Cara Budi Daya Ikan Lele


Seputar Budi Daya Ikan Lele

Cara-Budi-Daya-Ikan-Lele

Sobat Generus Indonesia, dalam pengertian Usaha budi daya lele terdapat segmen segmen kegiatan yang dapat dibagi dalam beberapa kelompok.

  • a. Pembenihan
  • b. Pendederan
  • c. Pembesaran
  • d. Produksi Pakan
  • e. Pemasaran

Dalam skala kecil maupun besar seseorang dapat saja melakukan konglomerasi dengan melakukan semua segmen segmen tersebut di atas, ataupun sebagian saja bahkan spesialisasi pada salah satu segmen saja. Sebagai gambaran lengkapnya akan diuraikan satu persatu kelebihan dan kendalanya tiap tiap segmen.

A. Pembenihan

Ikan lele merupakan ikan yang sangat potensial untuk dikembangbiakan. Karena sepasang induk ikan lele dapat bertelur dan menghasilkan 20 ribu sampai 60 ribu larva lele yang bisa menghasilkan 2 -5 ton ikan lele konsumsi setelah 4 bulan dipelihara. Bandingkan dengan jenis ikan lain yang produksi anakannya seperti nila dan gurami yang hanya puluhan sampai seratus anak sekali pijah dan memerlukan waktu sekitar setahun untuk dapat dikonsumsi. Ataupun memerlukan 2-3 bulanan hanya sekedar untuk memproduksi benih ikan

Dalam segmen budidaya pembenihan lele ini, penjualan hasil produksi sudah dapat dilakukan mulai dari harga usia 4 hari dengan harga 2-4 rupiah per ekor ataupun dibesarkan lagi dampai ukuran 2-3 cm dalam waktu sekitar 3 minggu sesuai dengan jadwal penyortiran pertama. Harga pasaran ukuran 2-3 cm tersebut sudah berkisar 40-60 rupiah per ekor.

Pemeliharaan dapat dilanjutkan lagi selama 6 minggu dengan tujuan ukuran benih secara umum minimal 3-4 cm dengan nilai jual 100-125 rupiah per ekor.

Dengan demikian kita sudah bisa menghasilkan mulai dari minggu pertama sampai 6 minggu dalam bentuk penjulan benih lele.

Kunci keberhasilan dari pembenihan ini salah satunya terletak dari pemilihan indukan lele yang berkualitas, serta menjaga pakan induk dan pakan benih yang berkualitas juga sehingga telur yang diproduksi sehat daya tahan benih pun meningkat.

Dalam tahapan larva sampai dengan usia benih tiga minggu, pakan utama dari benih adalah kutu air (Daphnia Moina) dan dilanjutkan dengan cacing sutera. Disini mulai terdapat kendalanya yaitu harga pakan yang cukup mahal dan ketersediaan yang tidak ada disemua tempat dan di setiap waktu. Cacing sutera selama ini lebih banyak mengandalkan tangkapan dari alam yaitu sungai sungai yang terdapat aliran bahan organik. Dalam kondisi air aliran deras menjadi kendala karena cacing bisa hanyut dan kendala keselamatan bagi pencari cacing sutera tersebut sehingga terjadi kelangkaan di pasaran. Dalam kondisi seperti ini sangat berpengaruh dengan keselamatan benih ikan lele yang kita pelihara.

Kendala yang paling menakutkan bagi pembenih adalah kondisi cuaca yang berubah drastis, terutama hujan lebat yang terjadi tiba tiba sehingga menimbulkan hujan yang bersifat asam, sehingga bisa menyebabkan kematian massal bagi benih yang masih usia muda. Hal ini dapat dicegah dengan membuat green house dengan menggunakan bahan plastik UV. Tentunya biaya infrastruktur akan lebih banyak.

