Lebih 2 Jam Nonton TV Anak bisa Jadi Bodoh


Lebih 2 Jam Nonton TV Anak bisa Jadi Bodoh

Pengaruh negatif nonton TV buat Anak Balita

Pengaruh negatif nonton TV buat Anak Balita.

Sobat Generus Indonesia, anak balita yang terlalu lama menonton televisi dapat tertinggal dalam kemampuan berbicara dan berhitung. Lebih dari 2 jam menonton TV dalam sehari, seorang anak bisa jadi bodoh.
Penelitian terbaru juga menyimpulkan bahwa bagi bayi berusia dua tahun, setiap satu jam kelebihan menonton dari batas waktu dua jam menonton dapat mengakibatkan dampak negatif pada kemampuan akademiknya serta dia lebih berisiko di-bully.
Hal tersebut disebabkan mereka tidak cukup mampu mengikuti proses membesarkan diri karena masalah konsentrasi dan fisik yang tidak sehat bugar.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Montreal merupakan studi pertama yang menemukan hubungan antara terlalu banyak menonton televisi dan risiko bayi yang miskin keterampilan motorik serta bermasalah dalam psikososial.
Profesor Linda Pagani yang memimpin penelitian itu mengingatkan orangtua agar membatasi balita menonton televisi tidak lebih dari dua jam TV sehari.
Dia mengemukakan masalah dalam psikososial serta kurangnya kemampuan motorik gara-gara terlalu banyak menonton televisi bisa menjadikan anak di-bully oleh teman-temannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Televisi Politik dan Politik Televisi


Televisi Politik dan Politik Televisi

Politik+televisiSobat GenerusIndonesia, tahun 2013 adalah tahun politik. Begitulah pendapat para pemerhati politik di tanah air. Media massa juga berpendapat sama. Setidaknya hal itu terlihat dari pemberitaan yang mendominasi dalam kurun beberapa bulan terakhir, baik di media cetak dan media elektronik, bahkan dalam diskusi-diskusi di media sosial. Tiada hari tanpa politik.
Pendapat itu tentu ada benarnya. Tahun 2014 adalah tahun Pemilihan Umum (Pemilu). Diyakini, dunia perpolitikan tahun ini akan semakin memanas sebagai persiapan menuju tahun Pemilu 2014. Pertarungan paratokoh politik yang percaya diri dan juga berharap bisa tau diri akan bertarung dalam Pemilu 2014 pun semakin terbuka, terutama di media massa. Secara kasat rhata kita disuguhi oleh berbagai pemberitaan dan talkshow yang meng-ekspose pertarungan para tokoh politik itu, berikut bumbu-bumbu dalam bentuk manuverdan intrik politik di dalamnya.
Namun tanpa kita sadari, apa yang kita lihat, baca, dan dengar melalui media massa adalah merupakan hasil kerjajurnalis yang memindahkan realitas sesungguhnya menjadi realitas seperti apa yang kita nikmati ketika bersentuhan dengan media. Di tangan para jurnalis, redaktur, dan reporter-lad dunia di sekitar kita diolah di-‘assembling‘, menjadi replika dunia nyata atau pseudo environment sehingga informasi menjadi aktual, menghibur, menjanjikan, bahkan menghebohkan. Merekalah yang oleh Maxwell E. Combs dan Donald L. Shaw dalam bukunya “The Agenda Setting of The Press“, menyebutnya sebagai realitas tangan kedua atau “second hand reality“. Baca lebih lanjut

Kecanduan Games Anak – tingkat akut


Tips aman dan sehat bermain games

tips-aman-dan-sehat-bermain-game-Sobat GenerusIndonesia, perkembangan teknologi games yang semakin berkembang saat ini sudah merambah ke dunia anak-anak. Kesibukan orangtua, minimnya si anak berinteraksi secara langsung dengan teman di luar sekolah, dan mudahnya mengakses beragam permainan tersebut bisa dikatakan sebagai penyebab mereka lebih asyik dengan perangkat tersebut. Tak sekadar dipakai untuk mengisi waktu luang, games telah menjadi candu bagi beberapa anak.
Dipaparkan artis yang belakangan aktif menjadi pembicara seminar, Astri Ivo, saat ini tingkat kecanduan anak-anak terhadap games menunjukkan gejala akut. “Banyak anak-anak yang keranjingan games hingga malas sekolah,” paparnya dalam seminar pendidikan Cara Cerdas Atasi Kecanduan Games pada Anak (10/4).
Menurut Astrie, kemudahan mengakses teknologi informasi memang membuat anak-anak mendapatkan pengetahuan lebih cepat. Namun, ada juga sisi negatifnya. Salah satunya, kemudahan mengakses konten yang memuat pornografi.
Dalam seminar yang dihelat Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU tersebut, perempuan berjilbab itu menuturkan bahwa games dibagi menjadi dua. Yaitu, games yang mengakibatkan dampak negatif dan postif. Pengaruh negative muncul bila games diakses berlebihan dan membuat anak berkelakuan di luar batas umurnya. Games dengan dampak positif memiliki muatan edukatif, menjadi hiburan, dan mengandung hal positif lain.
Lantas, bagaimana cara mengurangi kecanduan games pada anak? Dia menerangkan, anak-anak harus didampingi dalam setiap kegiatan. “Pokoknya, setiap hari harus ada komunikasi dengan anak-anak,” ujar Astrie. Baca lebih lanjut

Dampak Game terhadap Anak


Anak Kecanduan game

Anak kecanduan game online.

