Generasi Anti Korupsi


Generasi Anti Korupsi

Generasi-anti-korupsiSobat GenerusIndonesia, kisah tentang korupsi, kolusi dan nepotisme (yang kemudian hanya disebut korupsi saja) sejatinya sudah ada pada bangsa kita sejak bangsa ini berdiri, bahkan sebelumnya. Alih-alih semakin pudar, penyakit korupsi yang menjangkiti bangsa kita ini terasa semakin mengerikan. Lembaga-lembaga yang diharapkan bisa menyembuhkan seperti KPK, kepolisian, BPK dan kejaksaan ternyata belum cukup terasa manfaatnya. Yang menyakitkan, dari dalam beberapa lembaga anti-korupsi yang kita punyai hiduplah para cecunguk koruptor. Tidak hanya di lembaga, para elite politik yang berada di garda depan pemerintahan pernah diduga kuat melakukan pencurian aset negara. Aset negara yang seharusnya bisa digunakan untuk menyejahterakan penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta jiwa ini hanya masuk ke perut gendut segelintir orang saja.
Pertanyaannya dari manakah pembenahan harus dilakukan, apakah dari individu, kelompok atau sistem? Karena sudah merajalela, tentu saja perang melawan korupsi harus dimulai dari mana-mana. Korupsi mesti kita keroyok dan dihantam bertubi-tubi sehingga tidak bisa lagi menular pada generasi-generasi baru. Selain menangkapi para tikus-tikus pelahap kekayaan negara, kita tidak boleh lengah untuk tak henti-hentinya menanamkan nilai-nilai moral generasi baru, atau dengan kata lain anak (sekolahan) harus tahu betul apa makna “kebenaran”.

