Arogansi Jalanan


Arogansi Jalanan

Arogansi Jalanan

Sobat Generus Indonesia, masyarakat Indonesia mengalami peningkatan bidang ekonomi di Indonesia ini dibuktikan dengan banyak kalangan kelas menengah yang mampu memiliki kendaraan pribadi sendiri. Namun peningkatan kemampuan finansial ini tidak diimbangi dengan perbaikan kesadaran para pengendaranya. Kemacetan yang bikin stress makin menjadi karena jumlah kendaraan bertambah banyak, membuat para pengendara jadi senewen sendiri dan menumpahkan kekesalannya itu di jalanan. Saling serobot antar mobil, motor, dan angkutan umum sudah menjadi pemandangan umum di beberapa daerah di Indonesia. Di Jakarta, macet adalah makanan sehari-hari yang wajib dan kudu dinikmati. Andaikata jalanan lagi sepi. Akan banyak pengendara yang ngomong: coba Jakarta tiap hari kayak gini, kan enak.
Jalanan di Jakarta sudah dihuni para pendekar jalanan yang membawa arogansinya sendiri-sendiri. Motor main selap-selip tanpa melihat apakah ketika nyelip itu motornya tidak akan terkena mobil. Yang paling sering menjadi korban adalah spion mobil. Dan para pengendara motor itu terkadang tidak meminta maaf kepada pengendara mobil, dan main slonong boy aja. Baca lebih lanjut

Iklan

Makna Kebangkitan Nasional Bagi Generasi Muda


Makna Kebangkitan Nasional Bagi Generasi Muda

Prof Dr Hazairin,  Direktur Primagama Homeschooling Palembang (Sumber: beritapagi.co.id)

Prof Dr Hazairin,
Direktur Primagama Homeschooling Palembang (Sumber: beritapagi.co.id)

“Seratus tahun lebih yang lalu, tanggal 20 Mei digalang kekuatan oleh para pemuda di wilayah nusantara ini untuk menyatukan tekad bangkit dari keadaan sebagai negeri terjajah. Kemudian setiap tanggal 20 Mei dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional.”
RENTETAN perjuangan dengan gelimang perngorbanan yang tak terhitung berujung pada tercapainya tujuan merdeka pada 17 Agustus 1945 lalu. Dengan kemerdekaan ini, cita-cita kebangkitan nasional sudah tercapai. Lalu bagaimana dengan kondisi saat ini, apakah pesan dari ‘Hari Kebangkitan Nasional’ sudah benar-benar terwujud di segala lini kehidupan Bangsa Indonesia?
Tentu salah satu indikator penilaian, tidak akan terlepas dari kondisi dunia pendidikan kita sendiri. Apakah dunia pendidikan sudah benar-benar sesuai dengan yang diharapkan atau belum. Lalu bagaimana dengan para pelajar, mahasiswa, dan generasi muda dalam memaknai Hari Kebangkitan Nasional ini?
Menurut Kepala Disdikpora Palembang Pak Riza Fahlepi, sama halnya dengan Hari Pendidikan, pelajar dan generasi muda harus memaknai Hari Kebangkitan Nasional dengan bangkit untuk mencapai prestasi yang gemilang. Dengan kata lain, harus bangkit dari keterpurukan dan menyongsong masa depan dengan memperbaiki, meningkatkan, atau mempertahankan prestasi yang sudah ada.
Selain itu, pelajar dan generasi muda juga harus bisa menjawab tantangan di zaman yang serba canggih ini, bisa mengikuti perkembangan teknologi dan turunannya. Begitu juga dengan kemajuan pembangunan fisik berupa sekolah dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai pelosok daerah, menandakan pesan kebangkitan nasional di bidang pendidikan mulai tercapai. Di Sumsel, pemerataan dunia pendidikan terus dilakukan dengan memberikan fasilitas fisik dan teknologi sampai ke pelosok di kabupaten/kota. Baca lebih lanjut

Perspektif dan refleksi hari kebangkitan nasional


Perspektif & refleksi Kebangkitan Nasional

Monumen Kebangkitan Nasional di Solo

Monumen Kebangkitan Nasional di Solo (gambar: Wikipedia)

Sobat GenerusIndonesia, Selalu ada moment special yang diperingati untuk mengenang masa lalu sebagai bahan refleksi diri.
Seperti seratus empat tahun yang lalu, ketika tokoh pergerakan nasional Dr Soetomo, dr Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara yang tidak pernah tahu secara pasti kapan Indonesia akan merdeka. Namun mereka ketiga tokoh yang terkenal dengan sebutan Tiga serangkai itu tahu bahwa pintu gerbang kemerdekaan pasti akan tiba. Yang harus terus dilakukan adalah bagaimana terus menggelorakan semangat kemerdekaan. Itulah yang membuat mereka kemudian mendirikan Boedi Oetomo.
Hanya dengan keyakinan yang kuat akan Indonesia bangkit, maka cita-cita besar itu akan bisa diraih. “We are what we think we are,” kata pepatah Inggris. Apa yang kita pikirkan, maka itulah yang kelak akan terjadi.
Hingga tiga puluh tujuh tahun setelah digulirkannya pergerakan “Boedi Oetomo”, barulah tercapai sebuah Indonesia Merdeka. Apa yang menjadi cita-cita para tokoh bangsa itu, terjadi ketika Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Hari ini cita-cita yang ingin kita capai tentu bukan lagi merdeka. Namun, perjuangan yang harus kita terus gelorakan untuk membawa Indonesia bangkit agar tidak kalah dari bangsa-bangsa lain. Namun, yang lebih di utama yakni: tercapainya dulu kehidupan yang lebih baik kepada seluruh rakyat Indonesia (kalau istilah sejahtera masih di anggap fatamorgana)
Walau, sebenarnya seluruh rakyat bangsa ini memungkinkan sejahtera sesuai dengan cita-citanya. Yang dibutuhkan hanyalah kepedulian bahwa kita harus maju bersama-sama. Tidak boleh ada di antara kita yang serakah dan mau hidup berkelimpahan sendiri saja Baca lebih lanjut