Bagaimana Berpartner Yang Baik dan Benar


Bagaimana Berpartner Yang Baik dan Benar

Panduan Bisnis yang baik

Bagaimana Berpartner yang Baik dan Benar.

 Berpartner bisnis yang Baik dan Benar

Pernahkah Sobat Generus Indonesia membuka usaha bersama?
Benar, duit sering menjadi pemicu keributan, apapun alasannya yang dikeluarkan mulut. Saat baru membuka bisnis, sobat berdua atau bertiga adalah sahabat karib. sobat sudah merasa akrab satu sama lain, dan akhirnya mencoba peruntungan membuka bisnis bersama, dengan harapan bisa sukses bersama pula.

Namun, justru kesetaraan itulah yang sering kali berbuntut keributan, karena tidak jelasnya hierarki kepemimpinan dan hierarki respective yang ketat. Artinya, secara tidak langsung kesetaraan sobat dan partner sobat telah menyebabkan mis-manage dalam tim. Kecuali sobat semua yang berpartner itu memiliki kedewasaan berpikir dan bisa selamanya saling memahami kekurangan masing-masing.
Saat tak bicara bisnis, mungkin kalian bersahabat sangat baik, tapi begitu ngomongin bisnis, malah ribut melulu… 🙂

Penting! Tentukan siapa Jendralnya dari Awal

Jika tidak ada kejelasan siapa yang jadi Jenderal yang memegang kendali keputusan, selain sering bikin ribut atau perdebatan yang tak berujung atau jadi lambat memutuskan keputusan strategis, karyawan juga bingung.
Biasanya, saat perusahaan dalam kondisi bagus dan untung, semua mau jadi pemimpin. Giliran saat perusahaan rugi, biasanya saling lepas tangan, bahkan mulai dah berebut aset cari selamat.
Tentukan siapa Jendralnya, fokuslah pada tujuan, bukan ego atau pengakuan. Seorang pemimpin yang baik pastilah seorang pemain tim yang hebat.

Sebenarnya Siapa yang Rugi?

Sobat Generus Indonesia, ada seseorang yang merasa kecewa karena rekan bisnisnya yang semula berjanji akan berjuang bersama, di tengah jalan menjadi pasif. la merasa rugi karena ia telah bekerja jauh lebih keras dibanding rekannya. Ia bangun di pagi hari, berjuang mencari pelanggan, melobi supplier untuk memberikan utangan barang, sampai mengantar dan menyangkat barang pun ia yang melakukannya. Tapi di ujung-ujungnya, rekannya mendapatkan bagi hasil sama dengan dirinya.
Dengan muka merah ia berkata, “Sungguh tidak adil… Harusnya aku mendapat lebih besar bagi hasilnya dari dia, bahkan bisa seluruhnya. Toh dia tidak melakukan apa pun!”.
Setelah ia usai menumpahkan unek-uneknya, kami pun berkata, “Seharusnya kawan sobat yang rugi donk!”
Kemudian ia bertanya, “Rugi apanya? Wong dia nggak kerja apa-apa kok dapat bagian sama dengan saya?!”
Terus saya sambung pembicaraan saya, “Coba renungkan, apa yang sobat dapatkan sebenarnya jauh lebih besar daripada kawan sobat. Saat sobat menjalankan usaha itu, sobat telah melatih diri sobat menjadi lebih terampil. sobat juga telah membuka jaringan bisnis yang tadinya tidak ada. Tampa sengaja sobat pun telah membangun reputasi sobat di dunia usaha. Bukankah keterampilan, kredibilitas dan jaringan adalah modal utama dalam menjalankan usaha?

Jadi sebenarnya kawan sobat yang rugi, karena hanya mendapatkan uangnya saja!”

Sobat, ambil Hikmahnya, Jangan Kapok Bekerjasama!
“Sungguh tidak ada yang sia-sia setiap kejadian pada diri kita, asalkan kita mampu mengambil makna positifnya. . . ”

Menyalahkan orang lain tanpa memperbaiki kualitas diri sendiri akan membuat sobat mengulangi pola kegagalan terus-menerus. Tertipu lagi, tertipu lagi…
Atau mungkin berikrar, “Aku berjanji tak akan ber partner dengan siapa pun!”
Boleh saja, itu pilihan bagi sobat yang tak mau bertumbuh. . .
Ingat: Segala sesuatu, ada ilmunya!

(kampungwirausaha.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s