Mabrurkah haji anda


Mabrur-kah Haji Anda?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda,  “Tidak ada balasan bagi haji mabrur, melainkan surga”. Subhanallah, sungguh luar biasa balasan yang diberikan Allah kepada orang yang menunaikan ibadah haji. Predikat yang didapatnya adalah haji  mabrur. Balasannya adalah surga. Haji mabrur merupakan hasil maksimal yang didambakan oleh setiap Jama’ah Haji karena haji yang seperti itu menjamin pelakunya untuk masuk surga. Lantas apakah kriteria haji mabrur? Anda tergolong yang mana?

Haji Mabrur Menjadi Kerinduan Setiap Jiwa yang Beriman

Secara umum, kemabruran ibadah haji seseorang ditunjukkan melalui perubahan sikap, mental, dan perilaku seseorang hingga menjadi lebih baik dari sebelum melaksanakan ibadah haji dan meningkatnya kualitas ibadah. Seseorang yang kembali dari tanah haram, dia akan memulai hidupnya dengan lembaran baru, menapak jalan yang kokoh dalam beribadah, dalam pergaulan dan dalam berakhlak. Maka dia menjadi orang yang tampil beda dengan sikap jujur dalam kerjasama, banyak melakukan kebaikan, mencurahkan amar ma’ruf dan hatinya bersih. Inilah kerinduan setiap jiwa yang beriman.

IBADAH haji termasuk rukun Islam yang ke-5. Hukumnya wajib bagi yang sudah mampu. Berbeda dengan kewajiban syariat Islam yang lainnya, kewajiban menunaikan ibadah haji bisa dikatakan cukup berat. Karena ibadah ini sangat mengandalkan kekuatan fisik dan mental. Lamanya berada di tanah suci juga terkadang membuat kerinduan yang begitu mendalam terhadap keluarga. Itulah sebabnya kisah seseorang tentang perjalanan ibadah haji selalu menarik untuk didengarkan. Ibadah haji ke Mekah al Mukaromah menghadapi resiko berat. Mulai kesengsaraan di perjalanan, ancaman kematian karena berdesakan, hingga terinjak-injak oleh sesama jamaah haji saat menjalankan rangkaian ibadah haji. Bahkan tahun 2008 jamaah haji asal Indonesia pernah  mengalami kelaparan akibat manajemen yang kurang baik dari panitia penyelenggara haji.

Sering kita mendengar, banyak jamaah haji yang begitu bahagia menginjakkan kaki di tanah suci sehingga tidak mengatur tenaga dangan baik. Di awal kehadirannya, ia  selalu pergi ke masjid dan tidak mengindahkan kesehatan. Akhirnya ketika hari H yang dinantikan tiba, ia sakit dan tidak mampu melakukan kewajiban haji. Padahal ibadah haji ini adalah ibadah fisik. Lingkungan yang baru dengan suhu yang terkadang cukup ekstrim, membutuhkan strategi dan harus sangat mengenal keadaan diri sendiri.
Kalau sekiranya sudah terasa sakit dan tempat menginap jauh dari masjid, ada baiknya tidak memaksakan diri, dan menghemat tenaga untuk rukun haji yang memang wajib dilakukan. Berbeda kalau tenaga cukup kuat dan badan terasa sehat. Perjalanan ke masjid yang berjarak 3-4 km itu tidak terasa berat karena memang niat ibadah telah memberikan suntikan tenaga yang sangat luar biasa. Apalagi ditunjang dengan asupan makanan dengan gizi seimbang dan multi vitamin yang memang telah disiapkan.

Tidak heran kalau dalam menunaikan haji ini, pemerintah menyarankan agar orang-orang yang berusia muda secepatnya mendaftarkan diri untuk berhaji. Dengan demikian diharapkan bahwa ibadah yang akan dijalankan selama kurang lebih satu bulan penuh itu akan terlaksana dengan baik. Tetapi tidak bisa juga dipukul rata bahwa orang yang usia lanjut itu tidak mampu melakukan ibadah seutuhnya. Banyak peristiwa yang membuktikan kekuasaan Alalh Swt.