Dulu, Korupsi itu Wajar

Dalam ranah psikologi, kita mengenal Burrhus Frederic Skinner. Beliau adalah bapak psikologi behaviorisme. Menurut beliau, segala bentuk buah pikir, manifestasi afeksi, dan tindakan-tindakan yang dilakukan manusia ialah tingkah laku/behavior. Inti mengenai perilaku manusia dalam konsepsinya yaitu bahwa manusia bukan organisme yang pasif, tetapi organisme aktif yang mencari akibat-akibat (konsekuensi) yang menyenangkan. Manusia pada dasarnya bebas menentukan perilakunya. Manusialah yang membentuk lingkungannya sendiri. Namun demikian, lingkungan di sini mempunyai posisi yang lebih kuat karena lingkungan menyediakan reinforcement (penguatan). Jadi, menurut psikologi behaviorisme ala Skinner, semua bentuk tingkah laku manusia merupakan hasil belajar yang bersifat mekanistik karena lingkungan memberi penguatan.
Contoh sederhanya seperti ini, kita dapat mengajar seorang anak meminta manisan berkali-kali dengan memberinya manisan setiap kali ia memintanya. Secara positif kita memperkuat respon meminta manisan. Kita juga dapat menghapus respon meminta manisan semata-mata dengan tidak memberinya manisan bila anak itu memintanya. Kemudian kita lihat bahwa frekuensi terjadinya meminta manisan ini berkurang. Ada cara lain untuk mereduksikan terjadinya respon tersebut. Apabila anak meminta manisan, kita dapat menghukumnya dengan menamparnya.
Korupsi juga merupakan sebentuk perilaku. Di negeri ini, perilaku korupsi terjadi secara sistemik dan struktural. Dikatakan sistemik, karena hampir tidak ada wilayah dari seluruh ketatanegaraan yang dapat menghindarkan diri dari proses korupsi tersebut; dan struktural, karena moralitas mikro-individual hampir tak berdaya dengan struktur ekonomi dan politik yang amat menyuburkan secara proaktif dalam proses korupsi tersebut. Mengacu pada teori Skinner di atas, tak salah jika kita mengatakan lingkungan kita adalah lingkungan yang korup, yang tidak memahami bahwa korup adalah tindakan yang tidak benar.
Menyinggung soal benar dan tidak benar, dalam sejarah kekuasaan, baik pada zaman monarki, kekuasaan religi, maupun demokrasi, kebenaran selalu menimbulkan persoalan rumit dan kompleks. Kebenaran terasa begitu mahal dan sukar. Indra Tranggono (2012) menyebut bahwa kebenaran itu mahal dan sukar karena kebenaran membutuhkan cara atau jalan yang ideal untuk mewujudkannya. Di mata kebenaran, kekuasaan menjadi bernilai/beramartabat jika berorientasi sekaligus berbasis pada etika dan moral. Etika dan moral itu yang menuntut kekuasaan sekaligus berbasis pada etika dan moral. Etika dan moral itu yang menuntut kekuasaan sekaligus penguasa untuk bisa berbuat adil, jujur, bersih, santun dan berani.
Etika dan moral yang pada awalnya dijunjung tinggi para penguasa mulai dilepaskan manakala dorongan posesif atas gumpalan uang dan berbagai previlese dihadapkan. Idealisme yang pada mulanya dikumandangkan dengan bergelora ketika kampanye di sana-sini lambat laun tak lagi menjadi soko guru. Mereka menginginkan hasil nyata yang praktis dan instan atas ‘kerja keras’ untuk mendapat kursi. Akhirnya idealisme tergusur oleh gelombang pragmatisme yang berderum.
Pada masyarakat pun demikian. Idealisme telah ditawarkan melalui institusi agama dan tatanan moral dalam masyarakat. Sayangnya pelajaran agama di sekolah diajarkan terlalu formal. Di lain pihak, karena desakan teknologi (khususnya dalam bidang informasi dan komunikasi) yang dibarengi dengan maraknya mentalitas individualis, tatanan moral dan norma dianggap konservatif. Sudah ketinggalan jaman. Itulah sebabnya mengapa anak-anak jaman sekarang kesulitan untuk membedakan mana yang benar mana yang salah. Jangankan membedakan korupsi itu baik atau tidak, mencontek saja menjadi hal yang lumrah.
Mengerucut mengenai telaah atas korupsi di Indonesia, Gunnar Myrdal pernah berpendapat bahwa korupsi di Indonesia berasal dari penyakit neopatrimonialisme, yakni warisan feodal kerajaan-kerajaan lama yang terbiasa dengan hubungan patron-clien. Dalam konteks tersebut, rakyat biasa atau bawahan berkewajiban memberi “upeti” (berkembang menjadi amplop, sogok, komisi, dst) kepada pemegang kekuasaan atau atasan (bos, pejabat, dst). Lebih lanjut, karena dalam perspektif kerajaan-kerajaan lama, kekuasaan bersifat konkrit dan harus diwujudkan secara materi. Maka, muncullah money politic ketika pemilihan pejabat tiba. Akhirnya bentuk-bentuk baru korupsi pun oleh masyarakat diterima sebagai hal yang wajar dan benar.

Di manakah Kebenaran (?)