Bagi pebisnis pemula kendala yang paling besar lainnya adalah tidak dapatnya menembus pasar benih karena, pengusaha pembesaran ikan lele lebih senang mengambil benih dari pembenih yang berpengalaman, hal ini dapat disikapi dengan melakukan kerjasama usaha serta supervisi dari pelaku pembenih lama sehingga baik kualitas benih maupun penyerapan pasar bisa mengikuti yang sudah ada. Jadi sebelum melakukan usaha pembenihan ini lakukanlah penelitian terhadap lingkungan mengenai pasar atas benih yang dipoduksi serta ketersediaan pakan berupa cacing sutera (untuk kutu air dapat diproduksi sendiri dengan melakukan kultur air yang sesuai dengan kebutuhan kutu air).

Budidaya ikan tidak semata mata hanya memikirkan ikannya saja tapi dibalik itu yang paling penting adalah bagaimana melakukan budidaya air sesuai dengan kebutuhan ikan berdasarkan usia dan kondisi alam setempat. Untuk lebih rincinya insya allah akan dibahas tersediri mengenai hal ini.

B. Pendederan

Pendederan ini merupakan segmentasi kedua yang mungkin dilakukan oleh pebudidaya lele, konsentrasi pendederan ini adalah modal berupa kolam yang lebih besar lagi dan pakan yang lebih terukur, dengan kepadatan tebar benih sebanyak 2000 per meter persegi maka disamping kemampuan teknis budidaya benih ketersediaan lahan merupakan syarat utama untuk memilih segmen ini.

Bentuk dan jenis kolam yang umum digunakan adalah kolam yang terbuat dari terpal, yang dibuat di dalam ataupun diatas tanah dengan ukuran tidak terlalu luas, sekitar 4–\9 m2, untuk memudahkan pengelolaan air dan memudahkan dalam penyortiran. Bahan baku dari pendederan ini bisa saja dari segmen pembenihan/pemijahan milik sendiri, ataupun membeli dari petani pembenih mulai dari ukuran 2-3 atau 3-4 cm.

Bagi pendeder yang membeli dari petani pembenih akan sangat dimudahkan karena berhitung secara matematis dari harga pebelian dan modal pakan yang dipakai berupa pelet halus khusus benih dengan harga jual benih sesuai dengan ukuran pihak pemesan. Tingkat keberhasilannya juga ditentukan dengan tingkat survival benih tersebut, kalau kondisi normal bisa saja benih bertahan mendekati 100 persen, namun kalau penanganan tidak sempurna, benih stress dan mudah terserang penyakit, benih bisa mati secara massal dalam waktu singkat. Biasanya ukuran yang diinginkan oleh petani pembesaran adalah ukuran 7-8 atau 8-9, karena seukuran tersebut benih sudah memiliki daya tahan yang cukup dan tingkat pertumbuhan yang seragam.

Tentunya ukuran tersebut telah melalui proses sortir, karena untuk mencapainya memerlukan waktu kira kira 2-3 bulan. Dalam rentang waktu itu, sebagaian benih yang biasa disebut “jumper” bisa berukuran sampai 15 cm, tapi ada juga yang masih berkutat di ukuran 3-4, hal ini disebabkan oleh faktor genetik dan kwalitas induk maupun kwalitas perawatan induk.

Petani yang berpengalaman tentunya akan makin mahir mengelola indukan maupun anakan benih ikan sesuai dengan kondisi alamnya, karena pengalaman disuatu tempat belum tentu bisa diterapkan secara sama ditempat lain karena kondisi air dan cuaca yang berbeda. Sehingga seseorang harus juga mengetahuinya secara ilmiah tidak sekedar berdasarkan pengalaman saja sehingga bisa mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi sewaktu waktu. Sebagai pembanding analisa kelayakan usaha, untuk pemijahan, adalah nilai pembelian indukan (bisa sangkuriang, masamo, dumbo, phyton dsb) ditambah dengan biaya rutin pakan induk dibandingkan dengan benih yang dihasilkan mulai dari larva sampai ukuran 3-4, tentunya tidak mudah menampilan perhitungan laba ruginya. Namun untuk pendederan lebih terukur sehingga bisa diperhitungakn fix cost maupun variabel costnya.