Orang tua yang berusia 70 tahunan, malah tampak gagah dan tidak kekurangan apapun. Allah Swt membuatnya kuat beribadah. Tidak hanya yang laki-laki, wanita yang berusia lanjut pun mampu melaksankan semua rukun haji dengan baik. Mereka terlihat tidak kekurangan apapun. Usia senja membuat mereka lebih pasrah dan tawakal. Sikap inilah yang membuat mereka tidak sombong dan tidak merasa hebat dan sehat. Kekurangan mereka membuat mereka merasa bahwa mereka harus berpasrah selalu.

Akhirnya dengan doa yang tak terputus itulah mereka bisa menunaikan rukun Islam ke-5 dengan mulus dan lancar. Sebaliknya, anak muda yang merasa sangat sehat ketika di tanah air yang dibuktikan dengan pemeriksaan kesehatan, akhirnya jatuh sakit. Ia tidak mampu melakukan kewajiban hajinya sendiri. Kesombongan walau sedikit pun ternyata menjadi bumerang yang menyakitkan.

Tiada yang sulit kalau dibuat mudah dan tiada yang mudah kalau dibuat sulit. Tawakal dan selalu berpasrah adalah kunci berhaji yang harus dicamkan oleh orang-orang yang telah memasang niat melangkah ke tanah suci. Setelah kembali ke tanah air pun, tidak perlu memasang titel haji di depan nama karena sesungguhnya gelar haji itu bukan sesuatu yang menjadi pembeda dalam status sosial. Kalau dipasangkan titel haji, ditakutkan malah akan terserang penyakit riya’.

Berhaji Zaman Dahulu Lebih Berat

Kalau sekarang saja masih begitu banyak rintangan yang dihadapi ketika berhaji lalu bagaimanakah resiko yang dihadapi oleh jamaah haji ratusan tahun yang lalu? Beratnya perjuangan itu pasti akan membuat banyak orang berpikir lama untuk mempersiapkan bekal berangkat ke  tanah haram. Kalau sekarang saja jamaah haji reguler itu minimal meluangkan waktu sekira 40 hari, jamaah haji zaman dahulu harus mempersiapkan waktu selama setengah tahun. Atau bahkan lebih. Perjalanan dengan kapal laut saja bisa mencapai 30 hari. Pulang pergi, 60 hari.

Tentu kita tahu para jamaah haji di zaman dulu tidak naik pesawat terbang sebagai transportasi haji. Transportasi darat yang diandalkan saat itu hanyalah unta dan kuda. Bisa kita bayangkan, betapa berat ujian yang harus diterima oleh jamaah haji yang bertempat tinggal jauh dari tanah suci seperti Indonesia. Sehingga pada masa  dahulu, perjalanan ibadah haji selalu dilepas kepergiannya dengan tangisan, karena khawatir tidak akan kembali lagi ke tanah air.

Dulu perjalanan haji dari Indonesia menuju Mekkah bisa jadi harus mencapai 2 hingga 6 bulan. Perjalanan menyeberangi pulau-pulau hanya bisa dilakukan dengan kapal layar sederhana. Untuk melaksanakan perjalanan ibadah haji, sesorang harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk. Saat itu jamaah haji ada yang ditemukan tertunda sampai di tanah suci karena kehabisan bekal ataupun menderita sakit.

Para bajak laut, perampok, angin topan dan badai juga cukup mengancam, maka diperlukan kewaspadaan yang tinggi bagi para kafilah haji. Dalam masa-masa semacam ini mereka tinggal di negara-negara tempat perahu layar mereka singgah. Beratnya perjuangan untuk menunaikan perjalanan ibadah haji pada masa itu, membuat kita yang hidup di zaman modern ini bisa memahami mengapa bila di masa lalu seorang muslim yang telah berhasil melaksanakan ibadah haji bisa mendapatkan kedudukan terhormat di kalangan masyarakat begitu kembali ke negeri asalnya.

Mereka  kemudian mendapatkan gelar “haji” ataupun “hajjah” di depan nama panggilannya. Sebuah gelar yang umum disandang para jamaah haji yang tinggal jauh dari Baitullah, seperti mereka yang berasal dari Negara Indonesia ataupun Malaysia. Sedangkan gelar ini tidak populer di negara-negara di Timur Tengah yang dekat dengan Baitullah.

