Kasus AQJ, Salah Didikan atau Kurang Pengawasan?


Peduli dengan keselamatan anakSobat Generus Indonesia, akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan kasus tabrakan yang menewaskan 6 nyawa melayang dan atau yang biasa disebut Tragedi Maut Tol Jagorawi. Semua mata dan telinga sontak terpana setelah mengetahui pengemudi mobil naas itu adalah seorang anak yang masih usia belia bernama AQJ alias Dul, anak dari artis terkenal Ahmad Dhani dan Maia Estianti.
Yang menjadi sorotan, tidak hanya kecelakaan maut itu saja, tetapi usia si pelaku yang masih 13 tahun dan belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan bahkan dengan leluasa melajukan mobilnya di jalan tol. Selain Dul, elemen masyarakat, kepolisian, dan analis pun akhirnya ikut memberatkan Ahmad Dhani yang dianggap lalai dan memberikan akses mengemudi kepada anaknya.
Selepas kejadian itu, hal ini dijadikan momentum bagi dunia lalu lintas dan orang tua serta masyarakat pada khususnya untuk ekstra hati-hati dalam memantau anak-anak terutama dibawah umur dalam menggunakan KR 2 maupun KR 4, entah jarak dekat maupun jauh. Kejadian Abai inilah yang akhirnya dinilai berakibat fatal dan akhirnya membuat kita tersadar betapa kondisi psikologilah yang membuat seorang anak layak untuk mengendarai suatu kendaraan.
Polisi pun kemudian menggelar banyak razia bagi anak-anak sekolah di beberapa daerah dan kedapatan mereka belum memiliki SIM. Bahkan ada sekolah yang mengakui bahwa setiap harinya sekolah dipenuhi kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dan bukan itu terjadi sudah bertahun-tahun. Pihak sekolah pun berkilah bahwa ini bukan tanggung jawab sekolah, namun orang tua. Lalu kepada oleh siapakah pembinaan ini sebenarnya?.

Trend Foto Speedometer

Sport SpeedometerIni adalah kejadian unik yang mencengangkan lagi sesudah kasus Dul menurut saya. Bagaimana tidak, dengan nyamannya seseorang mem-posting gambar speedometer yang dipacu diatas 150 km/jam. Aneh bin ajaib, sontak hal ini menjadi perdebatan dan lama kelamaan menyeruak menjadi trend baru bagi anak muda yang menganggap hal ini sebagai tindakan gaul.
Entah apa motif dibalik gaya keren-kerenan yang mungkin bisa berakibat maut tersebut?. Yang pasti postingan awal di instagram oleh seorang pemuda tadi akhirnya membuat polisi mempidanakannya. Hal ini juga butuh bimbingan dari para orang tua dirumah, bahwa faktor psikologis seorang anak menjadi acuan mengapa seorang anak layak atau tidak menggunakan kendaraan, bukan dari punya atau tidak punya SIM karena men-calo.

Alasan Masalah Transportasi

Perlu dicatat, bahwa rata-rata orang tua dan anaknya mengakui bahwa alasan mereka diizinkan menggunakan kendaraan adalah karena alat transportasi yang kerap Nge-tem alias berhenti-henti sehingga dianggap memperlambat waktu mereka untuk datang tepat waktu.
Namun diluar semua alasan itu, marilah kita kembali berkaca dan merenung bahwa di usia dini, anak-anak perlu dilarang untuk mengendarai kendaraan tanpa alasan apapun. Kondisi Psikologis lah yang membuat kita perlu untuk menekankan itu kepada anak-anak kita. Semua pihak bertanggung jawab dan perlu turut serta. Mulai dari Pemerintah, Orang tua, Pendidik dan semua unsur terkait didalamnya. Kampanye ini juga yang terus digaung-gaungkan Div Humas Mabes POLRI melalui akun facebook maupun media lainnya. Semoga kasus AQJ ini menjadi wacana bagi kita semua untuk memperhatikan keselamatan anak-anak kita sebagai Generasi penerus bangsa. Amin………

Sumber : dhie8689 wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s