C. Pembesaran

Di segmen pembesaran ini merupakan segmen yang lebih berupa padat modal. Karena komponen biaya terbesar dari segmen ini adalah pakan, sebagai gambaran, kita mengenal istilah FCR (Food Convertion Ratio) yang bisa diartikan sebenyak berapa berat pakan untuk memperoleh ikan seberat 1 kg.

Dari beberapa teknologi budidaya lele FCR standar ideal adalah 1:1 artinya untuk mendapatkan satu kilo ikan memerlukan satu kilo pakan, namun dengan berkembangnya teknologi khsusnya dibidang prebiotik, saat ini pun bisa diperoh FCR 0.6, yaitu dibutuhkan 600 gr pakan untuk mendapatkan 1 kg ikan segar. Dalam budi daya ikan, ukuran konsumsi yang lazim saat ini adalah satu kilo terdiri dari 6-10 ekor, tapi ada juga yang menginginkan lebih kecil ataupun lebih besar dari ukuran tersebut.

Maka untuk lebih gampangnya membuat analisa kelayakan ekonomisnya dapat digambarkan sebagai berikut : Untuk memperoleh satu kg ikan segar isi 10 ekor dibutuhkan benih ikan ukuran 7-9 seharga @ 200 rupiah dan ditambah dengan pakan seberat satu kilo senilai Rp. 8000, maka dibutuhkan modal pakan dan benih sebesar Rp. 10.000, dan dengan nilai jual ditingkat petani sebesar 14-15 rb perkilo masih diperoleh selisih 4-5 rbu per kilogram untuk menutupi biaya tetap berupa penyusutan kolam, perawatan kolam dan air, biaya tenaga kerja.

Dengan gambaran gross pfofit tersebut kita bisa menghitung sesuai dengan kemapuan kita, apakan kita mengeluarkan biaya upah tambahan atau dikerjakan sendiri, apakah kolam air dipompa dari sumur yang tentunya menambah biaya listrik atau air bisa diperoleh gratis dari sumber alam. Semua varibel tersebut harus diperhitungakan sebelum melakukan usaha, baik usaha bisnis ikan ini maupun usaha apa saja. Jangan sampai secara teoritis saja tidak menguntungkan tapi nekad dilaksanakan, itu namanya bunuh diri, tapi kalau secara teoritis hitungan ekomnomisnya bagus, dalam praktiknya belum tentu sesuai, nah tergantung kita menyikapinya, mau terus maju belajar atau putus ditengah jalan.

Hati hati dengan mitos yang berlaku di seputar budidaya lele ini. Kadang benar tapi tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa jadi salah sama sekali. Contoh, ikan lele bisa hidup disembarang air bahkan air kotor comberan pun bisa tetap hidup. Anggapan itu ada benarnya, namun kalau kita ingin ikan kita berkembang sesuai dengan teori FCR tersebut tentunya tidak sembarang hidup saja yang diinginkan, tapi hidup dengan perkembangan pertumbuhan berat badan yang bernilai ekonomis. Jadi kalau ada yang beranggapan memelihara ikan lele itu gampang, saya yakin bahwa orang tersebut tidak pernah memelihara lele secara ekonomis.

Dibalik hitungan nilai jual dan modal di atas. Hal yang tak kalah pentingnya dalah budi daya air. Karena padadasarnya budidaya ikan adalah budidaya air tempat ikan itu hidup. Mungkin kita sering mendengan istilah biofloc, Redwater system, Green Water system, Black Water atau sitilah istilah lainnya mengenai pengelolaan air, tapi sebagaimana iklan salah satu produk minuman, terserah apa saya airnya yang penting ikan sehat dan dapat berkembang dengan baik, yang jelas dengan budidaya air yang baik, dapat diketahui dengan aroma air tersebut, kalau air tersebut tercium aroma tak sedap seperti bau amonia–kotoran, berarti air tersebut tidak dikelola dengan baik dan ikan akan perlahan mati atau secara cepat bisa mati masal.