Tetapi bukan gelar ini yang mestinya dikejar setiap muslim yang sudah memantapkan hatinya berangkat ke Tanah Haram untuk menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Ada yang lebih penting dari gelar haji atau hajjah, yaitu perubahan sikap menjadi lebih baik selepas itu. Jangan sampai, walaupun insan muslim tersebut sudah berhaji tetapi kondisinya sama saja atau bahkan imannya lebih “down” dari sebelumnya. Karena sebaik-baik haji adalah haji mabrur yang balasannya surga. Kenikmatan surga dan bisa terhindar dari siksa neraka, inilah kerinduan kita bersama. //**

Tips Aman di Tanah Haram

WALAUPUN kota Mekkah dan kota Madinah merupakan kota haram yang masing-masing memiliki keistimewaan, para jamaah haji tetap harus hati-hati kalau tidak ingin menderita di negeri orang karena tas atau koper kita telah berpindah tangan untuk selamanya. Berikut adalah tips aman yang patut diwaspadai para Jamaah Haji ketika berada di Tanah Suci, diantaranya:

1. Potong rambut untuk tahalul
Usahakan Anda membawa gunting untuk bertahalul, jangan sampai Anda melakukan tahalul dengan menyewa gunting di bukit marwah, karena anda akan terjebak dengan harganya. Jika anda langsung mengiyakan untuk meminjam/menyewa gunting dari orang-orang yang tidak anda kenal, maka Anda akan ditipu dari masalah harga. Biasanya berkisar antara 50-150 real. Sungguh harga yang bukan seharusnya. Atau jika Anda akan menggunduli rambut, lakukanlah di barber shop ketika telah keluar dari Masjidil Haram.

2. Dalih “jasa mencium Hajar Aswad”
Banyak sekali di sana orang yang akan menawarkan kepada Anda “Jasa untuk bisa mencium Hajar Aswad”.  Hati-hati, jangan sampai Anda tertipu. Ibadah Haji adalah untuk bertemu dan mengharap keridhaan Allah SWT dan bukan untuk saling mendholimi sesama jamaah. Biasanya “jasa” di atas adalah akan mengawal Anda ke dekat Hajar Aswad tanpa memperhitungkan keberadaan jamaah lain yang sedang bertawaf. Mereka tidak perduli ada jamaah lain terdzolimi. Mencium Hajar Aswad adalah hal Sunah, sehingga segala perbuatan Anda jangan sampai menggugurkan nilai ibadah haji anda karena melakukan perbuatan dzolim terhadap orang lain. Mintalah kepada Allah SWT untuk digampangkan jalannya, insya Allah Anda akan bisa mencium Hajar Aswad tanpa harus keluar biaya ratusan real dengan menyewa jasa-jasa yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan.

3. Pengemis
Hati-hatilah terhadap pengemis yang berada di sekitar luar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, karena sebenarnya diantara mereka ada yang berpura-pura mengemis, padahal tujuannya ingin mencuri dan menjambret tas dan dompet yang anda bawa. Mereka biasanya tertutup dengan Hijab berwarna hitam, sehingga anda tidak akan mengetahui sebenarnya apakah mereka benar-benar pengemis ataukah mereka adalah penjambret.

4. Hati-hati menyimpan dompet
Usahakan menyimpan dompet di kaos yang memiliki resleting, Kaos ini biasa dijual dengan harga Rp 25.000 dan bisa anda beli di toko oleh-oleh haji di tanah air sebelum anda berangkat ke tanah suci. Jangan pernah menyimpan dompet di Tas ataupun saku celana belakang, karena kejadian penjambretan dan pencopetan sering terjadi.

5. Jebakan onta hias
Hal ini terjadi di sekitar Jabal Rahmah. Di sana banyak sekali orang yang menawarkan untuk menaiki onta yang telah dihiasi pernak-pernik arab. Di saat Anda akan menungganginya silakan lakukan tawar-menawar terlebih dahulu sebelumnya. Jika si pemilik melakukan pemotretan, maka jangan sampai Anda tertipu, karena semua foto yang telah dia potret harus semuanya Anda beli.

