“Memahat” Karakter Anak


ImageKarakter anak terbentuk dari pola pengasuhan dan pribadi orangtua. Ibaratnya, orangtua merupakan “pemahat” dan anak adalah “pahatan” yang diproses mulai dari usia dini sampai beranjak dewasa.

Ada pameo yang bilang pendidikan yang paling baik adalah pendidikan yang dilakukan melalui contoh. Rumus ini selaras dengan prinsip dakwah nabi, dakwah bil hal, atau dakwah dengan perbuatan. Dengan demikian anak memperoleh model untuk dijadikan teladan dalam membentuk pengetahuan dan karakternya.

Menurut psikolog Dra Nana Maznah P, M.Si, karakter bukan sekadar perkataan tentang siapa kita. “Kita akan menentukan apa yang kita lihat, sedangkan apa yang kita lihat akan menentukan apa yang kita perbuat,” ujar Nana Maznah yang juga anggota Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII. Karakter seseorang tidak dapat dipisahkan dari perbuatan.

Menurut Nana Maznah pribadi orangtua sebagaimana ‘pemahat’ yang membentuk karakter anak, yang utama. Bila pola pengasuhan anak tepat dan orang tua juga mencontohkan hal-hal yang positif dari pribadinya, maka karakter anak yang terbentuk juga baik.

Dalam hal pembentukan karakter anak, yang paling berpengaruh besar diantara kedua orang tua adalah peran seorang ibu. Sudah menjadi qodarnya, para wanita yang mengambil peran mulai dari terbentuknya janin sampai melahirkan seorang calon generasi penerus. Seorang wanita atau ibu, diberikan kelebihan berupa perasaan halus dan lembut serta kesabaran yang belum tentu dimiliki oleh semua kaum pria.

Bagaimana tidak? Mengajari anak mengucapkan kalimat tauhid, cara beribadah, cara makan, bahkan menjadikan semua pengajaran itu menjadi kebiasaan yang melekat, semua itu butuh kesabaran dan ketelatenan tinggi. Dan wanita, dengan kelembutannya dapat memberikan sentuhan halus pada seorang anak, yang sampai kapan pun akan membutuhkan pribadi dan karakter seorang ibu. Namun, tetap harus ada peran seimbang antara kedua orangtua. Sehingga tidak berat sebelah.

Seperti contoh kasus anak seorang superstar Indonesia, Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani atau juga dipanggil Dul yang menjadi tersangka sekaligus korban dalam kecelakaan di kilometer 8 tol Jagorawi. Begitu kasus ini mencuat, masyarakat Indonesia bertanya-tanya, bagaimanakah pengawasan Ahmad Dhani terhadap ketiga anaknya yang baru beranjak dewasa. Mengingat pada kasus perceraiannya dengan Maia Estianty yang juga seorang musisi, saat itu Ahmad Dhani menyatakan sanggup mengasuh ketiga buah hatinya sehingga hak asuh anak jatuh ke tangan Ahmad Dhani. Dan bagaimana dengan terjadinya kecelakaan yang nyaris merenggut nyawa anak ketiganya?

Pada akhirnya, Dul terus menerus memanggil nama ibunya, Maia. Disinilah bukti bahwa peran ibu tidak akan pernah bisa lepas dari penglihatan dan pemikiran seorang anak. Anak akan terus membutuhkan kasih sayang yang lebih dari seorang ibu di samping kasih sayang seorang ayah.

Wanita yang berperan sebagai ibu, harus mengerti peran dan fungsinya dalam keluarga. Mengerti kelemahan dan kekuatan diri, memahami apa yang perlu dibenahi dan apa yang perlu ditingkatkan agar nantinya dalam mendidik anak mengerti kapan mengatur anak dan kapan mengasuh anak. Karena menurut Nana Maznah dua hal yang berbeda. Anak perlu diatur kapan waktu makan, kapan tidur, kapan belajar dan lain-lain, agar anak terbiasa disiplin. Dan anak juga perlu diasuh dengan nilai-nilai kehidupan untuk membangun karakter anak. Ini berguna bagi masa depan anak.

Anak ibarat pahatan sedangkan sang ibu adalah pemahat. Seorang pemahat perlu mempelajari struktur kayu, sketsa desain yang akan dibuat, dan kelengkapan alat-alat yang menunjang pembuatan pahatan. Semua itu butuh ketelitian agar proses memahat tidak terkendala. Dalam memahat pun, dibutuhkan kesabaran dan keuletan. Sehingga hasil pahatan memuaskan.

Walaupun, seringkali proses memahat tidak semulus rencana. Kegagalan adalah pelajaran bagi sang pemahat. Begitu juga dalam hal mendidik anak. Kepribadian anak yang sudah bawaan dari diri anak tersebut perlu diamati dan diteliti. Apa yang anak butuhkan, apa yang orang tua harapkan harus direncanakan sedemikian rupa. Anak juga diajarkan untuk memahami keinginan orang tua disamping keinginannya pribadi. Hal ini dapat berhasil apabila antara orang tua terutama ibu dan anak terjalin komunikasi yang baik. Setiap masalah yang terjadi antara orang tua dan anak diselesaikan dengan baik dan saling memahami.

Namun prakteknya, tidak semua ibu mengerti dan memahami bahwa mendidik pembentukan karakter anak itu penting. Dengan dalih kesibukan, banyak para orangtua terutama ibu, melewatkan masa-masa tumbuh kembang anak yang seharusnya menjadi kewajibannya. Lebih aneh lagi, banyak ibu-ibu yang tidak sibuk diluar rumah juga kurang memperhatikan pendidikan anak. Padahal, anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan di akhirat. Setiap upaya yang dilakukan orangtua untuk anak pastinya akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Taala.

Kunci keberhasilan pendidikan anak dalam keluarga sebenarnya tidak hanya dari seorang ibu, namun peran ayah juga diperlukan. Dengan adanya fungsionalitas peran ayah dan ibu, keluarga seimbang,” ujar Nana Maznah. Meski begitu, realita zaman sekarang, banyak juga wanita yang membesarkan anaknya seorang diri dan berhasil. Ini yang dapat dijadikan contoh bagi para orangtua. Hal ini juga tidak lepas dari pribadi baik dalam diri wanita tersebut.

Semakin berkembang zaman, semakin berkembang pula cara mendidik anak. Hendaknya orangtua terus mengawasi, mengamati dan mengikuti perkembangan anak. Memperbaharui sistem pendidikan pada anak sesuai perkembangan zaman. Agar di masa depan, tumbuh generasi-generasi cerdas yang lahir dari pola pengasuhan tepat dan pribadi yang positif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s