Suatu kali saya berkesempatan melakukan pendampingan belajar bagi anak-anak di beberapa daerah di Semarang. Mereka baru berusia sekitar 9 tahun. Ketika diberi soal yang sifatnya hanya latihan saja, ada yang curi-curi pandang ke lembar jawab temannya, ada pula yang mengintip buku catatan yang disimpan di laci meja. Jelas, ini adalah praktik sederhana dari tindakan korupsi. Hati saya menjadi resah dan bertanya-tanya bagaimana proses belajar mereka di sekolah dan keluarga? Apakah sekolah dan keluarga telah gagal mengajarkan untuk membedakan mana yang benar dan salah?
Dari contoh kasus di atas, saya tersadarkan korupsi di negara kita sudah mendarah-daging. Memperkuat pengawasan bank, menyempurnakan undang-undang antikorupsi, mendukung KPK, dan seterusnya yang banyak itu tak akan berhasil mengurangi tingkat korupsi jika tidak dibarengi perbaikan akhlak, moral dan tata nilai yang ada di masyarakat. Proses ini akan memakan waktu yang tak sebentar dan tak bisa instan. Barang kali harus melewati beberapa generasi.
Seorang psikolog bernama Lawrence Kohlberg pernah meneliti mengenai perkembangan moral manusia. Dalam teorinya, perkembangan moral manusia mempunyai tingkatan-tingkatan tertentu. Berikut ini penjelasan secara singkat. Tingkat pertama umumnya ada pada anak-anak, walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. Seseorang yang berada dalam tingkat pertama ini menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Sebagai contoh, suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu.
Pada tingkat kedua, orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang “anak baik” untuk memenuhi harapan tersebut, karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. Contohnya, bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu – sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Bila seseorang melanggar hukum, maka ia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.
Pada tingkat ketiga, penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama. Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang bertindak karena hal itu benar, dan bukan karena ada maksud pribadi, sesuai harapan, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini ada, ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. Tampaknya orang sukar, kalaupun ada, yang bisa mencapai tahap ini.
Jika kita refleksikan, masih banyak orang dalam masyarakat kita yang belum melewati tingkat pertama dalam teori Kohlberg tadi. Artinya, hukuman yang diterapkan kepada koruptor saat ini belum bisa membuat masyarakat kita sadar bahwa melakukan tindakan korupsi adalah hal yang tidak benar. Maka, untuk memperbaiki akhlak manusia Indonesia, pendidikan berbasis perkembangan moral harus segera dilaksanakan.
Namun, terkadang banyak orang tua yang beranggapan pendidikan hanya dilakukan dilakukan di lingkungan sekolah. Dengan pencapaian prestasi yang memuaskan di sekolah, anak dianggap mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. Anggapan semacam ini perlu dikritisi dan diluruskan. Pendidikan yang efektif terjadi di tengah-tengah keluarga. Tiada guna seorang anak berusia 5 tahun sudah diajari bahasa asing jika dia masih memerlukan bantuan orang lain untuk memakai pakaian dan sepatu sendiri. Lebih penting kita mengajarkan pada generasi yang baru bahwa untuk menjadi manusia sejati, dia mesti secara mandiri mengembangkan potensi-potensi dirinya. Dengan begitu, si anak tidak harus bergantung pada orang lain untuk memaknai apa yang benar dan tidak benar.
Adalah sebuah kesalahan jika kita menyalahkan sekolah atas gagalnya pendidikan moral. Seorang anak menilai hal mana yang baik, hal mana yang keliru sesuai dengan apa yang mereka pelajari di keluarga karena lingkungan keluargalah yang mereka jumpai pertama kali. Dengan kata lain, makna kebenaran moral pertama-tama ditemukan dan diajarkan dalam keluarga.

Menjadi Generasi Anti Korupsi

Agar menjadi manusia yang dewasa dan semakin manusiawi, manusia membutuhkan pendidikan. Sembari menjalani pendidikan dalam keluarga, seseorang menjalani hari-hari hidupnya di lingkungan sekolah. Selain mengajarkan ilmu-ilmu yang berguna untuk perkembangan kognisi, sekolah juga menjadi sarana bagi orang muda untuk mengenal dunia. Untuk itu, kunci kedua untuk memberantas korupsi adalah pendidikan di sekolah.
Pendidikan merupakan proses yang membantu, menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, sekaligus membuat yang tidak tertata menjadi tertata. Pendidikan adalah penciptaan kultur dan tata keteraturan dalam diri maupun dalam diri orang lain. Di Indonesia, pendidikan di sekolah masih perlu dievaluasi karena justru menciptakan ketidakteraturan, keliaran dan perilaku yang tidak manusiawi. Peserta didik dibuat sedemikian rupa sehingga hasrat sekolah untuk mendapat akreditasi yang baik, mendapatkan berbagai macam piala, presentase kelulusan 100% tercapai. Model semacam ini hanya akan membuat peserta didik terlabel sebagai alat, sebagai obyek.
Kita lupa bahwa pendidikan yang baik tidak diukur dari piala, kelulusan dan nilai akreditasi tetapi dari kemampuan peserta didik berbela rasa, berefleksi serta menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan dan tanggung jawab. Kemampuan ini bisa diistilahkan dengan soft-skill. Maka, perlu ada pembenahan kurikulum. Kurikulum sebaiknya tidak disusun hanya untuk keperluan akademis, tetapi juga pengembangan soft-skill. Dengan ini, niscaya orang muda saat ini dapat menjadikan tanah air kita menjadi Indonesia yang baru, yang anti korupsi. (bakti-nusantara.blogspot.com)

Iklan

One thought on “Generasi Anti Korupsi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s