6. Biasakan menawar ketika berbelanja
Jika anda berbelanja, lakukan tawar-menawar terlebih dahulu, karena harga yang ditawarkan mahalnya bukan main. Jika anda bisa menawar maka harga sebenarnya adalah sekitar 25% saja dari harga yang mereka tawarkan. Akan tetapi tidak selamanya demikian. Biasanya hal ini terjadi ketika anda berbelanja di toko-toko yang berada di emper jalan. Lebih aman berbelanja di Mal atau toko-toko di dalam zam-zam tower atau di bin dawood mall , karena selain barang terjamin kualitasnya, harga yang ditawarkan pun harga yang sewajarnya. Dan Anda insya Allah tidak akan tertipu. //**

Serba-serbi Haji

SEORANG jamaah haji asal Purwokerto, sebut saja namanya Fulan, sedang menunggu angkutan di sebuah halte dekat maktabnya untuk ke Masjidil Haram. Setiap kali bus datang, dia mengurungkan niatnya untuk naik. Bus datang lagi, urung lagi. Datang lagi, urung lagi. Begitu seterusnya dari pagi sampai menjelang waktu zhuhur tiba.

Usut punya usut ternyata si Fulan tidak berani naik ke bus karena setiap berhenti di halte, kernetnya teriak: “Haram! Haram!”.  Si Fulan mengira kalau dia tak boleh naik ke bus karena kernetnya bilang `Haram.Haram!` seperti kondektur Metromini Jakarta yang bilang `Grogol… Grogol`.

Saat dikasih tahu bahwa Fulan bukan tidak boleh naik bus melainkan bus itu memang jurusan Masjidil Haram, dia punya ide besar. Kelak jika kembali ke Tanah Air, dia akan bangun sebuah mesjid yang akan dia beri nama “Masjidil Halal”. Supaya jangan ada orang terkecoh seperti dirinya. “Dikira Haram, ternyata Halal,” kata si Fulan.

Kisah lucu lain seputar jamaah haji juga dialami para jamaah haji yang berasal dari desa yang masih lugu-lugu, dan baru keluar negeri untuk pertama kalinya. Ibaratnya, mereka tembak langsung ke Mekkah dari desanya di Jawa sana.

Persoalannya adalah sejak di pesawat jamaah asal ndeso itu tidak faham bagaimana menggunakan toilet. Toilet di pesawat menjadi bau karena jamaah ada yang pipis di lantai kamar mandi. Ada juga yang buang air besar tidak disiram karena tidak tahu cara menekan tombol “Flush”-nya.

Begitu juga yang terjadi di pemondokan. Sang muthowif menemukan ada jamaah yang kencing di wastafel, sehingga tempat cuci tangan dan cuci muka itu bau pesing. Jamaah yang ditanya tidak ada yang mengaku. Lalu muthowif itu mengumpulkan jamaahnya untuk mencari tahu siapa yang kencing tidak pada tempatnya itu.

Sang muthowif melakukan semacam “brainstorming” untuk meminta pendapat jamaah bagaimana kamar mandi yang bersih, khususnya urinoir yang diidamkan oleh jamaah. “Apakah tempat kencing di pemondokan ini sudah baik?” tanya sang muthowif memancing.

Seorang kakek menjawab dengan lugunya, “Sebenarnya yang sekarang sudah baik Pak Kyai, cuma terlalu tinggi. Tadi pagi saya kencing susah, karena ketinggian saya bawa kursi ke kamar mandi…”  Maka tahulah sang muthowif siapa oknum jamaah yang kencing di westafel tersebut. //**

Sukses Menunaikan Ibadah Haji

SETIAP muslim yang merindukan kedekatan dengan sang Kholik, tentulah sangat mendambakan untuk bisa menunaikan ibadah haji atau setidaknya ibadah umrah. Dengan melaksanakan ibadah haji ini maka umat muslim telah menyelesaikan rukun Islam secara lengkap.

Dijelaskan dalam sebuah hadits, Muhammad Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memiliki bekal dan kendaraan, yang dapat membawanya ke Masjidil Haram, tetapi tidak melaksanakan haji, maka ia akan mati seperti seorang Yahudi atau Nasrani” (HR Tirmidzi).

