Hil yang Mustahal


Hil yang Mustahal

Hil yang mustahalSobat Generus Indonesia, ada beberapa hal di dunia ini yang bagi beberapa orang itu tidak mungkin untuk dilakukan. Hal-hal ini tidak bisa dilakukan bukan karena faktor agama, tapi karena memang tidak berani melakukannya. Hal-hal yang tidak bisa dilakukan ini kalau kata Personil grup lawak Srimulat “Asmuni” adalah “hil yang mustahal“. Kenapa kita tidak bisa melakukan hal-hal itu adalah karena kita mempunyai standart sendiri dalam melakukan sesuatu, dan terkadang kita malas keluar dari standart itu. Orang yang biasanya punya standart ini biasanya adalah orang yang pintar, banyak tahu, ribet, dan penuh pertimbangan.
Jadi kadang ada baiknya orang berterima kasih atas kebodohannya, karena berkat kebodohan orang itu, dia bisa melakukan banyak hal yang bagi sebagian orang lain adalah hil yang mustahal. Ambilah contoh para pengguna mobil Xenia. Di tol kalau Sobat pengguna mobil, pasti seringkali melihat para pengguna mobil Xenia itu melaju dengan kecepatan hampir 150 Km/jam. Padahal bagi pengendara mobil lainnya, naik Xenia dengan kecepatan segitu adalah hal yang mengerikan. Di pemikiran para pengguna mobil non Xenia: Goyangan mobil Xenia sangatlah terasa sekali kalau lagi ngebut, oleng sedikit saja bisa bikin mobil itu tergulir. Padahal bagi pengendara Xenia yang belum pernah merasakan naik mobil lain yang tidak goyang kalau lagi ngebut, naik Xenia itu aman-aman saja dan nyaman kalau lagi ngebut.
Pemakan setia kripik Maicih –masih ada nggak ya yang makan kripik pedas ini– level 5 pasti akan bilang kalau yang sanggup makan level 10 itu orang gila. Karena bagi pemakan kripik Maicih level 5, kalau makan yang level 10 itu bisa bikin sakit perut. Dan memang sih, level 10 itu semacam broklat dalam rupa kripik. Tapi ada sebagian kecil orang yang tahu kalau kripik Maicih itu ada level-levelannya. Bagi orang yang minim info itu, kripik Maicih itu ya yang level 10. Jadi begitu pertama kali mereka merasakan kripik pedas asal kota Bandung, ya mereka sudah merasa kepedasan memakannya. Tapi karena telanjur suka atau sekedar ikut-ikutan trend, akhirnya kripik Maicih level 10 lah yang mereka beli terus.
Ada juga orang yang sehari-harinya kalau mengemudikan mobil harus memakai kacamata, matanya sebelah kanan minus 4, sebelah kiri minus setengah, tapi pada suatu hari dia berhasil mengemudikan mobil di malam hari untuk menuju pulang ke rumah, tanpa menggunakan kacamatanya. Cara bagaimana dia dapat mengemudikan mobilnya itu adalah karena dia lupa bahwa dia tidak memakai kacamata minusnya. Dipikirannya dia, ya dia itu sedang menyetir dengan memakai kacamata. Pengemudi mata minus itu sendiri bingung sekaligus merasa beruntung, karena kok bisa ya dia menyetir tidak menabrak apapun tanpa menggunakan kacamatanya.
Kalau membaca cerita-cerita di atas. Yang sebenarnya menghambat kita dalam melakukan sesuatu itu adalah apa yang kita tahu. Andai saja pengemudi Xenia itu tahu betapa nyamannya ngebut kencang di atas mobil Eropa, mungkin dia akan takut ngebut pakai mobil Xenia. Andai saja yang makan kripik Maicih itu tahu ada level kepedasan yang lebih rendah, mungkin dia akan memilih level kepedasan yang manusiawi itu. Andai saja pengemudi mata minus itu menyadari dia mengemudi tanpa memakai kacamata, mungkin dia tidak akan selamat sampai ke rumahnya hari itu. Dia pasti akan merasa dia tidak bisa dan begitu bilang tidak bisa, saat itu jugalah sebenarnya kita tidak bisa. Cobalah perhatikan seorang anak kecil yang masih minim pengetahuannya. Dia pasti akan melakukan apapun sesukanya. Bisa saja anak kecil itu memegang termos air yang panas dan kemudian menangis karena tangannya kepanasan. Bisa saja dia dengan santainya memegang cacing, yang bagi sebagian orang itu sangat menjijikkan. Ketidaktahuanlah yang membuat anak kecil ini berani. Ketidaktahuan itu bisa membuat kita bebas dan tidak menyepelekan potensi-potensi tersembunyi yang kita punya.
Jadi intinya, kalau orang pintar, tidak perlu “sok pintar“. Karena mungkin kepintaran kamu itu malah bisa menjadikan katak dalam tempurung. Tetaplah “merasa belum pintar” dan terus mencari tahu hal-hal seru di dunia. Kikislah ketakutan, tapi tetap miliki ketakutan itu sebagai benteng pengaman diri. Janganlah hidup penuh kata yang tidak bisa. Banyak hil mustahal yang bisa Sobat lakukan sebenarnya. Seperti melakukan puasa romadlon yang cuma satu bulan saja masak nggak kuat sih sob ?, padahal ngejomblo udah tahunan masih kuat-kuat aja. (kvltmagz.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s