Makna Kebangkitan Nasional Bagi Generasi Muda


Makna Kebangkitan Nasional Bagi Generasi Muda

Prof Dr Hazairin,  Direktur Primagama Homeschooling Palembang (Sumber: beritapagi.co.id)

Prof Dr Hazairin,
Direktur Primagama Homeschooling Palembang (Sumber: beritapagi.co.id)

“Seratus tahun lebih yang lalu, tanggal 20 Mei digalang kekuatan oleh para pemuda di wilayah nusantara ini untuk menyatukan tekad bangkit dari keadaan sebagai negeri terjajah. Kemudian setiap tanggal 20 Mei dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional.”
RENTETAN perjuangan dengan gelimang perngorbanan yang tak terhitung berujung pada tercapainya tujuan merdeka pada 17 Agustus 1945 lalu. Dengan kemerdekaan ini, cita-cita kebangkitan nasional sudah tercapai. Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini, apakah pesan dari ‘Hari Kebangkitan Nasional’ sudah benar-benar terwujud di segala lini kehidupan Bangsa Indonesia?
Tentu salah satu indikator penilaian, tidak akan terlepas dari kondisi dunia pendidikan kita sendiri. Apakah dunia pendidikan sudah benar-benar sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Lalu bagaimana dengan para pelajar, mahasiswa, dan generasi muda dalam memaknai Hari Kebangkitan Nasional ini?
Menurut Kepala Disdikpora Palembang Pak Riza Fahlepi, sama halnya dengan Hari Pendidikan, pelajar dan generasi muda harus memaknai Hari Kebangkitan Nasional dengan bangkit untuk mencapai prestasi yang gemilang. Dengan kata lain, harus bangkit dari keterpurukan dan menyongsong masa depan dengan memperbaiki, meningkatkan, atau mempertahankan prestasi yang sudah ada.
Selain itu, pelajar dan generasi muda juga harus bisa menjawab tantangan di zaman yang serba canggih ini, bisa mengikuti perkembangan teknologi dan turunannya. Begitu juga dengan kemajuan pembangunan fisik berupa sekolah dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai pelosok daerah, menandakan pesan kebangkitan nasional di bidang pendidikan mulai tercapai. Di Sumsel, pemerataan dunia pendidikan terus dilakukan dengan memberikan fasilitas fisik dan teknologi sampai ke pelosok di kabupaten/kota.
Sementara itu, Abdul Muin, dosen Universitas Tridinanti Palembang mengatakan, momen Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi bahan renungan bagi generasi muda. Karena yang dinamakan ‘bangkit’ disini adalah mencapai seluruh aspek kehidupan, baik dari sisi pendidikan, ekonomi, mental, sosial dan budaya, serta banyak hal lainnya yang mendukung untuk tercapainya kemajuan bangsa.
20 Mei, merupakan Hari Kebangkitan Nasional berdasarkan sejarah. Akankah hanya dijadikan seremonial belaka atau sekadar apresiasi terhadap jasa para pahlawan pada waktu itu? Ataukah akan dimaknai bahwa hari ini dan selanjutnya negeri ini harus bangkit untuk memperbaiki sistem pendidikan yang akan melahirkan generasi cerdas dan bermoral.
Untuk memaknai Hari Kebangkitan Nasional ini, memang sebaiknya dimulai dari diri sendiri dengan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Jika generasi muda tidak bisa memaknai Hari Kebangkitan Nasional ini dengan berusaha menjadi lebih baik, maka kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara akan semakin terpuruk, dengan terlihat dari kebodohan, kemiskinan, angka pengangguran yang makin meningkat. Ini artinya, pesan pejuang untuk bangkit dari keterjajahan yang sesungguhnya belum tercapai.

Sementara menurut Prof Dr Hazairin Direktur Primagama Homeschooling Palembang makna dari Kebangkitan nasional adalah

‘Bangkit Dari Mental Memprihatinkan’

BANYAK makna yang harus direnungkan oleh generasi muda untuk mengisi Hari Kemerdekaan pada momen ‘Hari Kebangkitan Nasional’, 20 Mei  ini. Namun, yang penting dari itu semua adalah mental generasi muda yang harus diperbaiki.
Masyarakat di negeri ini masih banyak yang sangat miskin dari sisi ekonomi. Bahkan lebih celaka lagi banyak di antara mereka yang memiliki mental yang sangat memprihatinkan, yaitu selalu mengharapkan bantuan, padahal memiliki potensi untuk bangkit dari kemiskinannya. Masyarakat lebih suka menerima ikan, dari pada menerima kailnya. Mental yang terbentuk ini juga karena sistem kebijakan yang perlu diperbaiki.
Begitu pula, dengan pemerataan kesempatan mendapatkan pendidikan bagi seluruh masyarakat, tidak diimbangi dengan sistem penyelenggaraan yang memadai sehingga menghasilkan proses dan hasil pendidikan di sekolah yang bersifat formalitas. “Sekolah dimaknai sebagai bagian yang harus dilewati pada usia tertentu selama waktu tertentu dan harus selesai dengan “mengantungi” ijazah dengan tanpa mempertimbangkan apa yang terbaik harus didapat dari proses pendidikan di sekolah,” katanya.
Akibatnya, kondisi ini melahirkan generasi yang “penuh dengan tanda tanya” yang apabila dibandingkan dengan bangsa lain, rata-rata kualitas lulusan SMA di negeri ini mungkin setara dengan lulusan di bawah tingkat SMA di negara maju.
Selain itu, masyarakat secara umum masih banyak yang tidak memiliki budaya kompetitif, prosedural dan disiplin terhadap tata etika dan aturan formal kehidupan bernegara di negeri ini sehingga banyak melahirkan budaya kolusi serta kongkalingkong dengan pejabat. Nah, inilah yang harus segera diperbaiki pada momen Hari Kebangkitan Nasional. Jika di era sebelum merdeka, para pejuang bangkit untuk melawan penjajah, maka sekarang generasi muda harus bangkit dari mental yang memprihatinkan.
Generasi muda harus tampil dengan mental yang kuat dan tangguh, agar ke depan bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas sehingga kehidupan berbangsa dan bernegara pun akan menjadi jauh lebih baik,” katanya. /nor

Sumber: beritapagi.co.id

—————————————–
Galery hari Kebangkitan nasional
—————————————–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s