Begitu tegas Rasulullah SAW bersabda, bahwa orang yang mampu tetapi tidak menjalankan ibadah haji maka ancamannya adalah mati bukan sebagai seorang muslim. Hal ini yang menjadi sebuah renungan bagi kita semua untuk mengupayakan diri agar bisa mengunjungi rumah Allah SWT dan menjalankan rukun Islam yang kelima tersebut.
Dalam pelaksanaannya, ibadah ini tidaklah mudah. Ada banyak hal yang perlu Anda siapkan dengan matang dan terencana agar ibadah Anda lancar dan mabrur. Untuk itu, berikut ini beberapa tips yang bisa dijadikan panduan agar sukses menunaikan ibadah haji.

1. Mencari informasi
Sebelum Anda berangkat ke tanah suci, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya.  Bila anda ingin berangkat dengan Haji Plus, informasi yang harus anda ketahui diantaranya tentang agen travel yang menyediakan layanan yang baik bagi keberangkatan haji, hotel yang sesuai keinginan dan budget Anda, dan fasilitas lainnya yang berkaitan dengan akomodasi Anda selama berada di tanah suci. Informasi ini dapat membantu anda dalam menjalankan ibadah haji. Bila perlu, anda bisa membuat daftar atau list mengenai informasi yang anda butuhkan dalam menjalankan ibadah haji agar tidak lupa.

2. Persiapan mental
Sebelum kita menunaikan ibadah ke tanah suci, alangkah baiknya jika Anda berusaha untuk menyucikan hati dari segala kesalahan dan penyakit hati selama ini. Persiapan ini merupakan hal utama yang harus dilakukan bagi seorang calon haji. Membersihkan hati dari dosa dan kesalahan, baik langsung kepada Allah Swt ataupun sesama manusia merupakan persiapan yang menjadi penting dalam menjalankan ibadah haji.
Niatkan ibadah semata-mata hanya karena mengharap keridhaan Allah. Persiapan ini akan bermanfaat saat kita mengikuti seluruh rangkaian ibadah yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan tawakal kepada Allah Ta’ala.

3. Persiapan fisik
Pada saat melaksanakan ibadah haji, kondisi fisik mutlak untuk diperhatikan. Di sana akan ada serangkaian kegiatan yang harus Anda laksanakan, belum lagi kondisi cuaca yang berbeda. Jika kondisi badan Anda kuat, insya Allah Anda akan mampu melewati semua kegiatan selama ibadah haji berlangsung.

Persiapan secara fisik ini merupakan persiapan yang harus diperhatikan secara matang. Hal ini dikarenakan cuaca, iklim di Mekkah berbeda dengan iklim di Indonesia. Sehingga diperlukan persiapan dan ketahanan tubuh yang kuat bagi siapa saja yang menjalankan ibadah haji di Masjidil Haram tersebut.

4. Persiapan biaya
Hal ini tentu menjadi persiapan yang tak kalah penting. Pastikan Anda menyiapkan uang pecahan riyal dalam bentuk recehan, seperti 1 riyal, 5 riyal, atau 10 riyal. Pecahan uang ini dapat anda gunakan sebagai uang untuk memberi sedekah dan lain sebagainya. Pastikan juga Anda sudah memperhitungkan uang saku untuk belanja keperluan oleh-oleh dan sebagainya karena sudah tentu kegiatan ini masuk dalam jadwal kosong Anda ketika berada di Tanah suci. Akan tetapi, ada baiknya jika setiap jamaah bersikap bijaksana dan lebih teliti dalam berbelanja. Hal ini dikarenakan bannyak barang Indonesia yang juga dijual di Tanah suci.

5. Persiapan logistik
Selain mempersiapkan mental, fisik, dan biaya, persiapan lain yang tidak kalah penting adalah persiapan logistik. Persiapan logistik ini adalah persiapan yang menjadi perlengkapan pribadi yang dibutuhkan, seperti:

  • Pelembab wajah, lotion, dan pelembab bibir. Hal ini untuk mengatasi kulit dari kekeringan akibat cuaca di sana.
  • P3K sekadarnya, seperti minyak kayu putih, plester, obat sakit perut, dan sebagainya.
  • Pakaian secukupnya, jangan terlalu banyak.
  • Jangan lupa menyiapkan obat-obatan pribadi, jika Anda mengidap penyakit tertentu.
  • Lengkapi juga peralatan Anda dengan tas jinjing atau tas ransel. Tas ini akan Anda rasakan manfaatnya ketika melakukan rangkaian ibadah selama di tanah suci.
  • Jangan lupa membawa buku doa-doa dan dzikir.
  • Hal kecil namun penting adalah membawa botol minuman yang memiliki tali untuk disampirkan di pundak atau leher. Botol ini berguna untuk membawa air zam-zam, agar Anda tidak kehausan.