Dengan pengelolan air yang baik, kolam tidak berbau dan ramah lingkungan, dari penampilan foto kondisi kolam diatas, dapat diketahui air berwarna merah, silakan buktikan ke lokasi. Insya Allah tidak dijumpai bau tidak sedap, dan air pun tidak perlu diganti ganti sampai panen. Untuk lebih lengkapnya pembahasan masah air. Nanti akan kami sampaikan artikel tersendiri untuk membahasnya.

D. Produksi Pakan

Tidak dipungkiri lagi bahwa sebagian besar biaya produksi usaha budidaya lele ini adalah biaya pakan, Lele adalah binatang omnivora yang lebih cenderung sebagai karnivora yaitu binatang yang membutuhkan protein hewani untuk pertumbuhannya. Untuk pakan utama lele ini adalah pelet buatan pabrik yang merupakan pelet dengan kandungan protein terbesar dibandingkan dengan pelet untuk ikan jenis lainnya.

Kalau untuk lele memerlukan kandungan protein minimal 30 persen sedangakan ikan yang bersifat herbifora hanya memerlukan sekitar 18 persen, hal ini berbanding lurus dengan bahan utama pelet yang terdiri dari tepung ikan yang merupakan komponen utama yang juga harganya yang paling mahal dibandingkan bahan baku lainnya berupa dedak halus atau tepung jagung.

Ada dua macam pelet berdasarkan berat jenisnya yaitu pelet yang mengapung dan tenggelam, untuk memproduksi pelet pengapung menggunakan mesin khusus pelet terapung yang harganya juga mahal dan hanya efektif kalau digunakan untuk produksi masal, rentang harga mesin pelet terapung ini antara 200 – 500 jt, tergantung jenis dan kapasitasnya. Sedangkan untuk mesin pelet tenggelam bisa sangat sederhana mulai dari modal 500 ribu sampai 5 juta sesuai juga dengan kapasitasnya dan tenaga penggeraknya. Tentunya dari dua jenis pelet ini ada kelebihan dan kekurangannya. Namun kebanyakan petani lele lebih senang menggunakan pelet tenggelam untuk pakan ternaknya.

Gambaran tersebut merupakan hal pertama yang harus diketahui bagi pengusaha lele yang mungkin berusaha juga untuk membuat pakan sendiri atau bahkan berkecimpung khusus di bidang pakan ikan. Peluang bisnisnya sangat terbuka lebar, karena walaupun harga pelet makin naik, namun petani tetap menggunakan pelet ikan pabrikan untuk ikannya dibandingkan dengan pakan alternatif yang sering kita dengar berupa bangkai ayam, kotoran ayam, sosis BS atau sebagainya, karena dapat disamakan dengan pembesaran ayam broiler, ayam broiler tersebut diberi pakan khusus sesuai dengan komposisi yang sesuai sehingga pertumbuhannya maksimal dan dapat dipanen dalam waktu yang ditentukan, demikian pula halnya dengan ikan lele. Komposisi kandungan pakan sangat berpengaruh terhadap perkembangan berat dan kesehatan lele sehingga kita tidak bisa seenaknya saja memberi pakan ikan kita dengan jenis sembarangan kalau ingin menerapkan usaha dengan SOP yang benar.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk menggeluti usaha pakan ini adalah, pengetahuan tentang formula pakan, SDM pekerja, Permodalan untuk mesin, bangunan dan bahan baku serta gudang, dan yang tak kalah penting adalah daya serap pasar atas pakan yang kita buat, apakah kita dapat menjual pakan dengan tingkat persaingan yang ketat antara produsen pakan nasional.

