Perspektif dan refleksi hari kebangkitan nasional


Perspektif & refleksi Kebangkitan Nasional

Monumen Kebangkitan Nasional di Solo

Monumen Kebangkitan Nasional di Solo (gambar: Wikipedia)

Sobat GenerusIndonesia, Selalu ada moment special yang diperingati untuk mengenang masa lalu sebagai bahan refleksi diri.
Seperti seratus empat tahun yang lalu, ketika tokoh pergerakan nasional Dr Soetomo, dr Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara yang tidak pernah tahu secara pasti kapan Indonesia akan merdeka. Namun mereka ketiga tokoh yang terkenal dengan sebutan Tiga serangkai itu tahu bahwa pintu gerbang kemerdekaan pasti akan tiba. Yang harus terus dilakukan adalah bagaimana terus menggelorakan semangat kemerdekaan. Itulah yang membuat mereka kemudian mendirikan Boedi Oetomo.
Hanya dengan keyakinan yang kuat akan Indonesia bangkit, maka cita-cita besar itu akan bisa diraih. “We are what we think we are,” kata pepatah Inggris. Apa yang kita pikirkan, maka itulah yang kelak akan terjadi.
Hingga tiga puluh tujuh tahun setelah digulirkannya pergerakan “Boedi Oetomo”, barulah tercapai sebuah Indonesia Merdeka. Apa yang menjadi cita-cita para tokoh bangsa itu, terjadi ketika Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Hari ini cita-cita yang ingin kita capai tentu bukan lagi merdeka. Namun, perjuangan yang harus kita terus gelorakan untuk membawa Indonesia bangkit agar tidak kalah dari bangsa-bangsa lain. Namun, yang lebih di utama yakni: tercapainya dulu kehidupan yang lebih baik kepada seluruh rakyat Indonesia (kalau istilah sejahtera masih di anggap fatamorgana)
Walau, sebenarnya seluruh rakyat bangsa ini memungkinkan sejahtera sesuai dengan cita-citanya. Yang dibutuhkan hanyalah kepedulian bahwa kita harus maju bersama-sama. Tidak boleh ada di antara kita yang serakah dan mau hidup berkelimpahan sendiri saja
Tidak penting acara peringatan hari kebangkitan nasional kalau perayaan tersebut hanya sebuah seremonial belaka. Mengadakan upacara bendera tanpa mengerti maknanya. Apalagi perayaan yang dilakukan meriah tanpa dibarengi dengan semangat kebangkitan bangsa. Yang lebih penting ialah peringati diri kita akan sebuah kepedulian nasional agar indonesia bangkit bersama. Karena itulah yang dirasakan kurang hari ini. Lunturnya semangat nasionalisme membuat kita tidak lagi merasa sebagai sebuah bangsa yang satu. Egoisme yang begitu kuat membuat kita selalu ingin menang sendiri.
Selalu ada moment peringatan untuk mengenang masa lalu. Sejarah alam pikiran mari kita bangkitkan! Untuk mengingat bahwa Indonesia hari ini bukanlah sebuah harapan yang dulu pernah diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan nasional kita. Dimana dulu dengan ilmunya, tenaga, air mata, bahkan dengan darahnya yang memperjuangkan kenyamanan hidup generasi kita sekarang ini sedemikian rupa.Lalu dimana rasa balas budi kita?
Kita sadari kembali negeri ini masih payah dalam segala bidangnya. Hal ini ditandai, dimana masih banyak saja suara jalanan diteriakan ke telinga perlemen yang dinilai kurang rasa peduli sehingga pendidikan, kesehatan, dan suara orang lapar negeri ini masih saja terdengar di usianya yang kini 68 tahun. Dimana hukum masih tebang pilih. Dimana benda peninggalan budaya dan hasil produksi anak negeri hasil masih kurang dihargai.
Maka, hari ini gunakanlah momentum hari kebangkitan nasional untuk merefleksikan diri kita sendiri. Untuk membangkitkan rasa kebersamaan, untuk menumbuhkan kepedulian nasional. Kita teguhkan kembali rasa sebagai sebuah bangsa yang bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu.
Redam rasa egeoisme diri kita apapun landasannya, entah karena ideologikah, agama, tradisi kedaerahan atau apapun yang bisa menyebabkan persatuan bangsa ini keropos dari dalam. Sudah lelah rasanya telinga ibu pertiwi kalau bisa mendengar tentang segala bentuk permusuhan yang disulut oleh sesama kita. Saudara dari negeri sendiri.
Contoh kasus yang kerap menyayat hati bila ada berita tentang perebutan lahan hingga terjadi baku hantam. Atau perang ideologi keaagamaan. Ketika menyaksikan kabar itu di berita televisi sobat hanya bergumam ibaratnya, kita sedang memangsa daging saudara kita sendri. Duh, gusti pangeran, mari berjanjilah mulai hari! Kalau kita tidak hanya akan mengingat hari kebangkitan nasional. Yang jatuh pada setiap tanggal 20 bulai Mei Tapi, kita juga harus mengingat serta menanamkan kepedulian nasional bukan hanya pada satu hari pada moment hari kebangkitan nasional. Tapi, pada setiap hari selama kita hidup.
Sobat G.I. mari kita bantu saudara saudara sesama kita di negeri ini. Bantuan apa saja yang bisa kita lakukan. Agar negeri ini perlahan menjadi negeri yang kita impikan bersama. Walaupun entah kapan, tapi percayalah hari itu pasti datang. Sama halnya seperti kepercayaan yang ada didalam monument kebangkitan nasional.Kepercayaan yang pernah ada dalam jiwa organisasi Boedi Oetomo masa silam.(lucerahma.blogdetik.com)

Incoming Search: memperingati hari Kebangkitan NasionalRefleksi Kebangkitan Nasionalsejarah hari Kebangkitan Nasionalmomen Kebangkitan Nasionaltokoh pergerakan NasionalBudi utomo, tiga serangkai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s