Memahami Dinamika Bangsa melalui Sejarah


Memahami Dinamika Bangsa melalui Sejarah

Prof. Dr. Taufik Abdullah

Prof. Dr. Taufik Abdullah

Prof. Dr. Taufik Abdullah

Sobat Generus Indonesia, kisah cinta yang melankolis dan romantic ternyata tidak hanya dimiliki Habibie – Ainun, yang beberapa waktu lalu difilmkan. Tetapi juga oleh sejarawan Taufik Abdullah dan istrinya, Rasidah. Kalau kisah cinta Habibie – Ainun, yang membuat banyak orang berdecak kagum ini, diawali sebagai keluarga baru di Jerman, kisah romantic Taufik Abdullah – Rasidah terjadi saat mereka berada di Amerika Serikat.

PADA tahun 1964, sebulan sebelum berangkat ke Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat, untuk meraih master dan doktornya, Taufik menikah dengan gadis idamannya Rasidah. Tetapi rupanya, ia tak bisa membawa serta Rasidah untuk “berbulan madu” di Amerika. Ia boleh membawa serta istri asalkan membuktikan selama setahun meraih nilai bagus. Dan usaha Taufik berhasil. Mereka memadu kasih dan membina rumah tangga berdua di Amerika Serikat. Anak pertama pun lahir di sana.

Selama kuliah di Amerika, Taufik memang tidak bekerja untuk menambah keuangan keluarga. Tetapi sang istri Rasidah yang bekerja. Berbeda dengan istri Habibie, Ainun, yang bekerja sebagai dokter anak ketika di Jerman, Rasidah bekerja di perpustakaan. Waktu itu, sebagai mahasiswa penerima beasiswa 100 persen, Taufik mendapat tunjangan sebesar US$300. Ketika ada istri, ia mendapatkan tambahan 50 persen sehingga menjadi US$450 dan ketika anak lahir, ia dapat lagi tambahan 25 persen, sehingga total US$525.

Bagaimana kisah romantisnya di sana? Taufik sebenarnya biasa saja membentuk keluarga. Kenangan yang paling indah Taufik-Rasidah adalah ketika sebelum pulang ke Jakarta pada 1967. Yaitu ia berkeliling 10 kota di dunia selama 40 hari. Dari mana uangnya? Rupanya, setiap tahun ia mendapatkan tunjangan perjalanan US$400 dan itu dikumpulkan selama tiga tahun, sehingga terkumpul menjadi US$1.200.

Kota yang mereka kunjungi pertama kali adalah Washington DC, New York, kemudian London. Di London, Taufik bertemu dengan profesornya dan kena marah, karena ternyata hotel tempatnya menginap adalah hotel mewah dan mahal.

Setelah dari London, ia terbang ke Belanda, Paris, Roma, Kairo, Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan tiba di Jakarta. Kurang lebih selama 40 hari itu, uangnya dihabiskan semua. Taufik merasa beruntung bisa keliling dunia saat itu. Sebab, di masa peralihan orde lama ke orde baru, seseorang sulit untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.

Taufik Abdullah lahir ketika masih zaman Hindia Belanda di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, tepatnya 3 Januari 1963. Ia menempuh pendidikan sarjananya di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada 1961.

Ia memilih sejarah karena ingin bekerja dan baru serius menekuninya ketika sudah kuliah. “Saya sengaja memilih sejarah. Waktu itu kan orang-orang penuh idealisme,bermacam-macam pilihannya,” katanya kepada sebuah media.

Mahasiswa sejarah kala itu tak begitu banyak. Apalagi yang mengambil mata kuliah Sejarah Pemikiran Politik Eropa. Ia sempat menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Sejarah Eropa. Dosen-dosennya berasal dari luar negeri yaitu Inggris, Amerika Serikat, India, dan Belanda. Makanya skripsinya pun ditulis dalam bahasa Inggris.

Ketika ditanya, apakah itu atas inisiatif sendiri atau memang aturannya seperti itu? Taufik menjawab, karena dosennya tahunya bahasa Inggris. “Jadi terpaksa,” ujarnya.

Keinginan untuk studi ke luar negeri memang diniati Taufik sejak lama. Ia sempat marah ada dua mahasiswa yang dikirim ke Eropa waktu itu. Taufik pun berusaha ingin mengalahkan mereka. Mimpi itu akhirnya dia dapatkan juga, kini ia malah lebih banyak ke luar negeri di bandingkan teman lainnya.

Ia sering mengikuti seminar di luar negeri. Dia pernah dalam setahun sampai 12 kali pergi ke beberapa kota di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Di Universitas Cornell, ia mengambil disertasinya “School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra” (1970) dan diterbitkan oleh Universitas Cornell setahun kemudian. Selain jalur formal, dia juga mengikuti program East-West Centre di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat.

Taufik mengawali karir sebagai peneliti di sejak 1962 sampai akhirnya menjadi Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2000-2002). Ia banyak menulis karya-karya ilmiah sosial, seperti Indonesia Towards Democracy (2009), Sejarah Umat Islam Indonesia (2003), Islam dan Pluralisme di Asia Tenggara (1996), Sang Jenderal (1991), Sejarah Umat Islam Indonesia (1991), dan lainnya.

Di luar negeri, ia lebih dikenal sebagai peneliti sosial dan sebagai antropolog dibandingkan sejarawan. “Tulisan pertama saya di luar negeri bersifat antropologi,” katanya.

Ia juga menjadi peneliti di Departemen Ilmu Politik Universitas Chicago, Universitas Wisconsin dan Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science (NIAS) Wassenaar. Sekarang ia masih menjabat sebagai Direktur Cendekiawan Publik Asia.

Pada 2009 lalu, ia mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia. Selain itu, Penghargaan Achmad Bakrie bidang pemikiran sosial pada 2008. Juga, Fukuoka Asian Cultural Prize pada 1991.

Baginya semua ilmu adalah penting, tapi sejarah memiliki tempat tersendiri. Ia mengatakan, melalui sejarah seseorang bisa memahami bagaimana dinamika suatu peristiwa dan bangsa. “Kenapa Eropa bisa menguasai dunia. Juga bagaimana pengaruh Islam terhadap Eropa,” katanya.

Di usianya 77 tahun, Taufik masih terlihat bugar. Terkahir, ia mengisi acara di peluncuran buku Todung Mulya Lubis. Ia juga masih aktif di Akademi Jakarta dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Ia mengaku tak menghindari banyak makanan, meski memiliki masalah tekanan darah tinggi. “Kalau soal makanan semua yang halal saya makan. Tapi sekadarnya, tidak berlebihan,” katanya.

Apa resepnya masih terlihat bugar? “Saya tidak tahu, itu karunia Allah saja,” katanya. Namun, ia dulu suka bermain tenis, tapi dokter kemudian melarangnya karena ada tekanan darah tinggi. “Kemudian saya teratur jalan kaki setiap pagi, ya setengah jam sampai satu jam,” ujarnya.//**(beritanuansa.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s