contextual) antara materi yang diajarkan dengan kenyataan hidup yang dialami, relevansi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja, dan kebermaknaan (meaningfulness).
Jika melihat prilaku anak usia sekolah saat ini, tantangan yang paling besaradalah banyaknya permainan atau tontonan yang tidak bernilai edukasi. Anak-anak lebih menyukai playstation atau menghabiskan waktu di depan televisi. Akibatnya, waktu belajar anak tersita dengan menonton dan bermain. Lambat laun, anak-anak berprilaku seperti apa yang mereka lihat dan apa yang mereka mainkan, dalam hal ini berlaku hukum tontonan menjadi tuntunan.
Pola hidup konsumerisme dan serba enak (hedonism) menjadi referensi sebagian besar remaja kita. Akibatnya, anak-anak usia sekolah menjadi malas belajar dan berpikir, karena banyaknya hiburan yang memanjakan dunianya. Oleh karena itu, mengubah kurikulum harus diikuti dengan upaya membudayakan peserta didik untuk senang belajar.
Belajar menjadi hobi dan kebiasaan yang terpatri dalam setiap anak dan remaja. Membudayakan peserta didik merupakan proyek pendidikan karakter yakni bagaimana pendidikan dapat membentuk anak didik jujur, amanah, kerjasama yang baik, ekonomis, kreatif, bertanggungjawab, percaya diri, cinta tanah air, dan memiliki sikap positif lainnya.
Sesungguhnya, anak akan belajar dengan senang dan senang belajar jika pelajaran disampaikan secara menarik dan menyenangkan atau guru yang menyampaikan materi dapat membawakannya dengan baik. Untuk dapat membawakan materi dengan baik, guru harus menguasai materi, mampu memiliki pemahaman psikologi, strategi pembelajaran, komunikasi yang efektif, penampilan yang menarik dll. Singkat kata guru harus memiliki Kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Jika guru memiliki kemampuan-kemampuan tersebut, insya Allah, materi sesulit apapun bisa disederhanakan dan disampaikan dengan baik. Sehingga anak-anak belajar dengan antusias. Oleh karena itu perubahan kurukulum harus dibarengi dengan persiapan perubahan kemampuan guru dalam pembelajaran. Metode belajar konvensional dengan pendekatan satu arah (one way communication) guru dianggap sebagai satu-satunya sumber belajar (teacher center) sudah ketinggalan jaman. Paradigma guru tahu segalanya sudah tidak berlaku lagi.
Karena era teknologi komunikasi saat ini, memungkinkan setiap siswa mengakses informasi lebih cepat daripada gurunya. Sehingga yang diperlukan justru belajar bagaimana belajar (learning how to learn); mengidentifikasi berbagai informasi, memilih dan memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan. Guru berfungsi sebagai fasilitator yang menyenangkan bagi siswa dalam belajar. Pendek kata, apapun kurukulumnya, gurunya harus yang terbaik. Dalam konteks pendidikan yang berfungsi membentuk karakter, maka guru TK dan SD harus prima. (NuansaPersada)
Editor: Drs. Sarji, SH., M.Pd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s