Mengasah Memori Anak


PERAN orangtua sangat penting dalam proses pembentukannya dalam membentuk memori anak. Hal tersebut harus dilakukan sejak dini agar anak dapat berkembang dengan baik.

1. Perhatikan asupan gizi

Daya ingat merupakan bagian dari kognitif anak dan dipengaruhi oleh faktor fisiologis (fisik) dan lingkungan. Orangtua harus memerhatikan asupan makanan – berkaitan dengan perkembangan otak dan organ tubuh lainnya – mulai janin masih dalam kandungan hingga lahir. Jika dalam kandungan sudah bermasalah, maka akan memengaruhi perkembangan janin, khususnya otak. Baca lebih lanjut

Iklan

Memberi Contoh Membentuk Karakter


Memberi Contoh Membentuk Karakter

Memberi-Contoh-membentuk-karakterPSIKOLOG Universitas Indonesia Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono berpandangan, guru yang memberi contoh baik kepada murid-muridnya justru sudah membentuk karakter kepada anak didiknya itu, Pandangan itu mengemuka dalam diskusi yang dihelat Maarif Institute for Culture and Humanity di Jakarta beberapa waktu lalu.
Sarlito memberi contoh soal merokok. Dalam pengalaman Ketua Program Studi llmu Kepolisian Ul ini ternyata ada banyak guru yang merokok. “Sudah tahu kalau merokok itu dilarang, tapi masih saja dilakukan,” katanya dalam kesempatan tersebut.
Sarlito menambahkan lantaran merokok itu, pemeo “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” bisa lama-kelamaan pupus. “Sebagai gantinya ‘guru merokok sendiri, murid merokok sambil minum kopi’,” guraunya mengkritik.
Sementara, mengenai aksi tawuran pelajar dalam beberapa tahun terakhir yang mengalami peningkatan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, Sarlito menganggap kurang tepat apabila hal itu hanya diatasi dengan menambah jam pelajaran agama, pendidikan pancasila, dan budi pekerti. Sejauh ini tidak pernah ada bukti empirisyang menyebutkan kemampuan baca-tulis Alquran menjamin moral seseorang.
Faktanya, meski Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, untuk urusan korupsi, negara ini masih berada di urutan atas,” kata Sarlito. Baca lebih lanjut

Pengertian Pendidikan Karakter


Arti-pendidikan-karakterSobat GenerusIndonesia berikut kita kupas tentang maksud Pendidikan Karakter.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Terlepas dari berbagai kekurangan dalam praktik pendidikan di Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan pengembangan kurikulum (KTSP) dan implementasi pembelajaran dan penilaian di sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik. Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Baca lebih lanjut

Pendidikan Berkarakter oleh Guru Berkarakter


Pendidikan-karakter-Guru-SiswaKEMEROSOTAN moral yang terus terjadi di tengah masyarakat semakin mengkhawatirkan akan perkembangan generasi muda. Setiap hari ada saja perilaku yang menyimpang dari norma yang berlaku dari kebiasaan dalam masyaralakat. Balapan liar, tawuran, pencurian, komsumsi obat terlarang pergaulan bebas, merupakan sekelumit kisah yang sering terdengar dan sangat meresahkan kehidupan masyarakat.
Sebagai orang tua, siapa yang tidak khawatir melihat kondisi seperti ini. Akankah kita mempercayakan pendidikan anak-anak kita kepada lingkungan yang sudah sedemikian parah ini. Pertanyaannya kemudian, lalu siapa yang harus bertanggung jawab terhadap kemerosotan moral ini? Semua pihak seakan saling menunjuk untuk mempertanggung-jawabkan masalah yang sedang terjadi. Semua pihak-keluarga, sekolah, masyarakat mestinya ikut bertanggung jawab terhadap permasalahan moral generasi muda. Karena keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan elemen yang saling berhubungan satu sama lain dalam hal ini.
Keluarga terutama kedua orang tua adalah pihak yang pertama dan utama yang harus bertanggung jawab terhadap perkembangan moral anak. Pembentukan moral dimulai dari rumah dengan menanamkan nilai-nilai akhlak sejak anak masih dalam kandungan. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua di rumah sangat berpengaruh kepada perkembangan selanjutnya ketika bergaul dalam lingkungan pendidikan ataupun lingkungan masyarakat. Baca lebih lanjut