Persiapan dalam pelaksanaan ibadah haji memang dirasa sangat diperlukan, mengingat rangkaian ibadah haji membutuhkan waktu, energi, dan biaya yang besar agar dapat membuat ibadah haji tersebut berjalan dengan lancar.

Terakhir, hal yang harus diperhatikan lainnya adalah berhati-hati dan selalu waspada ketika berada di Tanah suci. Kejahatan tidak hanya ada di wilayah-wilayah tertentu saja, kejahatan bisa terjadi dimana saja termasuk juga kejahatan di Tanah Suci.

Kejahatan sering terjadi akibat kecerobohan yang dilakukan oleh para jamaah haji. Banyak kejahatan yang terjadi di Tanah suci, seperti pencopetan, pencurian, pemerasan, penculikan, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, sebaiknya Anda tidak bepergian sendiri selama berada di sana. Ajaklah beberapa teman jika Anda ingin pergi ke suatu tempat. Di tanah suci tersebut ada banyak pencuri yang selalu siap mengambil harta benda saat Anda lengah!

Akhir kata, dengan adanya artikel yang membahas tentang tips dalam menjalankan ibadah haji ini, semoga Anda benar-benar bisa melakukan persiapan yang lebih baik dan pulang ke tanah air dengan selamat dan mendapatkan haji yang mabrur. Amiin. //**

Olahraga Sebelum Berangkat ke Tanah Suci  

PENYESUAIAN kemampuan fisik untuk melakukan aktivitas haji selama di Arab Saudi mutlak diperlukan. Sebelum berangkat, calon jamaah sangat dianjurkan melakukan aktivitas olahraga rutin yang ringan atau aklimatisasi.

Jenis olahraga ringan seperti rutin berjalan kaki cepat atau melakukan joging ringan. Ini agar kondisi tubuh lebih mudah mengalami penyesuaian saat melaksanakan ibadah haji.

Tapi, jangan sampai tubuh kelelahan menjelang keberangkatan. “Yang perlu diingat, kondisi tubuh dijaga agar tidak terlalu lelah menjelang hari keberangkatan ke Tanah Suci,” ujar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga Aditama.

Untuk mendapatkan aktivitas yang optimal, kegiatan yang dilakukan sebelum berangkat agar disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing. Calon jamaah harus menyusun rencana waktu dan pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Selain itu, sangat dianjurkan mengenal proses perjalanan ibadah selama di Tanah Suci dan kondisi alam di Arab Saudi.

Berikut beberapa tips mempersiapkan diri untuk berangkat haji:

• Lakukan general check up. Jika sedang menderita suatu penyakit terutama penyakit infeksi segera hubungi dokter. Apabila Anda mempunyai sakit bawaan, penyakit menetap, mintalah semua perlengkapan medis yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit tersebut kambuh pada saat melaksanakan ibadah.

• Melakukan gaya hidup sehat dengan makanan yang seimbang dan olahraga yang teratur. Olahraga dapat menjaga kebugaran tubuh anda. Tentu saja, olahraga ini harus jauh-jauh hari dilakukan sebelum Anda berangkat haji.

• Cuaca di tanah suci sangat ekstrim. Membawa payung, hand body yang sesuai dengan kulit, serta pakaian yang dirasa nyaman tentu akan sangat membantu sekali. Sangat disarankan untuk menyiapkan baju hangat, kaus kaki, kaus tangan, dan tutup kepala.

• Membiasakan banyak minum air putih tentu akan sangat membantu sekali. Banyak minum air, akan mengurangi resiko Anda untuk terkena dehidrasi. //*

Sumber: beritanuansa.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s