Pengetahuan dan Kekuasaan


Pengetahuan-dan-kursi-kekuasaan-Sobat GenerusIndonesia, hubungan antara Pengetahuan dan Kekuasaan saling bersinergi dan saling menguatkan. Orang sepintas akan memandang bahwa dalam proses perkembangan Pengetahuan adalah memuat usaha mencari kebenaran absolut pada dirinya. Atau usaha murni mencari apa yang dinamakan kebenaran yang obyektif dan absolut atau mutlak. Sehingga dapat diyakini sebagai kebenaran dan ramai-ramai dianut oleh masyarakat luas. Bertitik tolak pada pandangan Nietzsche, Pengetahuan adalah kehendak manusia untuk berkuasa. Hakikat Pengetahuan adalah untuk menundukan sesuatu. Kehendak mengetahui adalah kehendak untuk menguasai (Hardiman, 2004). Sobat GenerusIndonesia, coba kita perhatikan dalam proses perkembangan Ilmu Alam (Sains), dengan prosedur-prosedur metodologis ilmu-ilmu alam ia berusaha merumuskan hukum-hukum, rumus-rumus, skema-skema dan konsep-konsep pada kenyataan yang pada hakikatnya senantiasa berubah merupakan upaya manusia menguasai alam.

Hal ini pun diungkapkan oleh Francis Bacon, yang terkenal dengan semboyannya yakni “Knowledge is Power”. Bahwa alam hanya bisa dikuasai kalau manusia mematuhiya dengan cara memahami hukum-hukumnya, mempelajari sifat-sifatnya dan pengecualian-pengecualiannya (Hardiman, 2004). Kepatuhan manusia atas alam sebenarnya hanya tipu muslihat untuk menguasainya. Dengan menaklukan alam, manusia bisa memanfaatkan alam demi kepentingannya, terbukti dengan pesatnya perkembangan Sains dan Teknologi dibarengi dengan perkembangan hidup manusia. Bukankah itu sebuah kehendak untuk menguasai demi kepentingannya? Sangat sulit dipahami dan omong kosong ketika ilmu alam mengatakan dirinya obyektif dan bebas nilai. Bahkan terlihat jelas dengan sifatnya yang otoriter dan mutlak dalam ilmu alam merupakan simbol upaya penundukan dan penjinakan.

Nietszche pun mengatakan bahwa Pengetahuan bekerja sebagai instrumen Kekuasaan (Hardiman, 2004). Sobat GenerusIndonesia,coba kita amati kembali, Pengetahuan tumbuh pesat bersamaan dengan bertambahnya Kekuasaan. Terbukti setelah ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat di Barat pada masa Aufklarung dengan banyaknya penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin cetak dan benua baru memicu adanya Revolusi Industri di Inggris dan Perancis sebagai awal Kapitalisme naik tahta. Disini dibarengi pula, meluasnya penjajahan Negara atas Negara. Ekspansi kekuasaan imperium Negara-negara Eropa semakin bertambah dan meluas. Disini ilmu pengetahuan berbalik menguasai manusia. Sains dan Teknologi yang pada awalnya berpandangan dengan hadirnya kemajuan teknologi modern, telah menghantarkan manusia pada pola hidup yang serba mudah, makmur dan sejahtera.

Justru manusia mengalami keterasingan, ketika laju kemajuan sains dan teknologi sudah dimulai ketika manusia berorientasi pada sains dan teknologi itu sendiri. Keterasingan manusia dikaitkan dengan proses industrialisasi yang semakin menempatkan harkat manusia yang semakin tidak dihargai. Manusia lebih dipandang sebagai obyek, bukan sebagai subyek. Kerja bukan dilihat sebagai ekspresi kemanusiaan tapi justru diubah menjadi komoditas kapitalistik belaka.

Bukan hanya itu, paradigma ilmu-ilmu alam menularkan diri pada paradigma ilmu yang terkait dengan manusia seperti ilmu sosial, ilmu politik dan Ilmu Pendidikan. Dalam Ilmu Pendidikan yang dipahami dalam paradigma ilmu alam ini mengakibatkan siswa dipandang sebagai obyek belaka. Yang menganggap siswa seperti benda mati, seperti sel-sel, atom-atom dalam laboratorium sang profesor yang dapat dikontrol, dimanipulasi dan dibentuk sesuai kehendaknya. Siswa harus rutin diberi rangsang (stimulus) atau perlakuan (treatment) serta harus dikontrol oleh berbagai variabel sehingga respon siswa akan baik sesuai dengan stimulus yang diberikannya. Seolah-olah fakta yang muncul adalah sesuatu yang obyektif bersih dan bebas nilai.

Pendidikan pun bersifat “Doktrinasi” dari guru kepada siswa. Bahkan sudah menjadi kepercayaan umum bahwa satu-satunya bentuk pengetahuan yang benar adalah pengetahuan ilmiah atau apa yang disebut saintisme. Terdapat dominasi tafsir atas kebenaran oleh saintisme. Disinilah ilmu pengetahuan menjadi “Ideologi” yang terselubung. Ilmu Pengetahuan berusaha keras mengubah hakikat kenyataan yang sebenarnya dinamis menjadi statis. Ini tak kurang sebagai usaha penaklukan.
Disinilah Ilmu Pengetahuan manjadi “mitos” akan kebenaran absolut. Fakta dipahami sebagai Fakta mati yang siap diterapkan dimanapun, oleh siapapun dan kapanpun. Manusia persis dianggap seperti Zat mati, seperti Karbon jika dicampur dengan Oksigen akan menjadi Karbondioksida dimanapun, kapanpun dan oleh siapapun. Ini sebagai proses dehumanisasi dunia modern. Kritik ini disampaikan oleh Mazhab Frankfurt dalam buku Dialektika der Aufklärung terhadap rasionalisme Barat yang mendasari praktek-praktek totalitarianisme modern. Kritik atas Positivisme yang menjadi kesadaran manusia modern. Dimana masyarakat modern mengalami dehumanisasi yang hebat melalui Rasio atas Rasio manusia itu sendiri.(Arjuna Putra Aldino)

Sumber: pedagos.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s