Untuk sementara ini mungkin yang lebih relevan adalah pembahasan pakan alternatif yang gunanya sebagai pakan selingan ikan lele. Sekilas pakan alternatif sangat membantu petani lele untuk menekan pengeluaran biaya pakan, namum tenyata kalau tidak dilakukan dengan baik ternyata sangat beresiko atas kesehatan lele bahkan dapat menyebabkan kematian masal mulai dari bibit masih kecil maupun saat menjelang panen.

Contohnya penggunaan sosis BS, Sosis BS tersebut merupaan barang kadaluarsa yang kemungkinan besar juga mengandung jamur beracun, atau penggunaan roti BS, juga sama resikonya. Ada beberapa pakan alternatif yang aman dikonsumsi oleh lele khususnya di daerah persawahan yaitu keong mas atau bekicot, kedua jenis hewan itu sangat ideal untuk pakan lele menjelang panen karena kandungan proteinnya sangan tinggi dan dapat memacu pertumbuhan dengan cepat, apabila di daerah sekitar kolam berlimpah kedua hewan tersebut, maka daerah tersebut sangat potensial untuk usaha peternakan lele.

Penggunaan bangkai ayam juga serig digunakan oleh petani lele tradisional, namun itu merupakan pilihan bagi petani yang tidak bersinggungan langsung dengan lingkungan, bagi kami sangatlah penting menjaga imej lele sehat dan hiegenis sehingga tidak menggunakan pakan pakan yang berkonotasi negatif untuk kebutuhan kolam kami.

E. Pemasaran

Perlu diketahui bahwa dalam usaha lele ini juga terdapat tata niaga yang berlaku dari petani lele sampai dengan konsumen lele berupa rumah tangga atau rumah makan. Beberapa rantai perdagangan lele ini adalah, yang pertama dimulai dari petani lele, lalu dijual kepada pengepul lele yang sering juga disebut tengkulak lele, lalu dijual lagi kepada distributor lele dan dilanjutkan kepada pengecer lele. Peran ganda sering dilakukan oleh pengepul dan distributor untuk menyalurkan lelenya.

Perbedaan mendasar dari pengepul dan distributor lele ini adalah kalau pengepul, mereka akan mencari lele dari petani yang harganya paling menguntungkan di sekitar kota bahkan untuk kebutuhan jakarta pada pengepul ini bisa mencari ikan lele sampai ke daerah Indramayu dan Pekalongan yang merupakan sentral pengusaha lele. Tentunya dibarengi dengan modal transportasi dan pengetahuan logistik khusus ikan lele. Sedangkan distributor, lebih cenderung berupa pedagang yang menguasai jaringan pasar tingkat pengecer, apa bila pedagang lele yang memiliki peran ganda ini tentunya akan menikmati keuntungan lebih besar.

Demikian halnya bagi petani lele, kalau mereka hanya mengharapkan penjualan kepada tengkulak tentunya akan sangat berat karena tidak seperti yang dibayangkan oleh masyarakat umum mengenai harga lele, kalau harga lele beriksar 18 rb sampai 20 ribu, maka dapat diperkirakan bahwa harga di petani lele hanya berkisar 13-14 ribu saja. Tentunya sangat kecil margin keuntungan yang diperoleh, maka bagi petani lele yang memulai dari skala kecil hendaknya dapat menjual langsung ke konsumen atau pun minimal kepada pengecer lele.

Spread harga lele dari petani mulai 13 sampai dengan konsumen 18 ribu itu didistribusikan ke-3 elemen tadi, yaitu pengepul/tengkulak, distributor dan pengecer. Jadi kemampuan petani untuk memutus rantai perdagangan ini sangatlah perpengaruh untuk nilai jual. Berarti petani pun harus berlaku sebagai pedagang juga.

oleh: H. Iskandar Zulkarnain
Sumber: forum-ub.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s