Sobat GenerusIndoonesia, coba sobat renungkan pernahkah kita bertanya secara spesifik kenapa anak dan remaja bahkan orang dewasa kecanduan game? Mungkin jawaban sederhananya adalah game itu mengasyikan dan seru-seru model permainannya. Sekilas jawabannya baik dan masuk akal. Tetapi yang berkembang belakangan ini game sudah lebih jauh dari sekedar seru dan asyik. Ada apa disana dan kenapa lebih asyik? Karena sekarang disana ada kehidupan dan dunianya sendiri, atau mudahnya ada “alamnya” sendiri.
Kita akan pelajari kenapa anak dan remaja begitu kerajingan sesuatu yang namanya game, dan apa dampak bahaya secara psikologis dan masa depan anak bangsa.
Banyak orangtua mengeluh dan sudah tidak berkutik jika anaknya sudah nyandu yang satu ini. Disatu sisi orangtua juga ada enaknya, pada saat anak mereka main game mereka memilki waktu untuk diri sendiri dan seakan bisa bebas dari tugas dan rutinitas terhadap konsekuensi mengurus tugas anak. Tetapi tahukah bahwa ternyata ada banyak “alam” yang berbahaya di alam game dan itu nikmat bagi anak.
Baiklah kita pahami apa yang terjadi di alam dunia game, di alam ini sobat yang bukan siapa-siapa bisa menjadi siapa-siapa. Maksudnya jika sobat di dunia nyata sobat adalah orang yang biasa, anak yang sekolahnya bermasalah dan kehidupan di dunia nyata bermasalah, bisa berubah total jika sobat memainkan peran di alam Game. Baca lebih lanjut

Menanamkan Anti Kekerasan dari Rumah


Menanamkan Anti Kekerasan

Keluarga seharusnya berperan penting untuk membentengi anak agar tidak terjerumus ke dalam tindakan kriminalitas termasuk tawuran. Sayangnya, belum semua keluarga menyadari peran penting ini.

Menanamkan-anti-kekerasan-dari-rumah-dari-pengaruh-TVMenteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Sari Gumelar mengatakan hal ini menanggapi kekerasan antarpelajar di Jabodetabek yang kian marak dan menakutkan. Sebelumnya, Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat lonjakan angka tawuran dari 128 kasus pada 2010 menjadi 339 kasus di 2011. Sejumlah 82 orang meninggal akibat tawuran. “Karena kesibukan yang padat dan kemajuan teknologi, orang sering kali lupa dengan orang lain, termasuk anak-anak mereka. Anak selalu menjadi korban,” ujar Linda, Rabu (21/12).
Kemajuan teknologi yang dimaksud Linda adalah ketika orang menjadi sibuk dengan gadget mereka. Keasyikan berinteraksi di dunia mayajustru mengurangi kualitas komunikasi orang-orang yang hadir secara fisik. Selain itu, tayangan kekerasan di televisi juga memengaruhi anak. Belum lagi bila anak juga terbiasa melihat orangtua mereka bertengkar dan terjadi kekerasan fisik.
Kalau anak terus-menerus menyaksikan kekerasan, mereka beranggapan bahwa kekerasan ini merupakan hal biasa. Akhirnya, anak meniru juga melakukan kekerasan, termasuk tawuran,” papar Linda. Baca lebih lanjut

Mewujudkan Televisi sebagai Media informasi yang Ramah untuk Anak


Televisi dan Anak

Televisi-dan-anakTelah kita ketahui bersama bahwa televisi kini merupakan salah satu media yang populer dan diminati masyarakat kita. Bayangkan saja, dari tingkat ekonomi masyarakat yang rendah hingga tingkat atas menggunakan media ini. Arus informasi yang cepat, aktual, dan langsung dilihat titik lokasi kejadian peristiwanya, membuat media ini paling digemari.

Perkembangan televisi pun bukan suatu hal yang tergolong baru jadi. Jumlah stasiun televisi yang beragam menjawab semua pertanyaan tentang begitu cepatnya perkembangan media ini. Termasuk media informasi yang hangat dan aktual awalnya, menjadi stasiun televisi yang memiliki informasi komplit, mulai dari selebriti, asmara, dakwah, telenovela/drama dengan berbagai macamnya, film, musik, hiburan, hingga berita. Baca lebih lanjut

Kekerasan dari Ruang Keluarga (Pengaruh TV)


Pengaruh TV

TelevisiTelevisi memang bukan kotak Pandora penyebar wabah dan teror di muka bumi ala mitologi Yunani. Tapi, efek televisi, mungkin hanya bisa dikalahkan oleh kotak pandora. Para ilmuwan komunikasi tak melihat televisi sebatasalat menghiburdiri bagi keluarga. Persoalannya menjadi lebih kompleks, dari sekadar tertawa melihat film kartun atau turut mengharu biru seperti kisah sinetron.
Tahukah Anda, televisi pelan tapi pasti mengambil peran guru di sekolah dan orangtua di rumah dalam hal menanamkan nilai dan pembentukan karakter. Percaya atau tidak. Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam penelitiannya menyebut, anak-anak menyaksikan televisi sekitar 5,8 jam sehari. Bila hari Sabtu dan Minggu, kuantitasnya bertambah menjadi 8 jam.
Padahal, tak semua yang ditayangkan televisi bisa memberikan hal yang bermanfaat. Alih-alih pendidikan, yang didapat justru anak-anak kita menjadi agresif, konsumeris, bahkan dewasa sebelum waktunya. Sebab, pada dasarnya industri penyiaran adalah sama halnya industri lainnya, mereka mengejar laba. Bedanya, mereka mengejar laba di frekuensi yang dimiliki publik, yang bisa saja gratisan. Namun untuk membiayai ongkos produksi mereka mengikuti selera pasar. Baca lebih lanjut