Keutamaan Istighfar


“Sesungguhnya sebagian dari keterangan itu niscaya (betul-betul) menyihir.” (H.R. Muslim).

Apa hubungannya istighfar dengan sihir? Tak ada. Tapi saya sengaja ingin mengetengahkan sebuah cerita yang mudah-mudahan bisa memacu adrenalin kita untuk rajin beristighfar. Makanya, terbersit secercah harapan setelah membaca cerita di bawah ini, kita semua bisa menjadi ahli istighfar. Cerita di bawah bisa menyihir kita semua menuju ke sana. Semoga.

Dalam Kitab Shifatus Shafwah karangan Ibnul Jauzi, Sang Imam Besar – Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Abu `Abd Allah al-Shaybani – yang sering dikenal dengan Imam Hambali, kemalaman di suatu negeri, ketika menempuh salah satu perjalanannya. Ia pun kebingungan untuk mencari tempat bermalam. Tak ada penginapan, yang ada sudah penuh, hingga akhirnya ia menemukan sebuah masjid untuk bermalam. Akan tetapi sayang seribu sayang, setelah meminta izin kepada pengurus masjid setempat untuk bisa istirahat di masjid barang satu malam, permintaan itu ditolak.

Sayang sekali, kendati ketenaran Imam Ahmad sudah sampai di seluruh pelosok negeri, namun tak banyak orang yang tahu bagaimana sosok dan rupa sang imam. Di negeri tersebut, sudah banyak ajaran dan pengikut mazhabnya, tapi karena keterbatasan informasi dan teknologi, tak ada orang yang mengenal siapa dirinya. Tentu di zaman itu belum ada televisi, internet, sms, apalagi media sosial seperti facebook dan twitter. Karena itulah, pengurus masjid tak memperbolehkannya menginap di masjid setempat. Sang imam besar pun sempat luntang-lantung malam itu, hingga akhirnya seorang pengusaha roti bersedia menerima beliau di rumahnya.

Ketika sampai di rumah si tukang roti, Imam Ahmad terus memperhatikan amalan yang diwiridkan terus oleh sang tuan rumah. Menurutnya, amalan tersebut sederhana namun istimewa. Sang tuan rumah senantiasa beristighfar dalam setiap aktivitas yang ia lakukan. Lidahnya selalu saja basah dengan zikir dan meminta ampunan Allah.

“Wahai tuan, apa fadhilah (keutamaan) yang tuan dapatkan dari amalan (selalu beristighfar) tersebut?” tanya Imam Ahmad penasaran.

Sang tuan rumah tersenyum. “Fadhilahnya, setiap doa yang saya panjatkan kepada Allah, pasti selalu dikabulkan-Nya,” jawab si tuan rumah. Imam Ahmad pun salut kepadanya.

“Tapi, ada satu doa saya yang hingga saat ini belum dikabulkan Allah,” sambung sang tuan rumah. Imam Ahmad pun kembali penasaran, kemudian ia bertanya; “Doa apakah itu, tuan?”

“Dari dahulu, saya berdoa kepada Allah agar saya dipertemukan dengan imam mazhab saya, yakni Imam Ahmad bin Hanbal. Namun hingga saat ini, saya belum juga dipertemukan dengan beliau,” tutur sang tuan rumah.

Mendengar itu, Imam Ahmad kaget bukan kepalang. Inilah rupanya yang memaksa seorang Imam Besar luntang-lantung tengah malam. Ini juga alasannya, mengapa Imam Ahmad diusir dari masjid dan dipaksa berjalan tengah malam hingga akhirnya sampai dipertemukan dengan si tukang roti itu. Semuanya sama sekali bukan suatu kebetulan, melainkan skenario Allah SWT untuk menjawab doa si tukang roti.

Menurut pemahaman saya, kisah tersebut merupakan sebuah cerita inspiratif yang dapat membuat semangat kita terpacu. Alhasil lebih luas, lebih dalam dan lebih yakin lagi dalam memahami hadits berikut ini.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هُمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “

Dari Abdullah bin Abbas, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar niscaya Allah akan menjadikan baginya kelapangan dari segala kegundahan yang menderanya, jalan keluar dari segala kesempitan yang dihadapinya dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud no. 1518, Ibnu Majah no. 3819, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 6421 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 10665)

Atau kadang kita memang tidak bisa merasakan kebenaran hadits di atas, walau dengan cerita yang sangat menyentuh sekalipun. Sebab apa yang kita minta memang hal-hal yang sederhana. Untuk membuktikan silahkan dicoba dengan sebuah cita-cita yang besar, dengan tingkat kesulitan yang tinggi dan mulailah dengan memperbanyak istighfar untuk memulainya. Insya Allah terkabul.

Ayo terus beristighfar.
Oleh: Faizunal Abdillah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s