Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran


Tawuran

Faktor-yang-menyebabkan-terjadinya-tawuran

Kali ini GenerusIndonesia akan menjelaskan beberapa Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran. Kejadian ini adalah suatu hal yang sering atau bahkan biasa kita dengar, seakan–akan Tawuran ini sudah menjadi budaya di antara para pelajar. Sampai-sampai terjadi korban jiwa. Dan sungguh sadis, tawuran kali ini bukan hanya dengan main tangan, tetapi lebih dari itu menggunakan senjata tajam.

Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Tawuran

Sebenarnya ada beberapa faktor yang kami amati sebagai penyebab tawuran, yaitu kami bagi menjadi faktor internal maupun eksternal.

Faktor Internal Baca lebih lanjut

Iklan

Melawan Kekerasan dari Balik Bangku Kelas


Melawan Kekerasan

Institusi pendidikan digadang-gadang menghasilkan generasi penerus bangsa dan negara. Namun antara prestasi dan kekerasan berjalan bersama

Melawan-Kekerasan-dari-balik-bangku-sekolahAmerika Serikat boleh menghadapi teror yang mengerikan. Bukan dari jaringan Alqaida ataupun ancaman Iran, Hizbullah, atawa jaringan teror lainnya. Tapi dari dalam negeri. Di April 2007, seorang mahasiswa di Seung Hui Cho menembaki 32 orang di Universitas Virginia Tech, yang menewaskan 15 orang dan melukai sisianya.
Itu belum cukup. 30 orang tewas, di antaranya 20 anak-anak SD Sandy Hook, Conecticuf, akibat aksi Ryan Lanza. Yang berakibat pemerintah AS membentuk Satuan Tugas Pengurangan Senjata Api, yang merekomendasikan pedagang senjata harus mengetahui rekam jejak pembeli, tanpa kecuali. Di Indonesia kekerasan di sekolah bekerja dalam bentuk lain, yang tak kalah mengerikan. Perpeloncoan di SMA, tawuran antar pelajar, hingga tawuran antar mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Baca lebih lanjut

Menggunting Budaya Kekerasan


Gunting Budaya Kekerasan

Setiap zaman menghasilkan budaya kekerasan. Manusia di abad modern lebih sedikit melakukan kekerasan, namun kualitas kekerasannya tidak jauh berbeda.

Tawuran-Pelajar-Mahasiswa-Batu itu tiba-tiba melayang, dan tarrr!  Kaca taksi yang Kami tumpangi retak, tepat, saat membelok di Jalan Diponegoro di pertigaan gedung bioskop Megaria, Jakarta Pusat. Tawuran antara kampus di wilayah itu seperti penyakit menahun. Seperti membudaya dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Di bawah pengawasan kepolisian – yang tak bisa bertindak apa-apa-kecuali melokalisir daerah “pertempuran” kekerasan antar pelajar itu tak hanya saling timpuk. Samurai berkelebat-kelebat di antara derap lari saling kejar. Rantai yang ujungnya dipasang gir, berputar-putar menciptakan angin maut, di antara wajah-wajah penuh marah. Baca lebih lanjut