Mendidik Anak Berkarakter dan Bermoral


Mendidik Anak Berkarakter dan Bermoral

Siswa-pandai-berkarakter-Jika tidak ada aral, implementasi Kurikulum Pendidikan 2013 di tingkat satuan pendidikan secara bertahap akan dilakukan mulai awal tahun pelajaran pada Juli 2013. Kini berbagai persiapan sudah dilakukan, baik yang terkait dengan buku pegangan dan buku murid, pelatihan guru, maupun tata kelola di tingkat satuan pendidikan. Secara substansial, baik guru, orang tua, maupun siswa tidak ada yang keberatan terhadap*kurikulum 2013.
ADANYA perbedaan yang selama ini mengemuka diyakini Kemendikbud, cepat atau lam bat, akan selesai. Apalagi secara politis panitia kerja kurikulum di DPR, yang terdiri atas unsur-unsur fraksi, sebagian besar telah menyatakan menerima kurikulum 2013. Dua organisasi besar penyelenggara pendidikan di tingkat swasta pun, Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, tegas menyatakan siap mengimplementasikan kurikulum 2013.
Sementara, Wakil Presiden Boediono, dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini meminta agar pelaksanaan kurikulum jangan ditunda. Jika pelaksanaannya telat, yang rugi adalah peserta didik, anak bangsa yang kelak akan memimpin negeri ini, saat Kemerdekaan Indonesia memasuki usia 100 tahun pada 2045. Baca lebih lanjut

Pengertian pendidikan nonformal


Toga-PendidikanSobat GenerusIndonesia, yang dimaksud pendidikan nonformal adalah salah satu dari sekian banyak istilah yang muncul dalam studi kependidikan pada akhir tahun tujuh puluhan. Sudjana mengemukakan istilah-istilah kependidikan yang berkembang di tingkat internasional mulai saat itu yaitu:

  1. Pendidikan Sepanjang Hayat (Life Long Education)
  2. Pendidikan Pembaharuan (Recurrent Education)
  3. Pendidikan Abadi (Permanent Education)
  4. Pendidikan Informal (Informal Education)
  5. Pendidikan Masyarakat (Community Education)
  6. Pendidikan Perluasan (Extension Education)
  7. Pendidikan Massa (Mass Education)
  8. Pendidikan Sosial (Social Education)
  9. Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)
  10. Pendidikan Berkelanjutan (Continuing Education) (Sudjana, 2004).

Berbagai istilah tersebut kadang membingungkan orang yang mendengarnya atau mengacaukan konsep orang yang belum menelusuri maknanya. Namun istilah-istilah tersebut telah tumbuh dan berkembang menjadi kenyataan yang memperkaya khazanah pendidikan. Munculnya berbagai istilah pendidikan secara wajar dan luas, memberi arti bahwa pendidikan tidak hanya berbentuk kegiatan terorganisasi yang dilakukan di sekolah. Dengan kata lain, di samping adanya pendidikan di sekolah (pendidikan formal), berkembang pula pendidikan non formal dan pendidikan informal.
Konsep pendidikan nonformal muncul atas dasar hasil observasi dan pengalaman langsung atau tidak langsung. Hasil observasi dan pengalaman ini kemudian dibentuk sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaan ciri-ciri antara pendidikan nonformal dengan pendidikan formal. Baca lebih lanjut

Pendidikan Berkarakter (Character Education)


Character Building

pendidikan-karakterPendidikan ber-karakter, ini yang mungkin kadang sering terdengar oleh kita. Walaupun sepintas, inilah yang sering menjadi bahan perbincangan. Pendidikan karakter atau sering disebut pendidikan berkarakter  sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi juga dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan kini, peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga orang dewasa. Hal ini mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.

Bayangkan apa persaingan yang muncul dimasa yang akan datang? Pertanyaan besar yang tak akan bisa dijawab oleh siapapun. Istilahnya orang tua sekarang berkata “Sekarang saja sudah seperti ini tantangannya, bagaimana jaman anak cucu saya nanti ya, bisa survive ga ya mereka??” dengan nada lirih dan penuh tanda tanya. Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Baca lebih lanjut