Peran Ibu dalam Pertumbuhan Fisik dan Emosi Anak


Peran-Ibu-dalam-Pertumbuhan-Fisik-dan-Emosi-AnakPeran ibu sangat penting bagi anak. Karena awal usia pertumbuhan dan perkembangan anak baik secara fisik maupun emosional tidak bisa dilepaskan dari peran seorang ibu. Ada anggapan, ibu yang dituntut harus memberi perhatian sepenuhnya kepada anak. Seorang ibu itu harus di rumah dan hampir sepanjang hari harus bersama anaknya.
Pendapat itu dinilai sudah tidak tepat lagi. Kehadiran mendampingi anak bukan berarti harus mengekang keinginan dan aktivitas seorang ibu. Ibu yang bekerja dan ingin meniti karier di kantornya tetap bisa memberi perhatiannya kepada anak.

Seorang ibu yang bekerja di luar rumah tetap bisa melaksanakan fungsinya sebagai ibu dengan baik dan lembut. Sambil memberi perhatian kepada anaknya, ibu juga tetap mempunyai kesempatan berprestasi di tempat kerjanya. Yang penting, saat anak membutuhkan perhatian, ibu bisa memenuhinya.

Kapan ibu memberi perhatian pada anaknya? Padahal ia bekerja dan waktunya sangat terbatas. Pada saat bangun pagi hari, kalau bisa anak sudah bisa melihat wajah ibunya. Kemudian ibu menyapa, berkomunikasi dan bertanya pada anaknya.

Bagaimana jika ibu harus berangkat pagi sekali dan anak belum bangun? Kalaupun anak masih belum bangun, ibu bisa memberi ciuman atau belaian lembut di kepala anaknya. Lalu bisikan kalau mamanya mau pergi kerja lebih dulu. Anak pasti akan merasakan apa yang dilakukan ibunya.

Di tengah-tengah kesibukan bekerja di siang hari, ibu disarankan menyempatkan diri menelepon. Sehingga anak akan mendengarkan suara ibunya. Apabila anak itu sudah bisa membaca, ibu bisa mengirim SMS (short message service) via telepon selulernya. Artinya, sang ibu masih bisa menyapa dan berkomunikasi di tengah-tengah kesibukannya.

Apa yang dilakukan ibunya jelas akan dirasakan sang anak. Anak merasakan perhatian berupa sapaan, pertanyaan dan berdialog. Hubungan agar anak merasa adanya kedekatan bisa pula dilakukan saat menjelang tidur. Bila ada waktu dan kesempatan sebaiknya ibu mengajak anaknya tidur. Lalu sebelum tidur sempatkanlah membacakan buku cerita. Di situ kehadiran ibu bisa dirasakan oleh anak secara efektif.

Sebaliknya ibu yang tidak bekerja dan sepanjang hari berada di rumah, belum tentu anak akan merasakan adanya kedekatan. Bisa saja kendati dekat secara fisik, tetapi ibu itu sibuk sendiri, seperti memasak, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Di sela waktu luangnya, ibu justru lebih asyik menonton sinetron televisi. Kalau keadaan seperti itu, anak tidak akan merasakan kedekatan walau ibunya selalu bersama anaknya di rumah.

Disarankan, pada saat-saat penting, ibu yang bekerja selayaknya menyempatkan mengisi perhatian. Sebaiknya saat libur seharusnya baby sitter atau pengasuh berhenti mengasuh. Saat libur ibu memberi perhatian sepenuhnya. Memang kualitas lebih penting, tetapi kuantitas juga tidak kalah pentingnya.

Lalu, bagaimana sikap ibu dalam menghadapi anaknya yang sakit. Jangan panik. Untuk itu, kaum ibu harus membekali diri dengan pengetahuan mengenai penyakit dari yang ringan hingga berat. Dengan pengetahuan akan membuat ibu lebih tenang saat anaknya sakit. Karena kepanikan selain membuat bingung dan gelisah juga berdampak pada anak. Anak menjadi rewel karena pengaruh emosi ibunya yang tidak tenang. Jadi, kelembutan dan kesabaran ibu diperlukan dalam merawat anak yang sakit. (yz)

Sumber: perempuan.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s